Perlukah Islamisasi Ilmu?

“Islamisasi merupakan sebuah keharusan.” Demikian penegasan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin dalam pidato pembuka International Seminar on Islamic Education di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor pada 18-19 Mei 2011 yang lalu. Seminar yang bertemakan “Islamization of Higher Education : Models and Experience in Muslim Worlds” ini menghadirkan sejumlah ilmuwan Muslim dari berbagai negara seperti Prof. Malik Badri (Sudan), Dr. Kabuye Uthman Sulaiman (Uganda),  Dr. Saadeldin Selengkapnya […]

“Islamisasi merupakan sebuah keharusan.” Demikian penegasan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Didin Hafidhuddin dalam pidato pembuka International Seminar on Islamic Education di Universitas Ibnu Khaldun (UIKA), Bogor pada 18-19 Mei 2011 yang lalu.

Seminar yang bertemakan “Islamization of Higher Education : Models and Experience in Muslim Worlds” ini menghadirkan sejumlah ilmuwan Muslim dari berbagai negara seperti Prof. Malik Badri (Sudan), Dr. Kabuye Uthman Sulaiman (Uganda),  Dr. Saadeldin Mansour Gasmelsid (Sudan), Dr. Muhammad Azzazi (Mesir), Dr. Ssekamanya Siraje Abdallah (Uganda),  Dr. Benaouda Bensaid (Kanada),  Dr Adi Setiawangsa (Malaysia),  Prof. Abuddin Nata (Indonesia), Dr. Anis Malik Thoha (Indonesia), Dr. Syamsuddin Arif (Indonesia), dan  Dr. Adian Husaini (Indonesia).

Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan isu penting yang telah digulirkan oleh sejumlah cendekiawan Islam sejak 1960-an, diantaranya oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi, Seyyed Hossein Nasr, Wan Mohd Nor Wan Daud, Muzaffar Iqbal, dan lain-lain. Hingga saat ini isu ini masih menjadi perhatian dan pengkajian berbagai cendekiawan Muslim di seluruh dunia. Sejumlah institusi pengkajian Islam dan perguruan tinggi telah didirikan untuk menanggapi isu ini seperti IIIT di Amerika, ISTAC di Malaysia, IIUI Pakistan, dan CIS di Kanada. Beberapa perguruan tinggi Islam di Indonesia, termasuk UIKA sendiri, didirikan dengan semangat Islamisasi ini.Mengapa harus Islamisasi? Syed Muhammad Naquib al-Attas di dalam Konferensi Umat Islam Dunia di Mekah tahun 1977 menjelaskan bahwa faktor utama kemunduran umat Islam adalah karena masalah keilmuan. Tanpa bermaksud mengabaikan faktor-faktor lain seperti masalah ekonomi, politik, dan militer, pendiri ISTAC (Institute of Islamic Thought and Civilization) tersebut menegaskan bahwa masalah ilmu merupakan persoalan paling mendasar di tubuh umat Islam. Tanpa menyelesaikan masalah ini, umat Islam tidak akan mampu bangkit dari kemunduran ini.

Persoalan ilmu di sini bukanlah dalam arti bahwa umat Islam harus mengejar ketertinggalannya dalam ilmu sains dan teknologi sebagaimana sangkaan banyak orang. Bukan ini masalah utamanya. Masalah ilmu ini adalah masalah yang terkait dengan cara pandang, atau pandangan alam (worldview). Pandangan alam adalah cara seseorang atau masyarakat dalam memandang dirinya sendiri dan lingkungan di sekelilingnya.

Prof. Malik Badri dalam seminar ini menjelaskan bahwa setiap teori dan praktik keilmuan dan pendidikan tidak datang dari ruang kosong, tapi merupakan turunan dari pandangan alam ini. Pandangan alam ini dibentuk dari jawaban terhadap sejumlah pertanyaan mendasar, seperti siapakah manusia itu, dari mana asal-usul manusia, apakah alam ini memiliki Pencipta, apakah alam ini ada yang memelihara atau berjalan dengan sendirinya, apakah alam ini akan musnah atau kekal selamanya, benarkah ada kehidupan setelah mati, dan seterusnya.

“Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat diabaikan, dan jawaban manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pilar utama pada pandangan alam mereka,” jelas pakar psikologi Islam ini.

Sebagai contoh, jawaban mengenai apakah manusia itu. Dalam psikologi modern manusia dipandang sebagai salah satu jenis hewan, bukan makhluk pilihan Tuhan yang memiliki jiwa sebagaimana pandangan agama. Hal ini menyiratkan penyangkalan terhadap adanya dosa, sebab hewan tidak bisa dituntut atas kesalahan-kesalahannya. Dengan demikian maka manusia bisa berbuat sekehendaknya.

Namun, kenyataannya agama mengajarkan adanya hukum Tuhan yang harus dipatuhi manusia. Ada yang boleh dan ada yang dilarang. Tapi, manusia tidak mau menerima pengaturan ini, dan oleh karena itu mereka mengangkat dirinya sebagai ‘Tuhan’ sehingga ia membuat hukum versinya sendiri dan mengabaikan hukum Tuhan. Sebagai contoh, dulu perilaku homoseksual dipandang sebagai sesuatu yang tidak normal dan dikutuk Tuhan, namun kini di Barat homoseksual hanya dipandang sebagai alternatif lain dari heteroseksual. Dari sini bisa kita lihat, bagaimana pandangan alam manusia mengenai dirinya dan Tuhan menentukan penerimaan atau penolakan manusia terhadap perilaku homoseksual.

Hal serupa bukan saja terdapat pada ilmu psikologi, melainkan juga dapat ditemukan pada cabang-cabang ilmu lainnya, baik ilmu sosial maupun ilmu alam—yang tidak dapat kita bahas dalam ruang terbatas ini.

Lebih jauh Dr. Adi Setyawangsa dalam seminar ini menjelaskan bahwa, “Ilmu pengetahuan itu ibarat sebuah negara atau republik yang memiliki sistem dan aturan tertentu.” Sistem dan aturan itu menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak bermanfaat. Sementara ilmu-ilmu semacam ini diimpor dari Barat dan diajarkan kepada para pelajar yang menuntut ilmu di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Oleh karena itu pakar sains Islam dari Malaysia ini mengingatkan perlunya masyarakat Muslim menentukan sistem dan aturan dalam penelitian sains menurut versinya sendiri.

Maka dari itu, misi utama Islamisasi adalah mengenali aspek-aspek mana saja dalam keilmuan ini yang bertentangan dengan pandangan alam Islam kemudian melakukan penyaringan dan penyesuaian sehingga lahir teori-teori dan praktik-praktik keilmuan Islami. Ini  bukan berarti bahwa Islamisasi menolak semua keilmuan yang berasal dari Barat. Islamisasi sejatinya bersifat menyaring yang kurang sesuai dan menyesuaikannya agar sesuai dengan pandangan alam Islam.

Hal inilah yang telah dilakukan oleh ulama-ulama Islam ketika mereka mempelajari karya-karya ilmuwan Yunani. Mereka tidak hanya menelannya mentah-mentah, tetapi melakukan penyaringan dan penyesuaian yang kemudian mengembangkan konsep keilmuannya sendiri yang berlandaskan pandang alam Islam. Hasilnya, karya-karya ilmuwan Muslim tersebut seperti al-Khawarizmi, al-Jazari, Ibnu Rusyd, al-Ghazali, Ibnu Haitsam, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, menjadi rujukan dunia selama ratusan tahun.

Dalam hal ini pendidikan tinggi berbasis Islam dapat memainkan peranan yang penting dalam islamisasi ini. Perguruan tinggi Islam diharapkan dapat menggali khasanah keilmuan Islam tanpa harus meninggalkan khasanah keilmuan modern. Selain itu pendidikan ini diharapkan dapat menghasilkan manusia-manusia bermoral dan takut kepada Allah. Karena pendidikan adalah masalah karakter, bukan sekedar apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. “Kalau ada orang yang mengaku berilmu tapi kerjanya menggugat dan menentang Allah, itu sebenarnya mengindikasikan kejahilan atau kebodohan, bukan keilmuan,” ujar Dr. Anis Malik Thoha (lihat : Obrolan)

Tentu saja masalah ini tidak akan selesai dalam satu-dua seminar, atau satu-dua tahun penelitian. Mungkin perlu waktu puluhan tahun untuk bisa menyaksikan hasilnya. Tapi dengan ketekunan dan kerja keras, dengan izin Allah, islamisasi ini akan membuahkan hasil sebagaimana yang dicita-citakan.

Dr. Anis Malik Thoha: Pendidikan Sekular Terbukti Bangkrut

Tidak banyak cendekiawan Muslim yang menguasai khasanah Islam dan Barat sekaligus. Salah satunya adalah Dr. Anis Malik Thoha. Pria kelahiran Demak 31 Desember 1964, ini terkenal kritis bila berbicara tentang peradaban Barat, namun tetap menggunakan argumentasi ilmiah yang kokoh. Maka tidak mengherankan disertasinya berjudul: “Al-Taaddudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah” (Pluralisme Agama, Pandangan Islam) diganjar Gold Medal dari International Islamic University Islamabad (2005) dan Isma’il Selengkapnya […]

Tidak banyak cendekiawan Muslim yang menguasai khasanah Islam dan Barat sekaligus. Salah satunya adalah Dr. Anis Malik Thoha. Pria kelahiran Demak 31 Desember 1964, ini terkenal kritis bila berbicara tentang peradaban Barat, namun tetap menggunakan argumentasi ilmiah yang kokoh. Maka tidak mengherankan disertasinya berjudul: “Al-Taaddudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah” (Pluralisme Agama, Pandangan Islam) diganjar Gold Medal dari International Islamic University Islamabad (2005) dan Isma’il Al-Faruqi Publications Award dari International Islamic University Malaysia (2006). Karyanya yang diindonesiakan menjadi “Tren Pluralisme” ini juga meraih Best Non-Fiction Award dari Islamic Book Fair 2007. Saat ini Khatib ‘Aam Syuriah NU cabang Malaysia ini masih tercatat sebagai Assistant Profesor di Department Ushuluddin and Comparative Religion, International Islamic University Malaysia (IIUM).

***

Menurut Anda apa permasalahan utama perguruan tinggi di tanah air saat ini?

Menurut saya masalah yang dihadapi pendidikan kita pada umumnya sangat kompleks. Masalah ini tidak saja menyangkut corak dan mutu pendidikan formal yang ada tapi juga keterjangkauannya bagi semua lapisan masyarakat kita, khususnya pendidikan tinggi yang semakin lama malah semakin mewah.  Selain itu corak pendidikan saat ini tidak lagi tidak mencerminkan jati-diri dan karakter sebuah bangsa yang merdeka. Meski secara fisik Indonesia telah merdeka, namun kultural “terkesan“ senang dijajah, dan bahkan menyerahkan diri secara sukarela untuk dijajah.

Bagaimana halnya dengan perguruan tinggi Islam?

Kondisi ini berlaku untuk semua jenis dan level pendidikan, termasuk pendidikan tinggi Islam. Memang, pada awalnya sudah ada upaya serius dari pihak pemerintah untuk mendirikan perguruan tinggi yang Islami dan dinamakan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN). Hanya saja, karena satu dan lain sebab, konsep PTAI ini tidak berkembang sebagaimana diidealkan, sehingga hanya sebatas fakultas-fakultas keislaman saja: Ushuluddin, Syari’ah, Tarbiyah, dan Dakwah. Inilah yang nampaknya kemudian mendasari dirubahnya menjadi institut, yaitu IAIN.

Sayangnya, yang terjadi kemudian adalah fenomena paradoks. Bagaimana tidak! Orang-orang yang belajar Ushuluddin malah mempertanyakan prinsip-prinsip Islam dan orang yang belajar Syari’ah malah menggugat syariat Islam. Dan yang sangat menggelikan, di saat yang sama, ketika ekonomi Islam dan Islamic banking lagi boom dan naik daun seperti sekarang ini, IAIN yang sudah mengkonversi-diri menjadi UIN pun tidak ragu-ragu membuka program ekonomi Islam dan Islamic banking. Kan lucu, seakan-akan ekonomi Islam dan Islamic banking itu nggak ada kaitannya sama sekali dengan syari’ah.Mengapa bisa terjadi seperti itu?

Jika kita telisik ternyata penyebab utama paradoks ini kan Barat yang menjadi kiblat pendidikan kita. Padahal para pakar dan praktisi pendidikan di Barat sendiri sudah mulai merasakan krisis yang serius yang melanda sistem pendidikan tinggi mereka, kok kita masih setia mengikuti Barat.

Bisakah Anda memberikan contohnya?

Salah satu contoh kegundahan ini dapat dilihat pada buku yang berjudul Excellence without a Soul (kecemerlangan tanpa ruh/jiwa), ditulis oleh Prof. Harry R. Lewis, seorang bekas dekan Harvard College yang memimpin selama kurang lebih 10 tahun. Menurut professor yang pernah mengajar Bill Gates, bos Microsoft, sistem pendidikan Harvard, dan Barat pada umumnya, telah berhasil menciptakan robot-robot bernyawa (manusia), atau manusia yang tak memiliki jiwa sebagai manusia. Kekayaan material dan penguasaan ekonomi dan alam telah mereka capai, tapi hal ini tidak serta-merta menjamin kebahagiaan yang diidam-idamkan setiap manusia. Terbukti dengan semakin tingginya kasus-kasus depresi dan bunuh-diri yang terus menerus meningkat angkanya dari tahun ke tahun. Semua ini bisa dikatakan sebagai efek langsung atau tidak langsung dari pendidikan sekular yang “soulless” tadi.

Dengan kata lain sistem pendidikan sekular dan liberal telah terbukti kebankrutannya, sehingga Barat sendiri mencoba keluar dari krisis ini. Dalam hal ini, cara yang paling rasional adalah  melakukan desekularisasi atau deliberalisasi (membuang pandangan sekular tadi dan kembali kepada agama – ed). Namun bagi Barat, cara ini tentu tidak mudah, untuk tidak mengatakan hampir mustahil, dikarenakan beban sejarah agama-budaya mereka karena Gereja pada abad kegelapan memusuhi sains dan setiap penemuan saintifik melalui institusi inquisition-nya.

***

Dibesarkan dalam keluarga dan tradisi santri telah membentuk ghirah keislaman yang kuat dalam diri suami Zumrotus Sa’adah ini. Pendidikan sejak Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) hingga Madrasah Aliyah (setara SMA) ditempuhnya di Pondok Pesantren Mathali’ul Falah Pati asuhan KH Sahal Mahfudz. Selepas dari pesantren, pria yang fasih berbahasa Arab dan Inggris ini memberanikan diri mendaftar di Universitas Madinah dan diterima di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Meski gagal masuk Fakultas Bahasa Arab yang diidamkannya, pria berpembawaan tenang ini justru mendapat hikmah dari kegagalan yang mengantarnya terjun dalam kancah perang pemikiran. Setamat dari Universitas Madinah, ia melanjutkan pendidikan Masternya di Universitas Punjab di bidang Studi Islam dan Doktoral di International Islamic University Islamabad (IIUI) dalam bidang Perbandingan Agama. Ketika menamatkan Doktornya di IIUI tahun 2005, mahasiswa yang hampir saja gagal menyelesaikan disertasinya ini setelah laptopnya basah terkena hujan ini, dinobatkan sebagai lulusan terbaik di IIUI.

***

Lalu, bagaimana seharusnya umat Islam menghadapi krisis ini?

Bagi kita umat Islam, cara desekularisasi atau deliberalisasi yang paling menjanjikan adalah “Islamisasi”. Islamisasi di sini dalam arti yang sebenarnya dan sepenuhnya (kaffah), yang mencakup konsep, landasan filosofis, visi dan misi pendidikan, juga kurikulumnya. Jadi, semuanya ini harus diislamkan, disyahadatkan, ditauhidkan, yakni disesuaikan dengan, atau lebih tepatnya ditundukkan kepada iradah Allah (kehendak Allah SWT) terhadap semua makhlukNya. Semuanya mesti dibangun dalam framework worldview atau weltanschauung Islam yang komprehensif dan balance.

Maka dengan sendirinya sistem pendidikan yang bersyahadat dan bertauhid ini akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang menjunjung tinggi karakter dan moral etika serta “khasyyatullah” (takut dosa, azab, dan neraka-Nya) sesuai dengan yang ditegaskan al-Qur’an surat Fathir: 28 (innama yakhsya Allaha min ibadih al-ulama’ – diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya hanyalah orang-orang yang berilmu). Nah, parameter keilmuan dalam Islam itu adalah “khasyyatullah” ini. Jadi, kalau ada orang yang mengaku berilmu tapi kerjanya menggugat dan menentang Allah, itu sebenarnya mengindikasikan kejahilan atau kebodohan, bukan keilmuan. (Wendi Zarman)

Tulisan ini telah dimuat di Harian Pikiran Rakyat tanggal 16 Juni 2011

Universitas: Antara Islam dan Barat

Tidak banyak yang mengetahui bahwa ide universitas modern sebenarnya berasal dari dunia Islam. Hal ini tidaklah mengherankan karena universitas di dunia Islam jauh lebih dahulu muncul daripada universitas tertua di Barat. Universitas paling awal di Eropa Barat muncul pada sekitar abad kedua belas, bandingkan dengan universitas Qarrawiyin di Fez (Maroko) yang berdiri sejak 859 M dan al-Ahzar di Kairo (Mesir) yang berdiri tahun 975 M. Kemiripan ini dapat dilihat dari beberapa kemiripan dari istilah Selengkapnya […]

Tidak banyak yang mengetahui bahwa ide universitas modern sebenarnya berasal dari dunia Islam. Hal ini tidaklah mengherankan karena universitas di dunia Islam jauh lebih dahulu muncul daripada universitas tertua di Barat. Universitas paling awal di Eropa Barat muncul pada sekitar abad kedua belas, bandingkan dengan universitas Qarrawiyin di Fez (Maroko) yang berdiri sejak 859 M dan al-Ahzar di Kairo (Mesir) yang berdiri tahun 975 M.

Kemiripan ini dapat dilihat dari beberapa kemiripan dari istilah universitas modern dengan tradisi universitas Islam terdahulu. Kata university sendiri diambil dari bahasa latin universitas. Wan Mohd Nor Wan Daud menjelaskan bahwa istilah ini merupakan istilah yang berasal dari tradisi Islam yaitu kulliyat yang bermakna universal. Penggunaan istilah ini dikarenakan ilmu di dalam Islam dipahami sebagai sesuatu yang universal.Universitas di dunia Islam pada dasarnya dipahami sebagai institusi yang merefleksikan seorang manusia universal (al-insan al-kulli atau al-insan al-kamil). Di dalam Islam sosok insan kamil ini dicerminkan dari sosok Nabi Muhammad saw. Itu sebabnya tujuan pendirian universitas di dalam Islam adalah menghasilkan manusia universal yang berilmu dan beramal shalih seperti Nabi Muhammad saw.

Karena universitas merupakan peniruan terhadap sosok seorang manusia, maka universitas disusun dalam bagian-bagian yang disebut dengan quwwah yang memiliki pengertian kekuatan dalam organ tubuh. Istilah ini kemudian diadopsi oleh universitas di Barat dengan menggunakan istilah faculty (fakultas) yang merupakan terjemahan dari istilah quwwah.

Universitas-universitas di Barat mulanya juga didirikan untuk mencetak manusia-manusia universal yang menguasai berbagai cabang ilmu yang berkaitan, bukan seperti universitas saat ini yang mencetak para spesialis yang hanya menguasai suatu cabang ilmu sempit secara mendalam. Lulusannya haruslah mencitrakan seorang yang cerdas, bersikap tenang, memiliki cita rasa tinggi, mulia serta terhormat.

Namun, tidak seperti universitas di dunia Islam yang menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai contoh nyata manusia ideal, universitas di Barat tidak memiliki tokoh sentral serupa. Ada banyak pemikir dan pahlawan hebat dalam tradisi Barat namun tidak seorang pun yang dijadikan teladan sepanjang masa seperti di dalam dunia Islam. Bahkan meskipun beragama Kristen, orang-orang Barat tidak pernah bermaksud meneladani sosok Yesus, kecuali hanya sekedar menjalankan ajaran-ajarannya.

Dari sini dapat kita lihat bahwa universitas dalam tradisi Islam dan Barat di masa lalu memiliki tujuan yang serupa, yaitu mencetak manusia ideal, meskipun dalam penjabaran manusia ideal itu terdapat perbedaan nyata antara universitas Islam dan Barat. Wujud universitas modern masa kini yang hanya cenderung menghasilkan robot-robot pekerja industri tak pelak telah menyimpang jauh dari tujuan awal pendirian universitas itu sendiri. (Wendi Zarman)

Tulisan ini telah dimuat di koran Pikiran Rakyat tanggal 16 Juni 2011

Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya

Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya[1] Oleh: Usep Mohamad Ishaq (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, PIMPIN)   Pendahuluan Telah banyak para ‘ulama, pemikir, ilmuwan, dan tokoh kontemporer yang mencoba mengatasi kemunduran ummat Islam yang terjadi saat ini. Kiprah mereka untuk melakukan gerakan perbaikan (ishah) sudah dilancarkan di seluruh dunia Islam berpuluh-puluh tahun lamanya dengan berbagai metoda dan sarana. Meskipun terdapat perbedaan Selengkapnya […]

Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya[1]

Oleh: Usep Mohamad Ishaq (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, PIMPIN)

Pendahuluan

Telah banyak para ‘ulama, pemikir, ilmuwan, dan tokoh kontemporer yang mencoba mengatasi kemunduran ummat Islam yang terjadi saat ini. Kiprah mereka untuk melakukan gerakan perbaikan (ishah) sudah dilancarkan di seluruh dunia Islam berpuluh-puluh tahun lamanya dengan berbagai metoda dan sarana. Meskipun terdapat perbedaan dalam metoda dan sarana, akan tetapi terdapat benang merah dari pandangan mereka tentang penyebab utama kemerosotan ummat Islam dewasa ini. Sekadar untuk menyebutkan contoh, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan:

Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. (lihat: Nizham al-Islam). Tokoh lain Syaikh Hassan al-Banna dalam  Bayna al-ams wa al-yawm misalnya mengatakan bahwa diantara faktor kemenangan Islam adalah kita mengajak dengan fikrah Islam, suatu fikrah yang paling kuat. Serangan pemikiran barat melalui pendidikan adalah salah satu pintu masuk kehancuran umat Islam. Sayyid Quthb di sisi lain mengatakan bahwa masalah utama yang dihadapi ummat Islam adalah cengkraman pemikiran Barat (lihat: Khashais at-Tashawwur Islamiy wa Muqawwamatuh).

Tokoh pergerakan lain, misalnya Abu’l A’la Mawdudi mengatakan bahwa Penyebab utama keruntuhan ummat Islam adalah serbuan pemikiran dan budaya barat, baik melalui pintu penjajahan fisik maupun non fisik. (Sebagai solusi) diperlukan sejumlah sarjana , intelektual, pemikir dan pembaharu yang berakhlaq terpuji dan semangat tinggi yang mampu menempati berbagai posisi dan jabatan. Mereka bertugas untuk menolak pemikiran Barat yang merusak dan mengambil yang bermanfaat. (lihat: Waqi’ul Muslimin Sabil an-Nuhudh bihim).

Pakar pendidikan Islam Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas secara jeli melihat lebih mendasar, yakni bahwa permasalahannya tidak hanya keterbelakangan dalam pendidikan dan serbuan pemikiran Barat, namun lebih dalam dari itu, serbuan itu telah mengakibatkan kebingunan dan kekeliruan dalam hal ilmu (confusion and error of knowledge).  Menurut al-Attas, akibat dari kebingunan dan kekacauan terhadap ilmu akan menghasilkan kerusakan dan hilangnya terhadap adab (loss of adab). Hilangnya adab dari masyarakat ini memunculkan para pemimpin yang rusak dan palsu dan menghasilkan kebijakan-kebijakan keliru di segala bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Inilah yang disebut oleh al-Attas sebagai vicious circle.

Ringkasan Konsep Ilmu Dalam Islam

Tidak ada agama, ideologi, kebudayaan dan peradaban lain selain Islam yang menempatkan ilmu dalam tempat yang begitu penting. Sebagai gambaran, Rosenthal menuliskan bahwa sekurangnya terdapat 750 kali kemunculan istilah yang berkaitan dengan kata ‘-l-m, jika kita hitung secara kasar bahwa dalam al-Qur’an terdapat 78.000 kata, maka kata yang berkaitan dengan ‘-l-m mengambil satu persennya. Jumlah ini belum termasuk istilah lain yang berkaitan seperti f-q-h, d-b-r, f-h-m, dan ‘-q-l, sebuah frekuensi kemunculan yang tidak biasa di dalam al-Qur’an.[2] Frekuensi kemunculan yang tinggi dan dengan didukung berbagai bukti lain menunjukkan tingginya posisi ilmu di dalam IslÉm, bahkan Allah subhanahhu wa Ta‘ala sendiri mensifati diri-Nya dengan al-‘alim. Terdapat banyak penjelasan tentang hakikat ilmu di dalam IslÉm melebihi apa yang ada dalam agama, kebudayaan dan peradaban lainnya, tidak diragukan lagi hal ini disebabkan oleh kedudukan yang sangat tinggi dan peranannya yang besar.

Barat mempersempit makna ilmu  menjadi sains modern (modern science), yaitu ilmu yang tunduk pada suatu metoda ilmiah (scientific methods: logico-hypothetico-verificatif) dan hanya berhubungan dengan fenomena (sesuatu yang empiris),  dan beranggapan bahwa sains modern adalah satu-satunya ilmu yang otentik.[3] Dengan demikian ilmu-ilmu yang bersumber kepada Wahyu dan berhubungan dengan hal yang gaib menjadi terkeluarkan dari sains dan tidak digolongkan pada ilmu atau tidak ilmiah. Demikian juga ilmu-ilmu yang bersumber dari Kitab Suci al-Qur’an; Hukum yang diwahyukan (shari‘ah); Sunnah; Islam; Keimanan (iman); Ilmu Spiritual  (al-‘ilm al-ladunniyy), Kebijaksanaan (hikmah) dan ma‘rifah, dan lain-lain.

Menurut IslÉm, Ilmu datang dari Allah Tuhan Semesta Alam, dan diperoleh melalui sejumlah saluran yaitu[4]:

  • Berita yang benar dan bersumber dari otoritas (al-khabar ash-shadiq), di dalamnya adalah al-Qur’an dan sunnah.
  • Panca Indera (al-hiss al-mushtarak) yang sehat
  • Akal yang sehat
  • Intuisi

Dengan demikian saluran ilmu (epistemologi) Islam lebih luas cakupannya dari epistemologi Barat. Islam mengakui ilmu yang datang melalui panca indera seperti metoda eksperimental, juga yang datang melalui akal rasional, namun Islam juga menempatkan ilmu yang bersumber pada kitab suci, sunnah pada tempat yang tertinggi. Penempatan sumber-sumber ilmu inilah yang juga disebut adab terhadap ilmu, yaitu mengakui adanya hirarki dalam ilmu dan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang semestinya. Karenannya cakupan ilmu dalam konsep Islam meliputi baik yang bersumber dari al-Qur’an, sunnah dan ilmu-ilmu shar‘ah (yang dikenal masyarakat awam sebagai “ilmu agama”) juga ilmu-ilmu yang mempelajari alam semesta (yang dikenal masyarakat awam sebagai “ilmu dunia”). Dalam konsep Islam tidak ada pemisahan antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”, yang ada adalah adanya pembedaan yang bersifat maratib (derajat) dan prioritas. Karenanya dikenal pembagian ilmu menjadi ilmu fardh ‘ayn dan ilmu fardh kifayah. Atau pembedaan dari segi cara memperolahnya, seperti ilmu mu‘ammalah dan ilmu mukashafah.

Tujuan utama dari pencarian ilmu, juga termasuk ilmu alam (sains), adalah mengenal Allah. Untuk memahami hal ini, kita perlu melihatnya dari aspek bahasa. Terdapat hubungan yang erat antara ilmu (‘ilm),  alam (‘alam), dan al-Khaliq. Untuk menggambarkan secara singkat hal ini, marilah kita lihat kata ‘ilm, sebuah istilah yang digunakan dalam bahasa Arab untuk menunjukkan ilmu. Kata ‘ilm yang berasal dari akar kata yang terdiri dari 3 huruf, ‘-l-m, atau ‘alam. Arti dasar yang terkandung dalam akar kata ini adalah ‘alamah, yang berarti “petunjuk arah”. Al-Raghib al-Isfahani (1997, s.v. “‘a-l-m”) menjelaskan bahwa al-‘alam adalah “jejak (atau tanda) yang membuat sesuatu menjadi diketahui’ (”al-atsar alladzi yu‘lam bihi syai’”). Franz Rosenthal memberikan pandangannya yang menarik, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particulary close and takes on especial significace in the Arabian environment.[5]Jadi kita melihat ada keterkaitan yang erat antara way sign (petunjuk arah) dengan knowledge (ilmu atau pengetahuan). Kemudian‘a-l-m juga ternyata akar kata bagi istilah yang sudah menjadi bahasa Indonesia, yaitu alam atau dalam bahasa arab ‘aalam yang secara umum berarti jagat raya-alam semesta yang mencakup apa yang ada di luar kita afaq atau makrokosmos (al-‘alam al-kabir)  dan juga termasuk apa-apa yang ada di dalam diri kita atau anfus atau mikrokosmos (al-‘aalam al-shaagir), yang dapat dipelajari dan diketahui. Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur’Én dan al-Hadits, bahwa semua benda dan kejadian di alam raya (universe) merupakan ayat Tuhan (tunggal, ayah), yaitu petunjuk-petunjuk dan simbol-simbol Tuhan.[6]

Kini menjadi jelas bahwa tujuan utama dari mencari ilmu adalah mengenal Allah (ma‘rifatuLlah), dan dengan mengenalnya timbul rasa takut dan tunduk kepada-Nya: “sesungguhnya yang takut kepada AllÉh diantara hamba-hamba-Nya adalah para ‘ulama’ (QS. 35:28).  Banyak para ‘ulama’, misalnya Imam al-Ghazali yang memperingatkan agar berhati-hati dalam niat mencari ilmu, dan tidak dibenarkan mencari ilmu untuk tujuan duniawi seperti harta dan kedudukan.[7] Ibn Hazm bahkan mengecam mereka yang mencari ilmu untuk tujuan duniawi, dan mengatakan bahwa dunia bisa dicapai dengan cara yang lebih mudah. Para ilmuwan muslim pada umumnya tidak pernah menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan untuk pencarian ilmu. Sebaliknya, harta dan jabatan adalah sarana untuk pencarian ilmu. Ibnu Rusyd, Ibn Hazm, dan Ibn Khaldun adalah ilmuwan yang berasal dari keluarga kaya. Kekayaannya tidak menghentikan mereka dalam pencarian ilmu. Sebaliknya, al-Jahidz, Ibn Siddah, Ibn Baqi, all-Bajji, adalah beberapa contoh ilmuwan yang miskin, namun kemiskinan tidak menghalangi kegairahan mereka terhadap ilmu. Jadi jelas bahwa harta dan kekayaan bukan tujuan mereka, ada dan tidak adanya harta tidak mengurangi gairah mereka terhadap ilmu. Ada suatu motif yang lebih luhur dalam pencarian mereka terhadap ilmu. Sikap dan pandangan para ilmuwan Islam ini tentu lahir dari sebuah konsep tentang ilmu, lebih luas lagi dari sebuah pandangan hidup, yakni worldview Islam tentang ilmu.

Ilmu erat kaitannya juga dengan pendidikan, namun pendidikan dalam IslÉm bukan terbatas pada transfer ilmu dari guru kepada murid (instruction), pendidikan adalah sebuah proses untuk membentuk manusia yang tidak hanya berilmu namun juga beradab. Karena itulah istilah yang lebih tepat untuk pendidikan adalah ta’dib yang meliputi ta‘lÊm dan juga tarbiyah.[8] Dalam kamus bahasa Indonesia sendiri makna “didik” meliputi “pemeliharaan” dan “pengajaran” sekaligus serta “cara” (berlaku). Sehingga “pendidikan” lebih dekat kepada konsep “ta’dib”. Makna dari “adab” adalah kemampuan seseorang menempatkan sesuatu pada tempat yang benar, atau “cara berbuat yang benar”, “benar” di sini tentu menurut timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena itu tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah ditekankan utamanya membentuk individu yang beradab atau individu yang baik. Seorang individu yang beradab akan mengetahui tempat yang tepat untuk dirinya di dalam masyarakat dan mampu menempatkan orang dengan tepat pula, dari sinilah proses islah itu dijalankan dalam sebuah masyarakat.[9]

Dampak Sekularisasi Terhadap Ilmu dan Dampaknya pada Loss of Adab

Permasalahannya adalah saat ini, istilah-istilah ilmu, pengetahuan, sains (science), informasi, desas-desus, pendapat atau opini, spekulasi dan lain-lain bercampur baur dan disebut ilmu (al-‘ilmu) dan dipercaya sebagai kebenaran. Kekacauan terhadap pemahaman ilmu inilah yang menyebabkan kekacauan dalam tubuh ummat IslÉm, yang memberi dampak pada kekacauan adab, melahirkan pemimpin yang palsu dan kekacauan secara keseluruhan. Prof. Syed MuÍammad Naquib al-Attas menyebutkan:

“Telah banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kekeliruan manusia sepanjang sejarah, tetapi barangkali tidak ada yang lebih serius dan lebih merusak terhadap manusia daripada tantangan yang dibawa oleh peradaban Barat hari ini. Saya berani mengatakan bahwa tantangan terbesar yang muncul secara diam-diam di zaman kita adalah tantangan ilmu, sesungguhnya bukan sebagai lawan kejahilan, tetapi ilmu yang difahami dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat; hakikat ilmu telah menjadi bermasalah karena ia telah kehilangan tujuan hakikinya akibat dari pemahaman yang tidak adil.”[10]

Bagian-bagian utama dari dimensi sekularisasi adalah: ‘penghilangan pesona dari alam tabii’ (disenchantment of nature), peniadaan kesucian dan kewibawaan agama dari politik (desacralization of politics) dan penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai agama dari kehidupan (deconsecration of values)[11]. Hal ini membawa dampak hilangnya wahyu sebagai sumber ilmu dan akal dan pancaindera digunakan alat pencarian kebenaran satu-satunya. Karena “keraguan” (doubt) dipakai sebagai metoda berfikir. Hilangnya wahyu ini membawa dampak pada relatifnya nilai-nilai moral dan kebenaran. Ilmu (sains modern) dilepaskan dari kerangka metafisikanya atau kerangka agama. Sains dipakai semata-mata untuk tujuan duniawi tanpa ada kaitan dengan nilai-nilai moral ilahiah. Di wilayah politik, lahirnya demokrasi sebagai ideologi adalah keinginan manusia untuk lepad dari otoritas Tuhan dan nilai-nilai yang membelenggunya. Akhirnya keberhasilan sekularisasi politik  berimplikasi pada terkikisnya tatanan akhlaq, etika dan moral politik kontemporer yang merupakan esensi dari ajaran agama (Islam) itu sendiri. Dengan demikian jadilah para politisi terjun bebas ke jurang nalar machiavelis ”al-ghayah tubarriru al-wasilah” (tujuan dicapai dengan cara menghalalkan segala macam cara).[12]

Prof. Al-Attas mengidentifikasi bahwa kebingungan dalam ilmu dan pandangan alam (worldview) IslÉm menghasilkan pemimpin-pemimpin palsu muncul dan berkembang serta menimbulkan keadaan ketidakadilan dalam berbagai bidang. Ketidakadilan ini tetap berlangsung dalam tubuh ummat meskipun para pemimpin itu  berganti. Al-Attas mengurutkan kerusakan dalam ummat sebagai berikut:

  1. Kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu yang menyebabkan keadaan:
  2. Kehilangan adab di kalangan Umat. Keadaan yang timbul dari (1) dan (2) adalah:
  3. Kemunculan pemimpin-pemimpin yang tidak layak untuk kepemimpinan yang sah bagi umat IslÉm, yang tidak memiliki taraf moral, intelektual dan spriritual yang tinggi yang disyaratkan untuk kepemimpinan IslÉm, yang melestarikan keadaan pada (1) di atas dan menjamin penguasaan urusan Umat yang berkelanjutan oleh pemimpin-pemimpin seperti mereka yang menguasai semua bidang.

Semua akar dilema umum kita di atas adalah saling bergantung dan merupakan suatu lingkaran setan (vicious circle). Tetapi sebab utama adalah kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu, dan guna mematahkan lingkaran setan tersebut dan menyelesaikan masalah ini, pertama-tama kita harus menangani masalah hilangnya adab, karena tidak ada ilmu yang benar dapat dikuasai tanpa pra-syarat adab pada penuntutnya dan kepada siapa ilmu itu diberikan. Secara ilustratif lingkaran setan tersebut digambarkan di bawah.

Proses ishlah (perbaikan) terhadap ummat harus diselesaikan melalui pendidikan (ta’dib), terutama sekali pada tinggkat pendidikan dewasa (tinggi).

Wallahu a’lam bishawab


[1] Kursus Penyelenggaraan Proyek Islamisasi ilmu Pengetahuan Kontemporer di Universitas-Universitas Sekuler di Indonesia (IUS Indonesia) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, UPI Bandung Mei 2011.

[2] Rosenthal, Franz. Knowledge Triumphant The Concept of Knowledge in Medieval Islam. Brill. pp. 19.

[3] Disebut sains Barat modern karena dalam pandangan Barat pun pada awalnya sains (scientia) tidak dibatasi pada cakupan sains modern seperti saat ini, science juga mencakup divine science. Secara bahasa, awalnya scientia, logos, knowledge adalah sama yakni pengetahuan.

[4] Lebih lanjut tentang sumber ilmu menurut Islam, lihat karya Prof. Al-Attas Islam and The Philosophy of Science dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam pp. 111-142.

[5] Rosenthal, Franz, “Triumphant of Knowledge”, hlm. 10.

[6] Contoh dari ayat-ayat Tuhan itu adalah ali-Imran 190; Yunus 5-6; al-Hijr 16, 19-23, 85; an-Nahl 3, 5-8, 10-18, 48, 65-69, 72-74, 78-81; al-Anbiya 16; al-Naml 59-64; Ghafir, al-Mu’min 61; al-Mulk 2-5, 15, dan Fushilat 53.

[7] Al-GhazÉlÊ, BidÉyat Al-HidÉyah, DÉrul Kutub Al-IslÉmiyah. Hlm. 8.

[8] Daud, Wan Mohd Nor Wan. The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas.  ISTAC 1998, pp. 134.

[9] Contoh yang baik bagaimana proses iÎlah yang dimulai dari pendidikan adalah kasus direbutnya Palestina oleh ØalahuddÊn al-Ayyubi dalam buku “Haakadza dhahara jÊlu ØalahiddÊn” yang akan dibedah nanti.

[10] al-Attas, Syed MuÍammad Naquib, Islam dan Sekularisme, Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, hlm.  169.

[11] Al-Attas, S.M.N. Islam and Secularism. ISTAC. pp. 18

[12]Disampaikan dalam kuliah umum yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada hari Sabtu 13 Desember 2008, dengan tema ”Dewesternisasi, Dekolonisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan