Adab dan Kepentingannya dalam Pembangunan Umat

Oleh : Sakinah Fithriyah Beredar kesalahan di tengah masyarakat tentang makna adab. Tampaknya kebanyakan orang memahami adab menjadi sebatas tata krama atau sopan santun zahir semata. Padahal makna adab lebih luas dari itu Tema “Adab dan Kepentingannya dalam Pembangunan Umat” ini dikupas Prof. Madya Dr. Ugi Suharto dalam dauroh (18/8/2013) yang diselenggarakan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung di Ruang GSS Masjid Salman ITB. Tema ini menjadi begitu penting akibat Selengkapnya […]

Oleh : Sakinah Fithriyah

Beredar kesalahan di tengah masyarakat tentang makna adab. Tampaknya kebanyakan orang memahami adab menjadi sebatas tata krama atau sopan santun zahir semata. Padahal makna adab lebih luas dari itu

Tema “Adab dan Kepentingannya dalam Pembangunan Umat” ini dikupas Prof. Madya Dr. Ugi Suharto dalam dauroh (18/8/2013) yang diselenggarakan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung di Ruang GSS Masjid Salman ITB.

Tema ini menjadi begitu penting akibat hilangnya adab di tengah umat. Hilangnya adab sendiri merupakan salah satu sumber kerusakan umat Islam yang sekarang terjadi. Kekeliruan dalam mengenali takrif (makna) ilmu adalah sebab hilangnya adab.

Makna Ilmu, Hikmah, Adab, Adil

Dr. Ugi Suharto pertama-tama menjelaskan perbedaan antara ‘ilmu dengan informasi (khobar). Sesuatu yang disebut ilmu jika ia sudah sudah teruji kebenarannya. Sedangkan informasi adalah hal yang baru sampai kepada si penerima, di mana kabar atau informasi yang sampai itu belum jelas kebenarannya.

Kesalahan dalam memahami ilmu dan informasi mengakibatkan salah meletakkan posisi keduanya di kedudukan yang tepat. Informasi diangkat sebagai ilmu, sedang ilmu direndahkan menjadi informasi.

Di tingkatan yang lebih tinggi, ilmu menghantarkan seseorang untuk mengenali tempat yang tepat untuk setiap hal. Ilmu ini disebut juga sebagai ilmu hikmah. Ilmu hikmah adalah ilmu tertinggi karena melaluinya seseorang mampu mengenali tempat bagi segala sesuatu dan hubungannya dengan Pemilik alam semesta, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adab sendiri bermakna meletakkan sesuatu dengan tepat sesuai dengan tempatnya. Dari ketepatan dalam meletakkan segala sesuatu inilah terbitnya keadilan. Adab disebut juga sebaik-baik akhlak karena melaluinya keadilan bisa diperoleh. Pendidikan disebut berhasil ketika tertanamnya adab dalam diri manusia. Proses ini yang disebut dengan ta’dib.

Tingkatan Berbuat Adil

Pria yang pernah mengajar mata kuliah History and Methodology of Hadith di ISTAC ini menyebutkan beberapa keadilan utama yang harus dibangun seorang muslim. Yang pertama adil kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang kedua adil kepada diri sendiri, dan setelah itu adil kepada masyarakat.

Ini tidak berarti keadilan menjadi relatif dan dikotomis. Ini bermakna dengan berusaha adil kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seseorang juga sedang berlaku adil kepada dirinya sendiri. Tetapi bila penempatan dalam mengutamakan keadilan ini salah, yang terjadi adalah hilangnya adab pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diri sendiri.

Ini yang sedang terjadi saat ini. Banyak orang yang berusaha menegakkan keadilan di masyarakat namun lupa memenuhi hak-haknya pada Allah Ta’ala dan dirinya sendiri. Kondisi ini merupakan satu bentuk kedzaliman.

Dosen yang kini mengajar di Bahrain ini menegaskan bahwa dari keberhasilan individu-individu membangun keadilan dalam dirinya akan terbentuk satu ummatan wasathan yang kelak menjadi khayru ummah. [ed:Irf]

Keutamaan Ilmu bagi Manusia

  Oleh:  Shohib Khoiri, Lc. Peneliti PIMPIN   Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda:   فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب, و إنّ العلماء ورثة الأنبياء   “Keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah ibarat keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Tirmidzi)   Hadits ini menegaskan akan Selengkapnya […]

Oleh:  Shohib Khoiri, Lc.

Peneliti PIMPIN

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda:

فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب, و إنّ العلماء ورثة الأنبياء

Keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah ibarat keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan akan besarnya nilai ilmu. Rasulullah menegaskan bahwa seorang yang berilmu lebih baik dari seorang ahli ibadah. Hal ini diibaratkan dengan keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Ketika bintang-bintang kecil hanya mampu menerangi dirinya sendiri, maka bulan purnama tidak hanya menerangi dirinya sendiri, tapi mampu juga menerangi dzat-dzat sekitarnya. Begitu juga dengan ahli ibadah, ketika mereka hanya mampu menerangi dirinya sendiri dengan ibadahnya, maka orang-orang berilmu  tidak hanya menerangi dirinya, tapi juga menerangi orang-orang disekitarnya dengan ilmunya. Sehingga tidak heran jika pahala menuntut ilmu lebih besar dari ibadah-badah sunnah. Pada suatu hari Rasulullah pernah bersabda kepada Abu Dzar : “Wahai Abu Dzar, Sungguh jika engkau berangkat diwaktu pagi, lalu belajar satu bab dari ilmu,  maka itu lebih baik bagimu dari shalat seribu rakaat. (HR. Ibnu Majah)

Dalam suatu riwayat, Abu Hurairah pernah berjalan ke suatu pasar. Sesampainya dipasar beliau melihat orang-orang begitu santai dengan kehidupan mereka. Melihat keadaan demikian beliau berkata: “Siapa diantara kalian yang ingin mendapatkan warisan yang telah Rasulullah tinggalkan?, sesungguhnya warisan Rasulullah saat ini sedang dibagikan di mesjid”. Mendengar ucapan beliau, mereka akhirnya berlarian berangkat ke mesjid untuk mendapatkan warisan. Sesampainya di masjid, mereka ternyata tidak menemukan apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah, mereka hanya menemukan orang-orang sedang shalat, mengaji dan mencari ilmu, lalu mereka berkata: “Mana warisan Rasulullah yang engkau katakan?”. Mendengar ucapan mereka, beliau menjawab: “Sesungguhnya inilah harta Rasulullah yang beliau tinggalkan”. Begitulah besarnya perhatian Seorang Abu Hurairah terhadap ilmu. Beliau sadar bahwa tidak ada warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah yang lebih berharga melebihi ilmu. Disaat orang-orang disibukan oleh perniagaan, maka beliau justru disibukan oleh ilmu yang Rasulullah tinggalkan. Hingga sejarah pun mencatat beliau sebagai  salah satu sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits meskipun masa interaksi beliau dengan Rasulullah relative sebentar.

Ilmu dan Ulama

Ilmu dan ulama, dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Ilmu adalah warisah Rasulullah terbesar sedangkan ulama adala orang-orang yang Rasulullah janjikan sebagai pemegang warisan tersebut. Disamping amanah besar yang Rasulullah sandarkan kepada para ulama untuk menjaga ilmu, Rasulullah pun memperingati akan adanya ulama suu’. Hancurnya umat ini adalah karena kerusakan yang terjadi pada para ulama. Mereka tidak mengajak kepada kebaikan, tapi justru malah menyuruh kekeburukan. Hingga jika ulama ini rusak maka umat pun menjadi  rusak lalu tercabutlah ilmu. Rasulullah pernah bersabda:

إن الله لا ينتزع العلم انتزاعا من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

Tidaklah Allah mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia. Akan tetapi mencabutnya dengan cara mencabut para ulama. Hingga jika tidak tersisa orang yang alim, orang-orang menjadikan  orang-orang bodoh sebagai tempat bertanya. Mereka ditanya tentang agama, maka mereka pun menjawabnya maka merekapun sesat dan menyesatkan”.

Setelah Rasulullah memperingati akan hadirnya para ulama suu’ yang akan membawa ilmu yang rusak, maka ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tetang hakikat ilmu dan ulama.  Yang perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang dianggap ‘alim (berilmu/cendekiawan) mereka berhak disebut sebagai orang yang ‘alim menurut syariat. Karena ada orang yang disebut sebagai ‘alim padahal dialah yang pertama kali digiring ke neraka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه قال : إنّ أوّل الناس يقضى يوم القيامة رجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كذبت ولكنك تعلمت ليقال: عالم! وقرأت القرآن ليقال: قارئ! فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار.. (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: sesungguhnya yang pertama kali digiring ke neraka pada hari akhir nanti adalah seseorang yang memperlajari ilmu dan mengajarinya serta mereka yang membaca al-Quran.  Allah pun memberi tahu kepadanya nikmat hingga mereka tahu. Allah berkata kepada mereka: apa yang kalian kerjakan dengannya?. Dia berkata: aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Quran karena Engkau. Allah berkata: Sungguh kamu telah berdusta !!, padahal kamu mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai seorang ‘alim, kamu membaca al-Quran agar disebut sebagai qari’, dan kalian pun telah mendapatkannya. Hingga diperintahkan kepada mereka agar wajah mereka dibenamkan dan dilemparkan ke neraka (Bukhari).

Kemudian ingat juga bahwa diantara sekian banyak ilmu, ada ilmu yang mana Rasulullah berlindung darinya, sebagaimana doa beliau:

اللهمّ أنّي أعوذ بك من علم لا ينفع

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Lalu apakah itu ilmu  dan siapakah orang yang ‘alim itu?

Allah berfirman:

أنما يخشي الله من عباده العلماء

“Sesungguhnya yang paling takut terhadap Allah dari hamba-Nya adalah ulama”

Allah berfirman:

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran 18)

Ibnu Mas’ud pernah berkata:

كفى بخشية الله علما و كفى بالاغترار بالله جهلا

“Cukupkah rasa takut seseorang kepada Allah menjadi bukti bahwa dia berilmu, dan cukupkah kelalaian terhadap Allah menjadi bukti seseorang jahil”

‘Imran bin Qasir berkata:

سألت الحسن عن شيء, فقلت: إنّ الفقاهاء يقولون كذا و كذا. قال: إنّما الفقيه الزاهد في الدنيا البصير بدينه المداوم على عبادة ربّه.

Aku bertanya pada Hasan al-Bashri tentang sesuatu, aku pun berkata: Sesungguhnya para fuqaha adalah yang berkata demikian dan demikian. Beliau berkata: Sesungguhnya seorang faqih adalah dia yang zuhud di dunia, mempunyai bashirah terhadap agamanya dan istiqamah dalam beribadah”

Muhammad bin Jabr berkata:

الفقيه من خاف الله عزّ و جلّ

“Seorang faqih adalah dia yang takut terhadap Allah ‘Azza wa Jalla”.

Jadi apakah ilmu yang dengannya seseorang disebut alim?. Ia adalah ilmu yang menambah rasa takut kepada Allah, zuhud di dunia dan rasa cinta akan kehidupan akhirat. Lalu siapakah seorang alim itu?. Adalah dia yang takut kepada Allah, zuhud di dunia dan cinta akan kehidupan akhirat.

Kemudian, setelah mengetahui hakikat ilmu dan ‘alim yang  sebenarnya. Kita pun harus mengetahui ilmu yang dengannya membuat kita cinta akan akhirat. Tidaklah ilmu tersebut melainkan ilmu yang langsung diturunkan langsung dari Allah, yaitu al-Quran dan Sunnah.

Rasulullah bersabda:

لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا و لبكيتم كثيرا

“Jika sekiranya kalian mengatahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis”

Hadits ini menunjukan bahwa ilmu yang diberikan kepada Rasulullah adalah sebab yang yang menjadikan beliau sebagai orang yang paling bertakwa  diantara manusia-manusia lainnya. Tidaklah ilmu yang nabi dapatkan kecuali ilmu yang menjadi amanah bagi beliau untuk disampaikan kepada umatnya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Jika sekiranya ilmu hakiki adalah ilmu yang membuat kita takut kepada Allah, dan ilmu tersebut adalah al-Quran dan Sunnah, maka seorang ‘alim hakiki adalah, mereka yang ‘alim tentang al-Quran dan Sunnah.

Ibnu Wazir as-Shan’any berkata:

لأنّ من ليس بعالم بالكتاب و السنّة لايستحقّ أن يسمّى بالشرع عالما وإن عرف جميع العلوم ما عدا الكتاب و السنّة. .

“Karena seseorang yang tidak mengetahui tetang kitab dan sunnah tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang ‘alim menurut syariat, meskipun dia mengatahui semua ilmu selain kitab dan sunnah”.

Nasihat Ulama dalam langkah-langkah mencari ilmu

Pertama: Ingatlah selalu keutamaan ilmu dan ahlinya

Tidak ada yang diharapkan dari seorang yang berakal kecuali mendapatkan kemuliaan dalam hidupnya. Dan tidak ada kemuliaan abadi melainkan kemuliaan yang dibangun oleh ilmu, yaitu kemuliaan yang tidak diukur oleh harta dan kedudukan.

Seorang ulama mengatakan:

إن كنت -أيها الأخ- ترغب في سمو القدر، ونباهة الذكر، وارتفاع المنزلة بين الخلق، وتلتمس عزاً لا تَثْلِمه الليالي والأيام، ولا تَتحيَّفُه الدهور والأعوام، وهيبةً بغير سلطان، وغنىً بلا مال، ومنفعةً بغير سلاح، وعلاءاً من غيرِ عشيرة، وأعواناً من غير أجرٍ، وجنداً بلا ديوان وفرض فعليك بالعلم؛ فاطلبه في مظانه تأتِك المنافع عفواً، وتلق ما تعتمد منها صفواً.

“Saudaraku, jika sekiranya engkau mengharapkan derajat yang tinggi, kewibawaan saat namamu disebut, kedudukan terhormat diatara manusia, kemuliaan yang tidak pudar oleh malam dan siang, dan tidak luput oleh pergantian zaman dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, manfaat tanpa senjata, tinggi derajat tanpa bantuan saudara, pertolongan tanpa balasan, anak buah tanpa perkantoran, maka hendaklah engkau dapati itu semua dengan ilmu. Carilah selalu ia dalam hidupmu niscaya engkau akan mendapatkannya sebagai sandaran hidupmu”.

Dan yang lebih besar dari itu semua adalah balasan kemuliaan di akhirta yang dikhususkan bagi mereka yang berilmu, sebagaimana firman Allah:

Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4

“niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu atas orang yang beriman tapi tidak berilmu.

Sedangkan hadits nabi yang menerangkan tentang kemuliaan ilmu diantaranya:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سلك الله  به طريقا إلى الجنة وإن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يصنع, وإن العالم ليستغفرله من في السماوات والأرض حتى الحيتان في الماء وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب و إن العلماء ورثة الأنبياء, و إنّ الأنبياء  لم يرثوا دينارا ولا درهما وإنما ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر

Barang siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, niscaya Allah akan permudah baginya menuju syurga. Sesungguhnya para malaikan membentangkan sayapnya bagi thaibul ilmi sebagai tanda ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang alim, beristighfar baginya semua yang dilangit dan di bumi hingga ikan paus di laut. Dan keutamaan seorang alim atas seorang abid ibarat kemuliaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham akan tetapi mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil warisan tersebut dengan jumlah yang banyak”.

Ini adalah hadits yang agung yang menerangkan kemuliaan ilmu. Ada beberapa poin yang bisa diambil dari hadits tersebut:

a)      Kemuliaan berihlah mencari ilmu.

b)      Anjuran untuk mencari ilmu dengan serius, yaitu dengan mengharidi majelis ilmu, membaca, mengulang-ulang hafalan serta mentafakuri apa yang sudah kita dapatkan dari ilmu.

c)      Hak-hak yang akan diperoleh bagi penuntut ilmu, diantaranya adalah kemudahan untuk mendapatkannya, dimana ilmu adalah jalan yang memudahkan kita menuju syurga. Sebagaimana firman Allah.

Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah akan memudahkan bagi hamba-hambanya yang serius mencari ilmu untuk mendapatkannya. Disamping itu Allah pun akan memberikan kemudahan kepada para penuntut ilmu untuk beramal dengan apa yang telah dia dapati dari ilmu jika maksud dari mencari ilmu adalah mendapatkan ridha Allah, yang dengan ilmu tersebut dia mendapatkan hidayah-Nya. Allah juga akan memberikan kepada ahli ilmu yang beramal dengan ilmunya ilmu-ilmu lainnya yang bermanfaat baginya. Sebagaimana sabda Rasulullah:

من عمل بما علم أورثه الله علما ما لم يعلم

“Barang siapa beramal dengan ilmunya maka Allah akan memberikan ilmu yang belum ia ketahui”

d)     Ilmu adalah jalan utama yang memudahkan kita untuk mendapatkan syurga. Maka barang siapa yang berjalan mencari ilmu, kemudian dia tidak berpaling dari jalan tersebut, maka ia akan sampai hingga ke syurga. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (al-Maidah 15-16).

e)      Bahwa para malaikat akan membentangkan sayapnya bagi para pencari ilmu

f)       Maghfirah Allah lebih dekat kepada para pencari ilmu, hal ini karena semua makhluk baik di langit atau dibumi, bahkan hingga ikan paus di laut pun beristighfar untuknya juga semut-semut yang berada di sarangnya.

g)      Sebagaimana bintang-bintang cahayanya hanya untuk diri sendiri, begitu juga dengan seorang ahli ibadah yang manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri. Berbeda halnya dengan bulan purnama yang dapat meneragi sekitarnya, maka begitu juga dengan seorang ‘alim yang dapat menerangi orang-orang disekitarnya.

h)      Sebagaimana Rasulullah yang memancarkan cahaya ilmu dan hidayah, maka beliau ibarat matahari. Begitu pula para ulama yang mewarisi ilmu beliau, maka mereka ibarat bulan purnama yang memantulkan cahaya bagi umat ini.

i)        Hadits diatas menjelaskan keutamaan ilmu atas ibadah. Bagaimana tidak padahal seorang salafus sholeh berkata:

تعلموا العلم, فإنّ تعلّمه حسنة و طلبه عبادة و مذاكرته نسبيح و البحث عنه جهاد و تعليمه لمن لا يعلمه صدقة و بذله لأهله قربة.

“Pelajarilah ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya adalah perbuatan ihsan, mencarinya adalah ibadah, menghafalnya adalah tashbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya bagi yang belum mengetahui adalah shadaqah serta mengupayakannya bagi ahli ilmu adalah qurbah”

Ini menunjukan bahwa ilmu mencakup segala ibadah. Kemudian dilanjutkan dengan perkataannya:

لأنّ العلم سبيل منازل الجنّة و هو الأنيس في الوحدة و الصاحب في الغربة و المحدّث في الخلوة و الدليل على السرّاء و المعين على الضرّاء و الزين عند الأخلاّء و السلاح على الأعداء

“Karena ilmu adalah jalan menuju syurga, teman ketika sendirian, kawan dalam pengasingan, teman berbicara dalam kesendirian, petunjuk dalam kebahagiaan, penolong dalam kesulitan, penghias bagi keluarga dan senjata bagi musuh”

j)    Ulama adalah pewaris para nabi, yang mana mereka adalah utusannya para rasul.   Kedudukannya sama dengan para nabi dalam menyampaikan syariat Allah, maka dari itu Allah menyebut dalam kitab-Nya kata ulama dimana para nabi termasuk didalamnya. Sebagaimana firman Allah:

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran 18)

Pada Ayat ini Allah tidak menyebut nabi, akan tetapi Allah menjadikan para nabi dalam kata ‘Ulama. Maka cukuplah ini sebagai bukti akan mulianya para ulama, yang termasuk didalamnya para nabi.

h)      Ilmu adalah harta yang besar dan mulia yang membuat mulia ahlinya. Maka dari itu Imam Bukhari mengeluarkan hadits dalam Shahihnya:

لا حسد إلا في اثنتين : رجل أتاه الله الحكمة فهو يقضى بها و يعلمها

“Tidak diperbolehkan hasad kecuali dalam dua perkara: Pemuda yang diberi ilmu oleh Allah kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya”.

Kedua: Bacalah sejarah ulama terdahulu, karena hal itu mendorong untuk meningkatkan semangat.

Seorang ulama berkata:

لا تقرن نفسك و لا تزنها بأحد من العصريّين و لو كان عالم العصر بلا منازع, و لكن زنها و زن جدّك في الطلب و مقدار ما حصّلته من العلم بجدّ المتقدّمين و عظيم ما حصلوه من العلوم

“Janganlah engkau temani dirimu dan janganlah hiasi dia dengan sejarah ulama-ulama kini meskipun dia termasuk seorang yang alim yang tidak ada tandingannya. Akan tetapi hiasilah dirimu dan semangatmu dalam mencari ilmu dan kadar  ilmu yang telah engkau dapati dengan semangat para ulama terdahulu dan kebesaran ilmu yang telah mereka dapatkan”.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh imam Daruqutny:

من أحبّ أن ينظر و يعرف قصور علمه عن علم السلف فليظر في حديث الزهري لمحمّد بن يحيى الزهري

“Siapa yang ingin melihat dan mengetahui akan lemahnya ilmu dibandingkan ilmu salafus sholeh, maka lihatlah sejarah  Zuhry dalam kita Muhammad bin Yahya az-Zuhry”

Inilah perkataan imam Daruqutny dimana Imam adz-Dzahaby meminum air Zamzam agar bisa menjadi seperti beliau. Dan Imam Adz-Dzahabi dimana Imam Ibnu Hajar minum air Zamzam agar dapat seperti beliau, begitu juga Imam Ibnu Hajar dimana Imam Suyuti meminum air Zamzam agar dapat seperti beliau, dimana masing-masing dari mereka menjadi Imam pada zamannya masing-masing.

Ada banyak faidah yang dapat diambil dalam mempelajari sejarah para ulama salaf. Diriwayatkan bahwa  Imam Abu Hanifah berkata:

الحكايات عن العلماء ومحاسنهم أحبّ إليّ من الفقه, لأنّها أداب القوم و أخلاقهم, أولئك الذين هداهم الله فبهداهم اقتده لقد كان في قصصهم عبرة

“Cerita tentang ulama dan kebaikannya lebih aku sukai dari fiqih, karena didalamnya terkandung adab suatu kaum dan akhlaknya. Kepada mereka Allah memberikan hidayah, maka ikutilah langkah mereka, sesungguhnya dalam cerita mereka terdapat pelajaran berharga”.

Dari beberapa faidah tersebut adalah, menyalakan api semangat dan menghilangkan kemalasan, karena sudah menjadi fitrah bahwa rasa malas pasti akan menyerang kita dalam proses mencari ilmu. Diatara faedahnya juga yaitu menancapkan dan menguatkan diri dari sifat lalai yang menyebabkan kebodohan, menghaluskan hati dan menambah rasa tawadhu, mengajarkan kesabaran dalam menghadapi segala masalah. Karena merekalah utusan para Rasul yang membawa amanah ilmu. Maka tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan:

الحكايات جند من جنود الله يتقوّى بها إيمان المؤمنين

“Sejarah adalah tentara dari tentara-tentara Allah, dengannya keimanan orang-orang beriman menjadi kuat”

Ketiga: Berilah kesempatan pada diri untuk menikmati ilmu, karena itulah sebaik-baik kenikmatan.

Ibnu al-Jauzi berkata:

اللذات كلّها حاصلة بين حسيّ و عقليّ, فنهاية اللذّات الحسّيّة و أعلاها النكاح, و غاية اللذّات العقلّة العلم, فمن حصلت له الغايتان في الدنيا فقد نال النهاية, و من عرف لذّة العلم قدّمها على كلّ لذائذ الحسّيّة أعلاها و أدناها, ألا ترى العلماء أعرضوا عن كلّ شيئ من أمور الدنيا استغناء بلذّة العلم, و ذالك أنّ لذّة الحسيّة كالنكاح لذّة غريزيّة جسديّة, و أمّا لذّة العلم فلذّة روحانيّة علويّة. فمن قدّم اللذّة الحسّيّة فهو يمتّع الجسد الفاني فلذّته على قدر محله في الضعف و الفناء, و من قدّم اللذّة العقليّة فهو يمتّع الروح الباقي فلذّته على درجة سموّه من القوّة و البقاء. ومن قدّم اللذّة الحسيّة أصبح باقي الحيوانات, و من قدّم اللذّة العقليّة ارتقى إلى أفضل سمات و صفات البشريّة.

“Semua kenikmatan bersumber dari perasaan dan akal. Puncak kenikmatan rasa adalah nikah, sedangkan puncak kenikmatan akal adalah ilmu. Siapa yang dapat mencapai keduanya, dia telah mendapatkan puncak kenikmatan tersebut. Barang siapa mengetahui nikmatnya ilmu, maka ia akan mengedepankannya dari semua kenikmatan rasa, dari yang kecil hingga yang besar. Tidakkah engkau lihat bagaimana para ulama menolak semua kenikmatan dunia karena mereka merasa cukup dengan nikmatnya ilmu?. Hal tersebut karena kenikmatan rasa, seperti nikah, adalah kenikmatan yang bersifat insting dan “sajady”, sedangkan kenikmatan ilmu adalah kenikmatan ruhany yang tinggi. Barang siapa yang mendahulukan kenikmatan rasa, maka dia memberi kenikmatan kepada jasad yang fana, yaitu kenikmatan yang tidak kekal. Dan siapa yang mendahulukan kenikmatan akal maka dia  memberikan kenikmatan kepada ruh yang kekal, sehingga kenikmatan tersebut akan kekal.  Barang siapa mendahulukan kenikmatan rasa maka dia tidak ada bedanya dengan hewan. Dan barang siapa mendahulukan kenikmatan akal, dia akan naik ke puncak kemuliaan sebagai manusia.

Pada awalnya memang terasa berat untuk bercengkrama dengan ilmu. Rasa malas, suntuk dan sebagainya sering kali menjadi ganjalan bagi para mencari ilmu, akan tetapi inilah jalan yang dilalui oleh para ulama terdahulu, bahkan tidur mereka pun seringkali berbantalkan kitab-kitab, seperti yang terjadi pada Imam Nawawi Rahimahullah.

Keempat: Biasakanlah diri untuk terus mencari ilmu

Rasulullah pernah berkata:

أحبّ الأعمال إلى الله تعالى ما دام و إن قلّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit”.

Jika hadits diatas menggambarkan bahwa amalan sunnah yang dilakukan berkesinambungan adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah, seperti shaum dan sunnah rawatib. Maka bagaimana jika sekiranya amalan yang dilakukan berkesinambungan tersebut adalah sebaik-baik amalan setelah amalan wajib?.

Kelima: Sesekali naikkan tingkatan mencari ilmu pada tingkatan ijtihad.

Hal ini untuk menghidari budaya taqlid, karena hakikat dari taqlid adalah ketidak pahaman akan sumber ilmu. Jika kita sudah terbiasa mencari ilmu, maka dengan sendirinya kita memasuki area ittba’ , yaitu mengikuti sesuatu dengan memahami sembernya. Marhalah inilah awal dari fase mencari ilmu sebenarnya. Sedangkan marhalah taqlid adalah fase “pemanasan” dari sebuah pencarian. Jika sudah terbiasa dalam marhalah ittiba’ maka dengan sendirinya ia akan masuk pada marhalah ijtihad.  Hal ini tentunya diukur sesuai dengan kemampuannya, karena memaksan diri untuk memahami sesuatu yang belum waktunya hanya akan melahirkan dua kemungkinan, baik itu menjadikan diri masuk dalam kubangan “pemuja akal” atau menjadikan diri tidak tertarik dengan ilmu tersebut. Disamping itu melepaskan diri dari usaha untuk memahami ilmu atau hanya berlandaskan hafalan hanya akan menjadikan diri fanatik. Inti dari semua ini adalah, ketika kita melatih diri untuk menaikan tingkatan kita dalam mencari ilmu, mulai dari  taqlid, ittiba kemudian ijtihad, maka hal itu akan menimbulkan rasa nikmat dalam mencari ilmu, dan manisnya rasa paham, yang dengannya pula semangat untuk terus menammbah ilmu selalu meningkat.

Keenam: Janganlah mencukupkan diri dengan membaca tanpa belajar pada seorang guru begitu pun sebaliknya.

Seorang ulama berkata:

كان العلم في صدور الرجال فصار في الكتب و مفاتيحه بأيدي الرجال

“Ilmu berada di dada seseorang, kemudian berpindah kedalam kitab sedangkan kuncinya berada ditangan mereka”.

Mencukupkan diri hanya dengan membaca tanpa bertanya pada seorang guru bisa mendatangkan kesalahan yang besar, kerena sangat dimungkinkan apa yang kita pahami dari bacaan kita berbeda dengan mereka yang sudah mengetahui lebih dahulu. Dan  lebih berbahaya lagi jika kita mengajarkan kepada orang lain apa-apa yang kita pahami secara salah tersebut.

Pada sisi lain ada juga yang mencukupkan diri hanya dengan menghadiri majelis ilmu tanpa melihat pada buku-buku. Jika majelis tersebut tidak ada, maka ia pun akan berhenti dari proses belajar. Hakikat guru hanyalah sarana untuk membuka pintu ilmu, sedangkan untuk mendalaminya lebuh jauh lagi didapati dari membaca buku, karena tidak ada seorang guru yang mampu mengajari ilmu kepada muridnya secara keseluruhan dari awal hingga akhir, hal ini dikarenakan luasnya ilmu yang jauh melebihi waktu luang dan usia seorang guru. Allah A’lam

Perlukah Islamisasi Ilmu?

“Islamisasi merupakan sebuah keharusan.” Demikian penegasan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin dalam pidato pembuka International Seminar on Islamic Education di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor pada 18-19 Mei 2011 yang lalu. Seminar yang bertemakan “Islamization of Higher Education : Models and Experience in Muslim Worlds” ini menghadirkan sejumlah ilmuwan Muslim dari berbagai negara seperti Prof. Malik Badri (Sudan), Dr. Kabuye Uthman Sulaiman (Uganda),  Dr. Saadeldin Selengkapnya […]

“Islamisasi merupakan sebuah keharusan.” Demikian penegasan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin dalam pidato pembuka International Seminar on Islamic Education di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor pada 18-19 Mei 2011 yang lalu.

Seminar yang bertemakan “Islamization of Higher Education : Models and Experience in Muslim Worlds” ini menghadirkan sejumlah ilmuwan Muslim dari berbagai negara seperti Prof. Malik Badri (Sudan), Dr. Kabuye Uthman Sulaiman (Uganda),  Dr. Saadeldin Mansour Gasmelsid (Sudan), Dr. Muhammad Azzazi (Mesir), Dr. Ssekamanya Siraje Abdallah (Uganda),  Dr. Benaouda Bensaid (Kanada),  Dr Adi Setiawangsa (Malaysia),  Prof. Abuddin Nata (Indonesia), Dr. Anis Malik Thoha (Indonesia), Dr. Syamsuddin Arif (Indonesia), dan  Dr. Adian Husaini (Indonesia).

Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan isu penting yang telah digulirkan oleh sejumlah cendekiawan Islam sejak 1960-an, diantaranya oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi, Seyyed Hossein Nasr, Wan Mohd Nor Wan Daud, Muzaffar Iqbal, dan lain-lain. Hingga saat ini isu ini masih menjadi perhatian dan pengkajian berbagai cendekiawan Muslim di seluruh dunia. Sejumlah institusi pengkajian Islam dan perguruan tinggi telah didirikan untuk menanggapi isu ini seperti IIIT di Amerika, ISTAC di Malaysia, IIUI Pakistan, dan CIS di Kanada. Beberapa perguruan tinggi Islam di Indonesia, termasuk UIKA sendiri, didirikan dengan semangat Islamisasi ini.Mengapa harus Islamisasi? Syed Muhammad Naquib al-Attas di dalam Konferensi Umat Islam Dunia di Mekah tahun 1977 menjelaskan bahwa faktor utama kemunduran umat Islam adalah karena masalah keilmuan. Tanpa bermaksud mengabaikan faktor-faktor lain seperti masalah ekonomi, politik, dan militer, pendiri ISTAC (Institute of Islamic Thought and Civilization) tersebut menegaskan bahwa masalah ilmu merupakan persoalan paling mendasar di tubuh umat Islam. Tanpa menyelesaikan masalah ini, umat Islam tidak akan mampu bangkit dari kemunduran ini.

Persoalan ilmu di sini bukanlah dalam arti bahwa umat Islam harus mengejar ketertinggalannya dalam ilmu sains dan teknologi sebagaimana sangkaan banyak orang. Bukan ini masalah utamanya. Masalah ilmu ini adalah masalah yang terkait dengan cara pandang, atau pandangan alam (worldview). Pandangan alam adalah cara seseorang atau masyarakat dalam memandang dirinya sendiri dan lingkungan di sekelilingnya.

Prof. Malik Badri dalam seminar ini menjelaskan bahwa setiap teori dan praktik keilmuan dan pendidikan tidak datang dari ruang kosong, tapi merupakan turunan dari pandangan alam ini. Pandangan alam ini dibentuk dari jawaban terhadap sejumlah pertanyaan mendasar, seperti siapakah manusia itu, dari mana asal-usul manusia, apakah alam ini memiliki Pencipta, apakah alam ini ada yang memelihara atau berjalan dengan sendirinya, apakah alam ini akan musnah atau kekal selamanya, benarkah ada kehidupan setelah mati, dan seterusnya.

“Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat diabaikan, dan jawaban manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pilar utama pada pandangan alam mereka,” jelas pakar psikologi Islam ini.

Sebagai contoh, jawaban mengenai apakah manusia itu. Dalam psikologi modern manusia dipandang sebagai salah satu jenis hewan, bukan makhluk pilihan Tuhan yang memiliki jiwa sebagaimana pandangan agama. Hal ini menyiratkan penyangkalan terhadap adanya dosa, sebab hewan tidak bisa dituntut atas kesalahan-kesalahannya. Dengan demikian maka manusia bisa berbuat sekehendaknya.

Namun, kenyataannya agama mengajarkan adanya hukum Tuhan yang harus dipatuhi manusia. Ada yang boleh dan ada yang dilarang. Tapi, manusia tidak mau menerima pengaturan ini, dan oleh karena itu mereka mengangkat dirinya sebagai ‘Tuhan’ sehingga ia membuat hukum versinya sendiri dan mengabaikan hukum Tuhan. Sebagai contoh, dulu perilaku homoseksual dipandang sebagai sesuatu yang tidak normal dan dikutuk Tuhan, namun kini di Barat homoseksual hanya dipandang sebagai alternatif lain dari heteroseksual. Dari sini bisa kita lihat, bagaimana pandangan alam manusia mengenai dirinya dan Tuhan menentukan penerimaan atau penolakan manusia terhadap perilaku homoseksual.

Hal serupa bukan saja terdapat pada ilmu psikologi, melainkan juga dapat ditemukan pada cabang-cabang ilmu lainnya, baik ilmu sosial maupun ilmu alam—yang tidak dapat kita bahas dalam ruang terbatas ini.

Lebih jauh Dr. Adi Setyawangsa dalam seminar ini menjelaskan bahwa, “Ilmu pengetahuan itu ibarat sebuah negara atau republik yang memiliki sistem dan aturan tertentu.” Sistem dan aturan itu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Sementara ilmu-ilmu semacam ini diimpor dari Barat dan diajarkan kepada para pelajar yang menuntut ilmu di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Oleh karena itu pakar sains Islam dari Malaysia ini mengingatkan perlunya masyarakat Muslim menentukan sistem dan aturan dalam penelitian sains menurut versinya sendiri.

Maka dari itu, misi utama Islamisasi adalah mengenali aspek-aspek mana saja dalam keilmuan ini yang bertentangan dengan pandangan alam Islam kemudian melakukan penyaringan dan penyesuaian sehingga lahir teori-teori dan praktik-praktik keilmuan Islami. Ini  bukan berarti bahwa Islamisasi menolak semua keilmuan yang berasal dari Barat. Islamisasi sejatinya bersifat menyaring yang kurang sesuai dan menyesuaikannya agar sesuai dengan pandangan alam Islam.

Hal inilah yang telah dilakukan oleh ulama-ulama Islam ketika mereka mempelajari karya-karya ilmuwan Yunani. Mereka tidak hanya menelannya mentah-mentah, tetapi melakukan penyaringan dan penyesuaian yang kemudian mengembangkan konsep keilmuannya sendiri yang berlandaskan pandang alam Islam. Hasilnya, karya-karya ilmuwan Muslim tersebut seperti al-Khawarizmi, al-Jazari, Ibnu Rusyd, al-Ghazali, Ibnu Haitsam, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, menjadi rujukan dunia selama ratusan tahun.

Dalam hal ini pendidikan tinggi berbasis Islam dapat memainkan peranan yang penting dalam islamisasi ini. Perguruan tinggi Islam diharapkan dapat menggali khasanah keilmuan Islam tanpa harus meninggalkan khasanah keilmuan modern. Selain itu pendidikan ini diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia bermoral dan takut kepada Allah. Karena pendidikan adalah masalah karakter, bukan sekedar apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. “Kalau ada orang yang mengaku berilmu tapi kerjanya menggugat dan menentang Allah, itu sebenarnya mengindikasikan kejahilan atau kebodohan, bukan keilmuan,” ujar Dr. Anis Malik Thoha (lihat : Obrolan)

Tentu saja masalah ini tidak akan selesai dalam satu-dua seminar, atau satu-dua tahun penelitian. Mungkin perlu waktu puluhan tahun untuk bisa menyaksikan hasilnya. Tapi dengan ketekunan dan kerja keras, dengan izin Allah, islamisasi ini akan membuahkan hasil sebagaimana yang dicita-citakan.

Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya

Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya[1] Oleh: Usep Mohamad Ishaq (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, PIMPIN)   Pendahuluan Telah banyak para ‘ulama, pemikir, ilmuwan, dan tokoh kontemporer yang mencoba mengatasi kemunduran ummat Islam yang terjadi saat ini. Kiprah mereka untuk melakukan gerakan perbaikan (ishah) sudah dilancarkan di seluruh dunia Islam berpuluh-puluh tahun lamanya dengan berbagai metoda dan sarana. Meskipun terdapat perbedaan Selengkapnya […]

Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya[1]

Oleh: Usep Mohamad Ishaq (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, PIMPIN)

Pendahuluan

Telah banyak para ‘ulama, pemikir, ilmuwan, dan tokoh kontemporer yang mencoba mengatasi kemunduran ummat Islam yang terjadi saat ini. Kiprah mereka untuk melakukan gerakan perbaikan (ishah) sudah dilancarkan di seluruh dunia Islam berpuluh-puluh tahun lamanya dengan berbagai metoda dan sarana. Meskipun terdapat perbedaan dalam metoda dan sarana, akan tetapi terdapat benang merah dari pandangan mereka tentang penyebab utama kemerosotan ummat Islam dewasa ini. Sekadar untuk menyebutkan contoh, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan:

Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. (lihat: Nizham al-Islam). Tokoh lain Syaikh Hassan al-Banna dalam  Bayna al-ams wa al-yawm misalnya mengatakan bahwa diantara faktor kemenangan Islam adalah kita mengajak dengan fikrah Islam, suatu fikrah yang paling kuat. Serangan pemikiran barat melalui pendidikan adalah salah satu pintu masuk kehancuran umat Islam. Sayyid Quthb di sisi lain mengatakan bahwa masalah utama yang dihadapi ummat Islam adalah cengkraman pemikiran Barat (lihat: Khashais at-Tashawwur Islamiy wa Muqawwamatuh).

Tokoh pergerakan lain, misalnya Abu’l A’la Mawdudi mengatakan bahwa Penyebab utama keruntuhan ummat Islam adalah serbuan pemikiran dan budaya barat, baik melalui pintu penjajahan fisik maupun non fisik. (Sebagai solusi) diperlukan sejumlah sarjana , intelektual, pemikir dan pembaharu yang berakhlaq terpuji dan semangat tinggi yang mampu menempati berbagai posisi dan jabatan. Mereka bertugas untuk menolak pemikiran Barat yang merusak dan mengambil yang bermanfaat. (lihat: Waqi’ul Muslimin Sabil an-Nuhudh bihim).

Pakar pendidikan Islam Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas secara jeli melihat lebih mendasar, yakni bahwa permasalahannya tidak hanya keterbelakangan dalam pendidikan dan serbuan pemikiran Barat, namun lebih dalam dari itu, serbuan itu telah mengakibatkan kebingunan dan kekeliruan dalam hal ilmu (confusion and error of knowledge).  Menurut al-Attas, akibat dari kebingunan dan kekacauan terhadap ilmu akan menghasilkan kerusakan dan hilangnya terhadap adab (loss of adab). Hilangnya adab dari masyarakat ini memunculkan para pemimpin yang rusak dan palsu dan menghasilkan kebijakan-kebijakan keliru di segala bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Inilah yang disebut oleh al-Attas sebagai vicious circle.

Ringkasan Konsep Ilmu Dalam Islam

Tidak ada agama, ideologi, kebudayaan dan peradaban lain selain Islam yang menempatkan ilmu dalam tempat yang begitu penting. Sebagai gambaran, Rosenthal menuliskan bahwa sekurangnya terdapat 750 kali kemunculan istilah yang berkaitan dengan kata ‘-l-m, jika kita hitung secara kasar bahwa dalam al-Qur’an terdapat 78.000 kata, maka kata yang berkaitan dengan ‘-l-m mengambil satu persennya. Jumlah ini belum termasuk istilah lain yang berkaitan seperti f-q-h, d-b-r, f-h-m, dan ‘-q-l, sebuah frekuensi kemunculan yang tidak biasa di dalam al-Qur’an.[2] Frekuensi kemunculan yang tinggi dan dengan didukung berbagai bukti lain menunjukkan tingginya posisi ilmu di dalam IslÉm, bahkan Allah subhanahhu wa Ta‘ala sendiri mensifati diri-Nya dengan al-‘alim. Terdapat banyak penjelasan tentang hakikat ilmu di dalam IslÉm melebihi apa yang ada dalam agama, kebudayaan dan peradaban lainnya, tidak diragukan lagi hal ini disebabkan oleh kedudukan yang sangat tinggi dan peranannya yang besar.

Barat mempersempit makna ilmu  menjadi sains modern (modern science), yaitu ilmu yang tunduk pada suatu metoda ilmiah (scientific methods: logico-hypothetico-verificatif) dan hanya berhubungan dengan fenomena (sesuatu yang empiris),  dan beranggapan bahwa sains modern adalah satu-satunya ilmu yang otentik.[3] Dengan demikian ilmu-ilmu yang bersumber kepada Wahyu dan berhubungan dengan hal yang gaib menjadi terkeluarkan dari sains dan tidak digolongkan pada ilmu atau tidak ilmiah. Demikian juga ilmu-ilmu yang bersumber dari Kitab Suci al-Qur’an; Hukum yang diwahyukan (shari‘ah); Sunnah; Islam; Keimanan (iman); Ilmu Spiritual  (al-‘ilm al-ladunniyy), Kebijaksanaan (hikmah) dan ma‘rifah, dan lain-lain.

Menurut IslÉm, Ilmu datang dari Allah Tuhan Semesta Alam, dan diperoleh melalui sejumlah saluran yaitu[4]:

  • Berita yang benar dan bersumber dari otoritas (al-khabar ash-shadiq), di dalamnya adalah al-Qur’an dan sunnah.
  • Panca Indera (al-hiss al-mushtarak) yang sehat
  • Akal yang sehat
  • Intuisi

Dengan demikian saluran ilmu (epistemologi) Islam lebih luas cakupannya dari epistemologi Barat. Islam mengakui ilmu yang datang melalui panca indera seperti metoda eksperimental, juga yang datang melalui akal rasional, namun Islam juga menempatkan ilmu yang bersumber pada kitab suci, sunnah pada tempat yang tertinggi. Penempatan sumber-sumber ilmu inilah yang juga disebut adab terhadap ilmu, yaitu mengakui adanya hirarki dalam ilmu dan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang semestinya. Karenannya cakupan ilmu dalam konsep Islam meliputi baik yang bersumber dari al-Qur’an, sunnah dan ilmu-ilmu shar‘ah (yang dikenal masyarakat awam sebagai “ilmu agama”) juga ilmu-ilmu yang mempelajari alam semesta (yang dikenal masyarakat awam sebagai “ilmu dunia”). Dalam konsep Islam tidak ada pemisahan antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”, yang ada adalah adanya pembedaan yang bersifat maratib (derajat) dan prioritas. Karenanya dikenal pembagian ilmu menjadi ilmu fardh ‘ayn dan ilmu fardh kifayah. Atau pembedaan dari segi cara memperolahnya, seperti ilmu mu‘ammalah dan ilmu mukashafah.

Tujuan utama dari pencarian ilmu, juga termasuk ilmu alam (sains), adalah mengenal Allah. Untuk memahami hal ini, kita perlu melihatnya dari aspek bahasa. Terdapat hubungan yang erat antara ilmu (‘ilm),  alam (‘alam), dan al-Khaliq. Untuk menggambarkan secara singkat hal ini, marilah kita lihat kata ‘ilm, sebuah istilah yang digunakan dalam bahasa Arab untuk menunjukkan ilmu. Kata ‘ilm yang berasal dari akar kata yang terdiri dari 3 huruf, ‘-l-m, atau ‘alam. Arti dasar yang terkandung dalam akar kata ini adalah ‘alamah, yang berarti “petunjuk arah”. Al-Raghib al-Isfahani (1997, s.v. “‘a-l-m”) menjelaskan bahwa al-‘alam adalah “jejak (atau tanda) yang membuat sesuatu menjadi diketahui’ (”al-atsar alladzi yu‘lam bihi syai’”). Franz Rosenthal memberikan pandangannya yang menarik, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particulary close and takes on especial significace in the Arabian environment.[5]Jadi kita melihat ada keterkaitan yang erat antara way sign (petunjuk arah) dengan knowledge (ilmu atau pengetahuan). Kemudian‘a-l-m juga ternyata akar kata bagi istilah yang sudah menjadi bahasa Indonesia, yaitu alam atau dalam bahasa arab ‘aalam yang secara umum berarti jagat raya-alam semesta yang mencakup apa yang ada di luar kita afaq atau makrokosmos (al-‘alam al-kabir)  dan juga termasuk apa-apa yang ada di dalam diri kita atau anfus atau mikrokosmos (al-‘aalam al-shaagir), yang dapat dipelajari dan diketahui. Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur’Én dan al-Hadits, bahwa semua benda dan kejadian di alam raya (universe) merupakan ayat Tuhan (tunggal, ayah), yaitu petunjuk-petunjuk dan simbol-simbol Tuhan.[6]

Kini menjadi jelas bahwa tujuan utama dari mencari ilmu adalah mengenal Allah (ma‘rifatuLlah), dan dengan mengenalnya timbul rasa takut dan tunduk kepada-Nya: “sesungguhnya yang takut kepada AllÉh diantara hamba-hamba-Nya adalah para ‘ulama’ (QS. 35:28).  Banyak para ‘ulama’, misalnya Imam al-Ghazali yang memperingatkan agar berhati-hati dalam niat mencari ilmu, dan tidak dibenarkan mencari ilmu untuk tujuan duniawi seperti harta dan kedudukan.[7] Ibn Hazm bahkan mengecam mereka yang mencari ilmu untuk tujuan duniawi, dan mengatakan bahwa dunia bisa dicapai dengan cara yang lebih mudah. Para ilmuwan muslim pada umumnya tidak pernah menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan untuk pencarian ilmu. Sebaliknya, harta dan jabatan adalah sarana untuk pencarian ilmu. Ibnu Rusyd, Ibn Hazm, dan Ibn Khaldun adalah ilmuwan yang berasal dari keluarga kaya. Kekayaannya tidak menghentikan mereka dalam pencarian ilmu. Sebaliknya, al-Jahidz, Ibn Siddah, Ibn Baqi, all-Bajji, adalah beberapa contoh ilmuwan yang miskin, namun kemiskinan tidak menghalangi kegairahan mereka terhadap ilmu. Jadi jelas bahwa harta dan kekayaan bukan tujuan mereka, ada dan tidak adanya harta tidak mengurangi gairah mereka terhadap ilmu. Ada suatu motif yang lebih luhur dalam pencarian mereka terhadap ilmu. Sikap dan pandangan para ilmuwan Islam ini tentu lahir dari sebuah konsep tentang ilmu, lebih luas lagi dari sebuah pandangan hidup, yakni worldview Islam tentang ilmu.

Ilmu erat kaitannya juga dengan pendidikan, namun pendidikan dalam IslÉm bukan terbatas pada transfer ilmu dari guru kepada murid (instruction), pendidikan adalah sebuah proses untuk membentuk manusia yang tidak hanya berilmu namun juga beradab. Karena itulah istilah yang lebih tepat untuk pendidikan adalah ta’dib yang meliputi ta‘lÊm dan juga tarbiyah.[8] Dalam kamus bahasa Indonesia sendiri makna “didik” meliputi “pemeliharaan” dan “pengajaran” sekaligus serta “cara” (berlaku). Sehingga “pendidikan” lebih dekat kepada konsep “ta’dib”. Makna dari “adab” adalah kemampuan seseorang menempatkan sesuatu pada tempat yang benar, atau “cara berbuat yang benar”, “benar” di sini tentu menurut timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena itu tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah ditekankan utamanya membentuk individu yang beradab atau individu yang baik. Seorang individu yang beradab akan mengetahui tempat yang tepat untuk dirinya di dalam masyarakat dan mampu menempatkan orang dengan tepat pula, dari sinilah proses islah itu dijalankan dalam sebuah masyarakat.[9]

Dampak Sekularisasi Terhadap Ilmu dan Dampaknya pada Loss of Adab

Permasalahannya adalah saat ini, istilah-istilah ilmu, pengetahuan, sains (science), informasi, desas-desus, pendapat atau opini, spekulasi dan lain-lain bercampur baur dan disebut ilmu (al-‘ilmu) dan dipercaya sebagai kebenaran. Kekacauan terhadap pemahaman ilmu inilah yang menyebabkan kekacauan dalam tubuh ummat IslÉm, yang memberi dampak pada kekacauan adab, melahirkan pemimpin yang palsu dan kekacauan secara keseluruhan. Prof. Syed MuÍammad Naquib al-Attas menyebutkan:

“Telah banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kekeliruan manusia sepanjang sejarah, tetapi barangkali tidak ada yang lebih serius dan lebih merusak terhadap manusia daripada tantangan yang dibawa oleh peradaban Barat hari ini. Saya berani mengatakan bahwa tantangan terbesar yang muncul secara diam-diam di zaman kita adalah tantangan ilmu, sesungguhnya bukan sebagai lawan kejahilan, tetapi ilmu yang difahami dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat; hakikat ilmu telah menjadi bermasalah karena ia telah kehilangan tujuan hakikinya akibat dari pemahaman yang tidak adil.”[10]

Bagian-bagian utama dari dimensi sekularisasi adalah: ‘penghilangan pesona dari alam tabii’ (disenchantment of nature), peniadaan kesucian dan kewibawaan agama dari politik (desacralization of politics) dan penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai agama dari kehidupan (deconsecration of values)[11]. Hal ini membawa dampak hilangnya wahyu sebagai sumber ilmu dan akal dan pancaindera digunakan alat pencarian kebenaran satu-satunya. Karena “keraguan” (doubt) dipakai sebagai metoda berfikir. Hilangnya wahyu ini membawa dampak pada relatifnya nilai-nilai moral dan kebenaran. Ilmu (sains modern) dilepaskan dari kerangka metafisikanya atau kerangka agama. Sains dipakai semata-mata untuk tujuan duniawi tanpa ada kaitan dengan nilai-nilai moral ilahiah. Di wilayah politik, lahirnya demokrasi sebagai ideologi adalah keinginan manusia untuk lepad dari otoritas Tuhan dan nilai-nilai yang membelenggunya. Akhirnya keberhasilan sekularisasi politik  berimplikasi pada terkikisnya tatanan akhlaq, etika dan moral politik kontemporer yang merupakan esensi dari ajaran agama (Islam) itu sendiri. Dengan demikian jadilah para politisi terjun bebas ke jurang nalar machiavelis ”al-ghayah tubarriru al-wasilah” (tujuan dicapai dengan cara menghalalkan segala macam cara).[12]

Prof. Al-Attas mengidentifikasi bahwa kebingungan dalam ilmu dan pandangan alam (worldview) IslÉm menghasilkan pemimpin-pemimpin palsu muncul dan berkembang serta menimbulkan keadaan ketidakadilan dalam berbagai bidang. Ketidakadilan ini tetap berlangsung dalam tubuh ummat meskipun para pemimpin itu  berganti. Al-Attas mengurutkan kerusakan dalam ummat sebagai berikut:

  1. Kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu yang menyebabkan keadaan:
  2. Kehilangan adab di kalangan Umat. Keadaan yang timbul dari (1) dan (2) adalah:
  3. Kemunculan pemimpin-pemimpin yang tidak layak untuk kepemimpinan yang sah bagi umat IslÉm, yang tidak memiliki taraf moral, intelektual dan spriritual yang tinggi yang disyaratkan untuk kepemimpinan IslÉm, yang melestarikan keadaan pada (1) di atas dan menjamin penguasaan urusan Umat yang berkelanjutan oleh pemimpin-pemimpin seperti mereka yang menguasai semua bidang.

Semua akar dilema umum kita di atas adalah saling bergantung dan merupakan suatu lingkaran setan (vicious circle). Tetapi sebab utama adalah kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu, dan guna mematahkan lingkaran setan tersebut dan menyelesaikan masalah ini, pertama-tama kita harus menangani masalah hilangnya adab, karena tidak ada ilmu yang benar dapat dikuasai tanpa pra-syarat adab pada penuntutnya dan kepada siapa ilmu itu diberikan. Secara ilustratif lingkaran setan tersebut digambarkan di bawah.

Proses ishlah (perbaikan) terhadap ummat harus diselesaikan melalui pendidikan (ta’dib), terutama sekali pada tinggkat pendidikan dewasa (tinggi).

Wallahu a’lam bishawab


[1] Kursus Penyelenggaraan Proyek Islamisasi ilmu Pengetahuan Kontemporer di Universitas-Universitas Sekuler di Indonesia (IUS Indonesia) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, UPI Bandung Mei 2011.

[2] Rosenthal, Franz. Knowledge Triumphant The Concept of Knowledge in Medieval Islam. Brill. pp. 19.

[3] Disebut sains Barat modern karena dalam pandangan Barat pun pada awalnya sains (scientia) tidak dibatasi pada cakupan sains modern seperti saat ini, science juga mencakup divine science. Secara bahasa, awalnya scientia, logos, knowledge adalah sama yakni pengetahuan.

[4] Lebih lanjut tentang sumber ilmu menurut Islam, lihat karya Prof. Al-Attas Islam and The Philosophy of Science dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam pp. 111-142.

[5] Rosenthal, Franz, “Triumphant of Knowledge”, hlm. 10.

[6] Contoh dari ayat-ayat Tuhan itu adalah ali-Imran 190; Yunus 5-6; al-Hijr 16, 19-23, 85; an-Nahl 3, 5-8, 10-18, 48, 65-69, 72-74, 78-81; al-Anbiya 16; al-Naml 59-64; Ghafir, al-Mu’min 61; al-Mulk 2-5, 15, dan Fushilat 53.

[7] Al-GhazÉlÊ, BidÉyat Al-HidÉyah, DÉrul Kutub Al-IslÉmiyah. Hlm. 8.

[8] Daud, Wan Mohd Nor Wan. The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas.  ISTAC 1998, pp. 134.

[9] Contoh yang baik bagaimana proses iÎlah yang dimulai dari pendidikan adalah kasus direbutnya Palestina oleh ØalahuddÊn al-Ayyubi dalam buku “Haakadza dhahara jÊlu ØalahiddÊn” yang akan dibedah nanti.

[10] al-Attas, Syed MuÍammad Naquib, Islam dan Sekularisme, Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, hlm.  169.

[11] Al-Attas, S.M.N. Islam and Secularism. ISTAC. pp. 18

[12]Disampaikan dalam kuliah umum yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada hari Sabtu 13 Desember 2008, dengan tema ”Dewesternisasi, Dekolonisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan