Posdaya Senjata Utama Hadapi Perang Proksi

JAKARTA (TERBITTOP.COM)- Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang digagas Pembina Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dinilai sebagai senjata utama untuk menghadapi perang proksi atau proxy war, yang saat ini telah berlangsung dan sedang dihadapi bangsa ini. “Ini perang yang tidak tembak-tembakan, tapi perangnya dengan kekuatan yang lunak. Apalagi dengan kemajuan teknologi dan dunia maya. Yang […]

pak biakto buka ost angkt 109JAKARTA (TERBITTOP.COM)- Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang digagas Pembina Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dinilai sebagai senjata utama untuk menghadapi perang proksi atau proxy war, yang saat ini telah berlangsung dan sedang dihadapi bangsa ini.

“Ini perang yang tidak tembak-tembakan, tapi perangnya dengan kekuatan yang lunak. Apalagi dengan kemajuan teknologi dan dunia maya. Yang diserang adalah, bagaimana ideologi suatu negara bisa dihilangkan. Ideologi bangsa kita, kalau bisa diganti,” kata Dr (HC) Subiakto Tjakrawardaja,
Ketua yang baru dari Yayasan Damandiri saat membuka Observation Study Tour (OST) angkatan yang ke-109 di Haryono Suyono Center, Jakarta, belum lama ini.

OST diikuti peserta dari SKPD Kabupaten Tegal, Tim PKK Kabupaten Tegal, dan Dharma Wanita se-Kabupaten Tegal, Jawa Tengah yang dipimpin Ny Nurlela Enthus Susmono, istri Bupati Tegal.

Lainnya yang diserang dengan kekuatan lunak ini adalah mindset, mental, dan perilaku. Bangsa ini juga telah dirusak dengan peredaran narkoba, demikian pula dengan kampanye yang dilakukan kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Dari sisi pangan, bangsa Indonesia diserang begitu rupa sehingga mengalami ketergantungan pangan dari dunia luar. Pun begitu dengan energi. “Padahal, yang terpenting bagi suatu bangsa adalah ketersediaan pangan dan energinya,” kata Dr (HC) Subiakto.

jadi, hingga detik ini tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia bukan bertambah ringan tapi bertambah berat. Jadi lebih dari sekadar bagaimana mengatasi kemiskinan yang jumlahnya cukup besar, dan bukannya berkurang tapi malah bertambah. Apalagi, di tengah kondisi perekonomian yang
saat ini semakin melemah, dan kemungkinan di tahun 2016 akan bertambah lemah.

Penduduk yang tadinya sudah agak sejahtera, menjadi miskin karena harga kebutuhan bahan pokok sudah naik. Kondisi kemiskinan saat ini, lebih memberatkan karena tidak seperti dulu. Waktu itu tantangannya adalah bagaimana untuk bisa hidup sejahtera. Tapi sekarang, ada suatu
kondisi lingkungan, yang lebih berat dari itu. Karena, adanya perang proksi tersebut.

“Jelas, konsep Posdaya yang digagas Pak Haryono menghadapi tantangan yang cukup besar dan sebetulnya lingkungan kita saat ini tidak sejalan paralel dengan semangat Posdaya itu sendiri,” tambah Dr (HC) Subiakto.Posdaya yang digagas Prof Haryono sekitar enam tahun lalu itu, dalam rangka menghadapi tantangan-tantangan bangsa. Di samping, ada program yang dinamakan Millennium Development Goals (MDGs) yang merupakan kesepakatan negara-negara anggota PBB, diteruskan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang saat ini telah bergulir.

Gagasan yang visioner itu, ternyata sangat tepat untuk menghadapi Perang Proksi. “Posdaya inilah, kata kunci untuk menangkal proxy war itu. Posdaya itu adalah senjata utama untuk menghadapi proxy war. Karena, Posdaya yang digagas Pak Haryono ini adalah suatu organisasi yang bisa membangkitkan kembali partisipasi masyarakat yang dilandasi semangat gotongroyong,” tegas Dr (HC) Subiakto.Gotongroyong ini merupakan esensi dari Pancasila, dan menjadi kata kunci menghadapi tantangan bangsa termasuk di dalamnya adalah proxy war.

Jadi, kehadiran para peserta OST dari Kabupaten Tegal, untuk mendalami Posdaya merupakan langkah yang benar. “Hasil dari OST ini akan bermanfaat bagi pemberdayaan keluarga-keluarga miskin di Kabupaten Tegal. Namun juga dibutuhkan percepatan-percepatan dalam menghadapi tantangan
global, yang sesungguhnya kita belum siap menghadapinya,” pungkas Dr (HC) Subiakto.

Peningkatan Kualitas Posdaya. Sementara itu, Prof Haryono Suyono memuji kemajuan Posdaya yang ada di Kabupaten Tegal. “Karena, Tegal ini tidak saja membuat dan mengisi Posdaya biasa, tetapi Tegal ini telah kita tingkatkan menjadi salah satu dari 20 Posdaya rujukan nasional pada ulang tahun Yayasan Damandiri ke- 20. Untuk itu, Tegal siap-siap untuk menerima rombongan kader Posdaya dari daerah lain yang akan berlatih,” kata Prof Haryono.

Terkait dengan posisinya sekarang di Yayasan Damandiri, Prof Haryono menyatakan ia akan menjadi ‘pendito’ dalam arti memberikan perhatian
pada peningkatan kualitas Posdaya yang telah ada. “Urusan adminstrasi saya serahkan kepada Pak Subiakto yang beberapa tahun lebih muda dari saya,” kata Prof Haryono yang disambut aplaus peserta OST.Prof Haryono juga memperkenalkan beberapa pengurus Yayasan Damandiri kepada para peserta OST.

Yang hadir antara lain Direktur Pelaksana Harian Yayasan Damandiri Dr Moch Soedarmadi, kemudian Direktur yang mengurusi usaha-usaha yakni Dr Sutarto Alimoeso MA, juga Penanggung jawab Pelatihan Yayasan Damandiri Dr Fauzan Al Fikri SH MKM, dan Deputi Direktur Umum Dr Mulyono Dani Prawiro.

“Posdaya di Tegal ini, harus menampung kelompok dari berbagai bangsa, dari Prancis dan beberapa negara lain. Permintaan sudah mulai mengalir dan oleh karena itu saya sekarang berkonsentrasi untuk mulai menampung permintaan yang meluas,” kata Prof Haryono, yang kemudian memberikan pembekalan materi tentang Posdaya kepada seluruh peserta OST angkatan kee-109 itu. (*)

Petakan Keluarga Desa Secara Benar

CIREBON-(TERBITTOP.COM)-Deputy Direktur Bidang Kewirausahaan Yayasan Damandiri Dr Mazwar Noerdin mengatakan, pendataan dan pemetaan KKN Tematik Posdaya dilakukan terhadap setiap keluarga, bukan masyarakat, bukan individu dan bukan desanya. Melalui pendataan akan diketahui ada berapa banyak keluarga yang berada di wilayah Posdaya. Misalnya 100 keluarga ada berapa keluarga yang masuk keluarga prasejahtera. Itu keluarga yang belum mampu […]

mazwar nurdin di unswagatiCIREBON-(TERBITTOP.COM)-Deputy Direktur Bidang Kewirausahaan Yayasan Damandiri Dr Mazwar Noerdin mengatakan, pendataan dan pemetaan KKN Tematik Posdaya dilakukan terhadap setiap keluarga, bukan masyarakat, bukan individu dan bukan desanya. Melalui pendataan akan diketahui ada berapa banyak keluarga yang berada di wilayah Posdaya. Misalnya 100 keluarga ada berapa keluarga yang masuk keluarga prasejahtera. Itu keluarga yang belum mampu memenuhi kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, papan, pendidikan. Biasanya dipetakan dengan warana merah.

“Dengan peta pendataan tersebut maka kita akan tahu, mahasiswa, kader-kader Posdaya,Ketua RT, RW, lurah akan tahu persis mana keluarga-keluarga yang masih bermasalah dalam bidang pangan,sandang, papan serta pendidikan serta kesehatan,”ungkap Dr Mazwar Noerdin dalam pengarahan dihadapan peserta KKN Tematik Unswagati yang berlangsung di halaman kampus tersebut belum lama ini.

Dengan adanya pendataan tersebut jelas Mazwar, maka kita akan tahu persis, mahasiswa,kader Posdaya, Ketua RT, RW, lurah tahu persis mana keluarga-keluarga yang masih bermasalah dalam bidang pangan, sandang, papan, pendidikana, kesehatan.

Mazwar menambahkan,dari pendataan juga diketahui berapa banyak keluarga yang sudah lolos dari pendataan dasar itu tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan krusial psikologisnya. Kalau mereka sudah lolos maka warnya kuning. Kemudian lanjutnya, kalau kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan pengembangan.”Kalau mereka sudah lolos memenuhi kebutuhan menabung, pendidikan tambahan, untuk kerjasama dengan keluarga lain warnanya menjadi coklat,”jelasnya.

Keempat warnya adalah hijau artinya untuk keluarga sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar, mampu memenuhi dasar, mampu memenuhi kebutuhan sosial psikologis, mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi. Yang tertinggi adalah warna biru, artinya keluarga yang mampu memenuhi semua kebutuhan dan berkontribusi terhadap keluarga sekitarnya dan mereka sudah bekerja di masyarakat sebagai pengurus Posdaya, pengurus Posyandu, pengurus Koperasi serta pengurus lainnya.

Dikatakan,setiap dusun atau rukun warga dibentuk satu Posdaya sehingga akan memudahkan melakukan pertemuan warga. Pendataan dan pemetaan itu bertujuan untuk mengetahui sasaran keluarga yang akan menjadi upaya setiap Posdaya agar ditingkatkan kesejahteraannya. Pendataan keluarga biasanya dilakukan oleh kader Posdaya atau pengurus RW setahun sekali, karena itu pendataan tidak boleh hanya dilakukan oleh mahasiswa.

”Mahasiswa tugasnya memberi petunjuk mendampingi kader Posdaya melakukan pendataan. Jangan mahasiswa melakukan pendataan sendiri itu keliru,”ujarnya.

Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Prof Dr H Rochanda Wiradinata MP mengatakan, KKN tematik Posdaya berjumlah 1.219 mahasiswa yang akan disebar ke 57 desa dan empat kelurahan serta delapan kecamatan di tiga kabupaten dan Kota Cirebon. KKN yang melibatkan 61 dosen pembimbing ini merupakan yang ketiga kali melaksanakan KKN tematik Posdaya. Pelaksanaan KKN berlangsung mulai 23 Februari hingga 30 Maret 2016. KKN PKM Posdaya 2015/2016 semester ganjil ini dengan tema ”Pemberdayaan Potensi Pedesaan Melalui Posdaya untuk Mencapai Identitas One Village One Product”.(haris)

Pelepasan KKN Tematik Posdaya Unswagati

CIREBON-(TERBITTOP.COM)-MAHASISWA KKN tematik Posdaya (Pos Pemberdayan Keluarga) harus mampu menciptkan kemampuan berwiraswasta di kalangan warga pedesaan, dan memasarkan semua produk desa sehingga memiliki nilai jual ke berbagai daerah bahkan hingga ke mancanegara. Pemasaran produk itu bisa memanfaatkan media sosial (medsos) seperti Facebook, WhatsApp (WA) bahkan Instagram, sehingga mahasiswa menjadi motivator yang tidak saja mengangkat keluarga […]

UNS cirebon1CIREBON-(TERBITTOP.COM)-MAHASISWA KKN tematik Posdaya (Pos Pemberdayan Keluarga) harus mampu menciptkan kemampuan berwiraswasta di kalangan warga pedesaan, dan memasarkan semua produk desa sehingga memiliki nilai jual ke berbagai daerah bahkan hingga ke mancanegara. Pemasaran produk itu bisa memanfaatkan media sosial (medsos) seperti Facebook, WhatsApp (WA) bahkan Instagram, sehingga mahasiswa menjadi motivator yang tidak saja mengangkat keluarga prasejahtera menjadi sejahtera, namun menjadi motivator menciptakakan wiraswastawan pedesaan Posdaya.

”Bangunlah sikap berwiraswasta di kalangan warga desa dan ajak mereka memasarkan produknya. Ajarkan mereka memanfaatkan teknologi media sosial (medsos) dalam memasarkan produknya. Karena melalui media sosial sudah terbukti banyak memberi kesuksesan pemasaran sehingga kegiatan ini bisa menambah penghasilan masyarakat desa,” ungkap pengusaha sukses Ny Niken Indra Dharmayanti saat mendampingi Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dalam pembekalan dan dialog interaktif pelepasan KKN tematik mahasiswa di halaman Kampus Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon,Selasa (23/2).

Di era sekarang teknologi sudah maju, kata Ny Niken, masyarakat bisa menjual produk melalui internet dengan hanya menggunakan handphone saja semua produk bisa dijual. ”Di luar negeri pun sekarang ini untuk menjual produk mereka sudah menggunakan internet. Seringkali kalau kita tawarin masyarakat membuat produk lokal seperti keripik pisang dan lainnya, selalu dikeluhkan sulit pemasaran. Padahal pemasaran bisa menggunakan media sosial lebih cepat. Untuk itu warga di pedesaan harus melek teknologi dan mahasiswa bisa menyampaikanya lewat KKN,” ungkap Ny Niken.

Bahkan dalam membuka usaha itu, Ny Niken berujar, tak usah harus membuka kantor dan toko, lewat handphone saja orang di desa bisa menjual produk. ”Masyarakat desa harus bisa mandiri dan mampu menjangkau hasil produk hingga ke luar negeri,” ujarnya.

Selain itu, keinginan untuk market tersebut haruslah dicoba. Sehingga demikian banyak cara untuk bisa mandiri, tidak usah buat kantor dan toko, lewat handphone pun sekarang kita bisa menjual produk,” ujarnya.

Dikatakan, ekonomi pedesaan bisa mampu karena kemandirian dan jangan bergantung kepada sumbangan yang datang saja. Masyarakat desa, lanjut Ny Niken, kini sudah maju sehingga banyak potensi produk yang mereka hasilkan di desa sebenarnya memiliki laku jual hingga ke mancanegara.

Sementara suaminya, Tantio Sudharmono, juga mengajak mahasiswa untuk bisa mandiri, bisa berpikir 17 tahuh ke depan seperti pemuda di era lahirnya Sumpah Pemuda. Mahasiswa harus berencana menjadi keluarga yang sejahtera itu. Untuk itu, dia menegaskan, mulai merencanakan keluarga sejahtera yang dimulai dari sendiri.

”Jangan muluk-muluk untuk menjadi pahlawan nasional, kabupaten, kota atau pahlawan desa, tetapi menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Untuk itu harus rajinlah berusaha dan berwiraswasta,” pintanya. Bahkan Tantio menegaskan, dirinya akan bangga jika mahasiswa tidak bergantung kepada orang lain. Bisa mempersiapkan masa depannya, dan tidak bergantung kepada orang tua.

”Saya akan bangga jika saudara mahasiswa setelah selesai bukan mengirim surat lamaran ke perusahan, tetapi bisa menjadi wiraswasta dan bahkan bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” ujar Tantio yang menjadi pengusaha sukses. Dia menilai pemuda di mana pun dia berada di kota ataupun di desa harus bisa mandiri, harus bisa menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri dulu, baru nanti membantu keluarga dan saudara lainya serta masyarakat lainnya.

Ekonomi Pedesaan

Pada kesempatan itu Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono meminta mahasiswa mengikuti ajakan yang disampaikan pengusaha Tantio Sudharmono dan istrinya. Produk desa yang dianjurkan kedua pengusaha itu bukanlah produk luar biasa, seperti satelit, tetapi adalah usaha keripik atau tempe goreng, baju desa dan bahkan hewan kambing atau sesuatu usaha yang ada di desa bisa mengangkat ekonomi pedesaan.

”Saudara harus datang ke desa untuk menyegarkan persatuan dan kesatuan. Membangun desa dan keluarga serta mengentaskan kemiskinan. Untuk itu segala potensi dan produk yang ada di desa harus diberdayakan sehingga satu desa satu produk bisa dicapai mahasiswa Unswagati,” ucap Prof Haryono.

Dalam membekali mahasiswa, mantan Menko Kesra dan Taskin yang juga maestro pemberdayaan menekankan perlunya mahasiswa menjadi pahlawan pembangunan di desa. Ada lima syarat menurut Prof Haryono untuk mahasiswa menjalaninya. Kelima syarat penting itu adalah, pertama harus percaya kepada diri sendiri. Kedua percaya kepada teman sejawat, ketiga percaya kepada insitusi, keempat percaya kepada masyarakat, dan kelima berusaha untuk menjadi laku jual.

”Mulai hari ini saudara harus percaya pada diri sendiri, karena meski universitas saudara belum negeri, tetapi saudara harus bangga bahwa universitas ini telah kesohor ke seluruh dunia,” kata Prof Haryono yang disambut aplaus dari mahasiswa.

Ketika melakukan KKN tematik di desa, Prof Haryono meminta mahasiswa tidak menjelekkan masyarakat yang didatangi. ”Tidak boleh bilang masyarakat desa yang didatangi sebagai masyarakat yang bodoh,” kata Prof Haryono. Para mahasiswa harus berkeyakinan masyarakat di desa yang didatangi akan bangkit menjadi masyarakat yang sejahtera, menjadi masyarakat yang pandai, masyarakat yang subur makmur, masyarakat yang luar biasa untuk membangun tanah air dan bangsa. Untuk itu menunjukkan dirinya bahwa mahasiswa adalah mahasiswa yang laku jual. Ketika datang kedesa disambut dengan baik dan dapat membuat masyarakat bisa meningkatkan kemampuannya sehingga ketika tugasnya selesai dan pamit pulang kekampus penduduk menangis karena merasa kehilangan.

Prof Haryono juga menyampaikan kiat-kiat pembentukan Posdaya sampai bagaimana melaksanakan bagi pemberdayaan masyarakat desa serta melakukan pendataan dan pemetaan keluarga. Bahkan dalam dialog dengan para mahasiswa pemaparannya selalu mendapat aplaus dari ratusan mahasiwa.

Hadir dalam pelepasa KKN ini selain Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono adalah Rektor Unswagati Prof Dr Rochanda Wiradinata, Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati Cirebon Letkol Purn.TNI H Asep, Ketua LPM Jimmy Hasoloan Drs, MM, Diputy Direktur Pemberdayaan Keluarga & Masyarakat, Dr Mazwar Noerdin, Diputy Direktur Umum Dr Mulyono Daniprawiro, pejabat Walikota Cirebon, pejabat Kabupaten Cirebon, pejabat Kabupaten Kuningan, pejabat Kabupaten Majalengka, para Dekan, Dosen, camat wilayah KKN daerah Mundo, Astanajapura, Karangpundung, Kejaksan, Pancanang, Pasawahan, Sindang Wari, para Lurah, Kepala Desa yang berjumlah 61 desa serta para mahasiswa.*

UGM Dukung Gerakan GCinOP Kementerian PUPR

YOGYAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Rektor UGM Prof Dr Dwi Korita Karnawati MSc PHP mengatakan, permasalahan meningkatya jumlah penduduk yang diperkirakan akan mencapai 400 juta di tahun 2050 dikawatirkan tidak saja akan mendatangkan bonus demografi tetapi bisa juga menimbulkan petaka. “Apakah kita akan mendapatkan bonus demografi atau bencana termasuk bonus sumber daya air yang semakin berkurang akibat penataan ruang dan […]

Plengkung GadingYOGYAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Rektor UGM Prof Dr Dwi Korita Karnawati MSc PHP mengatakan, permasalahan meningkatya jumlah penduduk yang diperkirakan akan mencapai 400 juta di tahun 2050 dikawatirkan tidak saja akan mendatangkan bonus demografi tetapi bisa juga menimbulkan petaka.

“Apakah kita akan mendapatkan bonus demografi atau bencana termasuk bonus sumber daya air yang semakin berkurang akibat penataan ruang dan lahan. Kita harus dapat menambah bonus sumber daya air yang seimbang dengan bonus demorafi yang dihasilkan saat sekarang ini karena program KB yang tidak berlanjut,”kata Prof Dwi Korita pada pencanangan Gerakan Cinta Operasi dan pemeliharaan SDA (GCinOP-SDA) yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Ruang Malioboro Hotel New Saphir Yogyakarta,belum lama ini.

Gerakan GCinOP-SDA dibuka oleh Menteri PUPR yang diwakili Kepala Badan Litbang PUPR Dr.Ir.Arie Setiadi Murwanto MSc berlangsung selama tiga hari sejak 23-26 Januari 2016 diikuti Komisi Irigasi,Dinas PU/PSDA Prov/Kab/Kota,seluruh SKPD TP-OP.BBWS/BWS/Satker OP seluruh Indonesia. Gerakan ini melibatkan peranan Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga) dengan KKN Tematik serta 16 Rektor Universitas dan Perguruan Tinggi.

Hadir pada pembukaan pencanangan tersebut Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono yang kesempatan itu menjadi host didampingi penyiar TVRI Siwi Lungit dalam acara rekaman talkshow Plengkung Gading Gemari Show yang disiarkan TVRI Yogyakarta.Kemudian Gubernur DIY yang diwakili yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Daerah DIY, Dr Ir Didik Purwadi MEc,Deputy Bidang Kemasyarakatan dan Kebudayaan pada Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Dr Haruan Yunas MSi serta Deputy Direktur Umum Yayasan Damandiri Dr Mulyono D Prawiro, Asisten Deputy Direktur Informasi dan Advoasi Yayasan Damandiri Drs Dadi Permadi MA.

Dikatakan,pembangunan infrastruktur yang masif jangan sampai meniru nasib tembok China, karena meski temboknya dahsyat tetapi penjaga tembok tersebut tidak terbangun baik maka sedahsyat apapun infrastruktur termasuk air,apabila pembangunan sumber daya manusia tidak dikokohkan maka nasibnya sama dengan tembok China dan dikalahkan negara lain. “Semoga tidak terjadi kita sampai mengimpor air di masa mendatang, untuk kita harus gencarkan kecintaan untuk menjaga sumber daya air,”kata Prof Dwi Korita.

Oleh sebab itu menurut Prof Dwi Korita, UGM mendukung pencanangan gerakan cinta operasi dan pemeliharaan SDA (GCiOP-SDA) sebagai upaya untuk penyelamatan dan pemeliharan sumber daya air untuk kepentingan seluruh umat.

Sementara itu Deputy Bidang Kemasyarakatan dan Kebudayaan pada Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Dr Haruan Yunas MSi mengatakan,air tidak dipandang sosial tetapi ekonomis dimana kualitas dan keragaman penggunaan air dan sipatnya sesuai dengan kondisi demografi yang ada di daerah sehingga program GCinOP ini ini harus berkelanjutan untuk kesejahteran rakyat.

“Pemerintah telah menetapkan indek kualitas lingkungan hidup dan indek prilaku hidup sehat yang ditargetkan 2019 harus mencapai 100 persen.Itu sejalan dengan gerakan nasional revolusi mental yang mengubah cara pandang yang sebelumnya sungai sering digunakan sebagai tempat buang sampah dsbnya tetapi harus diubah sebagai tempat untuk pengairan dsbnya untuk kepentinga masyarakat.

Pada acara tersebut diadakan pameran hasil kegiatan OP tahun 2015 serta dilakukan penanda tanganan Mou bersama 15 Rektor yang dilibatkan dalam gerakan GCinOP-SDA serta diisi dengan peninjauan lokasi Gerakan air bersih (GIB) di desa Sriharjo Imogiri Kabupaten Bantul.Para rektor yang hadir diantaranya, Rektor UGM, Rektos ITS, Rektor ITB,Rekto Sebelas Maret, Rektor Unsoed, Rektor Unila Lampung, Universitas Andalas, Universitas Lambung Mangkurat dan Rektor Universitas Mataram.((ris)

Posdaya Saatnya ‘Go International’

YOGYAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Kiprah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di tataran nasional telah diakui dan mendapat apresiasi banyak kalangan, tak terkecuali dari Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) Yogyakarta Dr Alimatus Sahrah Msi, MM. Bahkan, rektor yang akrab disapa Ibu Alin ini mendorong agar Posdaya’go international’. “Saya berharap Yayasan Damandiri menjadi lebih besar lagi, dan saya sangat berharap Posdaya ‘go […]

rektor UMB dan wartawanYOGYAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Kiprah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di tataran nasional telah diakui dan mendapat apresiasi banyak kalangan, tak terkecuali dari Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) Yogyakarta Dr Alimatus Sahrah Msi, MM. Bahkan, rektor yang akrab disapa Ibu Alin ini mendorong agar Posdaya’go international’.

“Saya berharap Yayasan Damandiri menjadi lebih besar lagi, dan saya sangat berharap Posdaya ‘go international’,” kata Rektor UMB Yogyakarta kepada TERBITTOP, di Yogyakarta,Kamis (26/11).

Dorongan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat sebentar lagi diberlakukan perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Jadi, kenapa tidak Posdaya kita ‘geret’ sampai keluar. Saya kira Prof Haryono (Ketua Yayasan Damandiri Prof Haryono Suyono-Red) lebih bisa,” tambahnya.

Untuk mendorong ‘go international’ pemberdayaan masyarakat desa melalui program Posdaya, UMB Yogyakarta menyelenggarakan seminar internasional tentang pembedayaan tersebut, yang melibatkan tidak saja pembicara daridalam negeri, di antaranya Prof Haryono dan Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga dari para pembicara asing. Antara lain, pada hari pertama penyelenggaraan seminar tampil sebagai pembicara asing adalah Dr Judit Hidasi dan Dr Eva Sandor-Kriszt dari Budapest Business School, Hungaria, Dr Siegfred L Manaois dari Lyceum of Philippines University, dan Peter Craven dari Australia Indonesia Business Council.

Rektor UMB Yogyakarta ini sangat yakin, Posdaya bisa ‘go international’, karena di negara lain pun kemungkinan ada persoalan yang sama. Upaya pemberdayaan lebih insten dilaksanakan melalui Posdaya, karena sudah memasuki Sustainable Development Goals (SDGs), untuk itu perlu juga menggali informasi dari pihak lain di luar negeri, terutama universitas-universitas asing yang juga melaksanakan kegiatan semacam KKN.

“Makanya kita ingin berkolaborasi dengan beberapa universitas luar negeri, antara lain dari Hungaria, Filipina, dan Australia. Untuk mengetahui apakah mereka juga memiliki permasalahan yang sama. Mereka juga ada yang seperti KKN, yang mereka ingin melihat culture (budaya) dan termasuk yang di Indonesia, kita berkolaborasi untuk itu,” jelasnya.

Seminar Internasional

Menjawab pertanyaan Terbittop dan Majalah Gemari, Ibu Alin juga mengungkap latar belakang universitas pimpinannya menggelar seminar internasional pemberdayaan dengan tema International Seminar: Society Empowerment Through Multidimensional Approach. “Gagasan ini muncul ketika kami bergabung dengan Posdaya. Kami juga melihat adanya kucuran dana desa dari pemerintah sebesar Rp1 miliar. Itu menjadi pemikiran kami, bagaimana agar masyarakat desa bisa berdaya,” jelasnya.

Saat ini, diakuinya bahwa UMB Yogyakarta telah memiliki banyak desa binaan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, antara lain Bantul dan Kulonprogo. Desa-desa ini, yang jumlahnya 20 desa, membutuhkan upaya-upaya pemberdayaan.

“Pemberdayaan yang kita kemas dalam society empowerment (pemberdayaan masyarakat). Kemudian ada satu istilah lagi yakni multidimensional approach (pendekatan multidimensi), kita pendekatannya dari beberapa bidang misalnya dari sisi psikologi, ekonomi, dan IT. Semuanya itu untuk memberdayakan masyarakat,” jelasnya. Untuk itu, pihaknya mengundang Prof Haryono sebagai keynote speaker.

“Karena kami tahu, Prof Haryono lebih ahli mengenai masalah ini,” kata Rektor UMB yang masih terlihat gesit.

Untuk program KKN Tematik Posdaya, diakui Ibu Alin, UMB Yogyakarta memperoleh dana hibah dari berbagai pihak. “Dana-dana ini akan kita gulirkan bagi pemberdayaan masyarakat di desa. Sejauh dari desa binaan kami, yang telah berhasil ada sepuluh desa. Rata-rata bergerak di bidang pangan lokal, seperti pengolahan ketela dan gula aren,” pungkasnya.*