STIKes Mitra RIA Husada Cetak Lulusan Mampu Menangani Masalah

JAKARTA (TERBITTOP)– Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mitra RIA Husada yang dikelola Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan mencetak para lulusannya yang tak hanya tahu ilmu, tapi juga mampu mengatasi masalah di bidang kesehatan, terutama masalah kebidanan. “Kita tidak saja menyiapkan mahasiswa untuk ujian akhir, terutama yang di D3, tapi juga kemampuan untuk menangani masalah, bukan […]

DR StikesJAKARTA (TERBITTOP)– Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mitra RIA Husada yang dikelola Yayasan Karya Bhakti RIA Pembangunan mencetak para lulusannya yang tak hanya tahu ilmu, tapi juga mampu mengatasi masalah di bidang kesehatan, terutama masalah kebidanan.

“Kita tidak saja menyiapkan mahasiswa untuk ujian akhir, terutama yang di D3, tapi juga kemampuan untuk menangani masalah, bukan pengetahuannya saja. Oleh karena itu di UU Tenaga Kesehatan disebutkan, tenaga kesehatan ini harus diuji kompetensinya,” kata Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Mitra RIA Husada, Dr H Hakim Sorimuda Pohan, Sp.OG di Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (1/7).

Dr Hakim mengambil contoh, ketika pertama kalinya STIKes Mitra Ria Husada mengirimkan mahasiswanya untuk ikut uji kompetensi tahun lalu, dari 75 peserta uji kompetensi, 74 peserta berhasil lulus.

“Mudah-mudahan itu kualitas sekolah kita yang boleh dikatakan sudah di atas,” tambahnya.

Jadi, saat ini, mahasiswa tak hanya dituntut untuk lulus ujian dari mata-mata kuliah yang diujikan, tapi juga harus lulus uji kompetensi.

“Jadi kualitas sekolah sekarang diukur dari apakah uji kompetensinya berhasil atau tidak,” kata Dr Hakim, menyinggung visi sekolah tinggi ilmu kesehatan yang beralamat di Balai Bina Kerta Raharja Karya Bhakti RIA Pembangunan, Jalan Karya Bhakti No3 Cibubur, Jakarta Timur itu. Visinya itu antara lain, menghasilkan tenaga ahli di bidang kesehatan yang profesional, berkompetensi tinggi, serta berkarakter yang mampu untuk ikut serta menangani masalah-masalah kebidanan dan kesehatan masyarakat.

Salah satu bentuk uji kompetensi yang dilakukan STIKes Mitra RIA Husada, menurut Dr Hakim, berbentuk esai komputerisasi. “Jadi kalau ada kendala di dalam penanganan teknik komputernya sendiri, dia (mahasiswa-red) jadi bermasalah. Selain lulus bidan, kemampuan komputernya juga sudah baik,” jelasnya.

Saat ini STIKes Mitra RIA Husada telah menandatangani kerja sama dengan Kabupaten Bogor. “Kabupaten Bogor bersedia untuk kita gunakan sebagai lahan praktek di puskesmas, di rumah sakit, dan bidan-bidan yang ada di Kabupaten Bogor. Tempat kita melakukan penelitian, juga tempat kita melakukan pengabdian terhadap masyarakat. Kalau kerja sama dengan DKI, dengan wilayah Cibubur. Kita tidak tinggalkan. Yang paling dekat ya DKI. Seperti kemarin, kita memenuhi undangan Kasubdin Jakarta Timur. Mereka ajak kita untuk melakukan semacam sensus pada wilayah- wilayah kumis (kumuh dan miskin). dan wilayah-wilayah kupat (kumuh dan padat) yang ada terutama di rumah susun,” paparnya.

STIKes Mitra RIA Husada pada bulan Juli ini sedang ujian akhir, dan perkuliahan akan dimulai pada 1 September 2015. “Jadi mereka minta sensusnya sudah selesai sebelum Lebaran. Kita selalu diikutkan di wilayah Jakarta Timur. Dulu kita kerja sama dengan Kabupaten Purwakarta. Itu juga tidak kita lepas, tapi memperhitungkan jauh jaraknya, lebih baik kita menjalin hubungan dengan Kabupaten Bogor. Kota Bogor juga kita bina kerja sama,” pungkasnya. (*)

Pendidikan Karakter dan Islamisasi Sains

Pendidikan Karakter dan Islamisasi Sains [1] Usep Mohamad Ishaq[2] Istilah “Pendidikan Karakter” begitu banyak diperbincangkan akhir-akhir ini, melihat kenyataan bahwa pendidikan ternyata belum mampu menghasilkan sebuah generasi yang baik dan manusia yang beradab. Tapi apakah pendidikan karakter merupakan tanggung jawab para guru dan dosen saja? Jawabannya sudah pasti tidak, karena interaksi siswa dan mahasiswa dengan para pendidik di institusi pendidikan hanya terbatas pada jumlah jam mata Selengkapnya […]

characteredbanner

Pendidikan Karakter dan Islamisasi Sains [1]

Usep Mohamad Ishaq[2]

Istilah “Pendidikan Karakter” begitu banyak diperbincangkan akhir-akhir ini, melihat kenyataan bahwa pendidikan ternyata belum mampu menghasilkan sebuah generasi yang baik dan manusia yang beradab. Tapi apakah pendidikan karakter merupakan tanggung jawab para guru dan dosen saja? Jawabannya sudah pasti tidak, karena interaksi siswa dan mahasiswa dengan para pendidik di institusi pendidikan hanya terbatas pada jumlah jam mata pelajaran. Karenanya pendidikan karakter hakikatnya tanggung jawab semua pihak: orang tua, keluarga, masyarakat dan institusi pendidikan. Tapi apa sesungguhnya pendidikan karakter? Dan bagaimana pandangan Islām tentang isu tersebut?

Secara bahasa etika (ethos) atau “karakter” berarti:

 

The mental and moral qualities distinctive to an individual. Strength and originality in a personʾs nature. a personʾs good reputation.[3]

(sifat mental dan moral yang tersendiri bagi seseorang. Kekuatan dan sifat asli seseorang. Reputasi baik seseorang.

Istilah karakter sendiri berasal dari bahasa Latin caractere berarti simbol, huruf, tanda pengenal, tabiat. Melalui definisi tersebut karakter dapat diartikan sebagai “kualitas moral dan mental yang ditandakan dalam perilaku seseorang atau sebuah kumpulan orang-orang atau masyarakat”. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku yang nampak dari seseorang adalah (seharusnya) simbol yang menunjukkan kualitas mental yang ada di dalam dirinya. Tetapi mengambil makna “karakter” melalui pendekatan bahasa saja tidak memadai untuk memahami apa sebenarnya maksud “karakter” dalam pendidikan karakter. Karena itu kita perlu melihat bagaimana istilah “pendidikan karakter” ini muncul dalam sejarahnya.

Membincangkan apa itu pendidikan karakter berarti mendefinisikan apa itu “karakter”, dan mendefinisikan “karakter” haruslah menerima kenyataan bahwa tidak ada tafsir yang disepakati tentangnya, karena ia akan bergantung pada banyak sekali variabel dan faktor, seperti: ideologi, agama, filsafat, bangsa, budaya, lingkungan social, politik, dan lain-lain. Akan tetapi kita bisa dapat sepakat dalam satu hal yakni bahwa pendidikan karakter adalah suatu hal yang penting. Islām memiliki tafsirannya sendiri tentang karakter atau konsep yang berkaitan dengan karakter, demikian berbagai agama lainnya. Seorang nasionalis memiliki pandangannya sendiri tentang karakter, demikian juga seorang penganut liberal, marxsis, humanis, dan lain sebagainya. Karenanya penting untuk pertama-tama menegaskan kerangka apa yang akan digunakan dalam membincangkan pendidikan karakter tersebut.

Istilah “pendidikan karakter” merupakan terjemah literal dari “character education” yang tentu saja mendapatkan akarnya dalam sejarah pendidikan di Barat. Misalnya James Barclay (1713-1765) seorang pemikir dan praktisi pendidikan pada masa Pencerahan Eropa, ia telah menekankan pentingnya keteladanan dalam pendidikan serta melakukan pemilihan guru berdasarkan karakternya sebagai keteladan bagi anak didiknya.[4] Demikian juga salah satu tokoh Pencerahan John Locke meyakini bahwa pembentukan karakter lebih penting dari pencapaian intelektual.[5]

Pada tahun 1816 Robert Owen seorang pegiat pendidikan, pemikir masalah sosial, industrialis dan juga ateis mendirikan suatu lembaga pendidikan bernama “Institution for Formation of Character”. Dalam lembaga tersebut anak-anak usia sekolah diberi pengajaran pada siang hari sedangkan yang lebih dewasa pada malam hari. Ia meyakini pentingnya pendidikan usia dini dan memandang bahwa anak-anak lebih baik dididik oleh profesional terlatih daripada orang tua yang bodoh. Orang tua yang bekerja pada pabrik yang ia miliki menitipkan anak-anaknya dalam lebaga tersebut. Dalam lembaga tersebut diajarkan kebiasaan-kebiasaan baik dan tidak memberikan gagasan tentang baik dan buruk sebelum umur dua tahun karena meyakini akan akibat yang tidak baik dalam pembentukan karakter di kemudian hari. Ia juga meyakini bahwa anak-anak sebelum umur 12 tahun tidak seharusnya membaca buku-buku dan murid yang lebih tua lebih baik menghadiri kelas daripada membaca buku sendiri. Tidak ada reward dan punishment dalam lembaga tersebut. Pendidikan agama tidak diberikan karena Owen sendiri adalah seorang ateis, namun ia hanya diberikan jika ada permintaan dari orang tua murid. Pada akhirnya sekolah tersebut akhirnya ditutup karena penentangan dari pihak agamawan gereja Skotlandia.[6]Inisiatif untuk mempromosikan pendidikan karakter Kristen sudah dijumpai pada 1844 dengan didirikannya Young Men’s Christian Association (YMCA) dengan tujuan : “menarik anak-anak muda pada Yesus Kristus, dan membangun mereka dengan Karakter Kristen”. Sekolah-sekolah di Inggris pada masa tersebut umumnya di bawah pengawasan sekte-sekte Kristen, namun berkembang ide untuk memisahkan agama dari pendidikan karakter seperti yang dicetuskan oleh Arthur Ackland (1847-1926) yang merupakan wakil presiden dari Committee of Council on Education pada masa Perdana Menteri Inggris William Gladstone (1809-1898). Pada 1886 sekolompok penganut agnostik mendirikan suatu lembaga bernama Ethical Union yang bertujuan mencari dasar sekular bagi moralitas. Mereka tertarik pada pendidikan karakter dan mendirikan Moral Instruction League pada 1897 yang mengkampanyekan kebijakan anti-agama dan mempromosikan reformasi moral melalui dewan legislatif. Tujuan mereka adalah membentuk dan menguatkan karakter anak didik dan membangun kecerdasan anak didik tanpa landasan agama apapun. Sir Robert Morant penyusun Undang-Undang bagi Perdana Menteri, pada 1905 mengeluarkan suatu panduan bagi guru dan pekerja pendidikan “Handbook of Suggestion for Consideration of Teachers and others concerned in the work of Public Elementary Schools” yang salah satu bagiannya menyatakan agar guru mendorong siswanya untuk memiliki karakter seperti : “tepat waktu”, “kerapian”, “kebersihan”, “kejujuran”, “penghormatan kepada orang lain” dan “ketaatan yang menyenangkan pada pekerjaan”. Karakter-karakter ini lebih dekat pada ajaran Yunani dari pada Kristen yang menunjukkan pendidikan karakter lebih pada etika dari pada relijius.[7]Padangan ini juga selaras dengan Comte, ia menyatakan bahwa pertumbuhan moral dan perkembangan siswa harus dilepaskan dari ajaran agama.[8]Di Perancis transisi dari pendidikan moral berdasarkan agama kepada pendidikan moral yang sekular terjadi pada masa menteri pendidikan yang juga Perdana Menteri Perancis ke-44 dan ke-49, Jules François Camille Ferry (1832-1893). Ia menyatakan bahwa pendidikan moral yang mengajarkan nilai, seperti “keadilan,” “persamaan,” “balas-budi,” “hak,” dan “rasa hormat”, adalah penting diberikan dengan cara yang halus tanpa dikaitkan dengan agama.[9] Francois Ferry juga yang memisahkan pendidikan dari kependetaan pada 1882 serta bertanggung jawab dalam menepikan pengaruh kalangan Jesuit dan Katolik dari sistem pendidikan negara maupun swasta melalui Artikel ke-7 nya.[10] Ia jugalah yang getol memperjuangkan pemisahan agama dengan negara.

Pendidikan karakter di Amerika Serikat pada hakikatnya berkait dengan akarnya di Eropa terutama di Perancis.[11] Pendidikan karakter tersebut menekankan penanaman nilai kesalehan, keadilan, penghargaan kepada kebenaran, cinta tanah air, kemanusiaan, kebaikan universal, ketenangan, sikap rajin, sikap hemat, kemurnian, kesederhanaan, pengendalian diri, dll. Selama akhir abad ke 18, program pendidikan karakter yang dilandasi oleh filosofi para penggagas pendidikan karakter di Amerika seperti Benjamin Franklin (1706-1790), Horace Mann (1796-1859), dan William McGuffey (1800-1873) mulai melepaskan agama sebagai landasan dari pendidikan moral.[12]Hingga saat ini tema pendidikan karakter masih menjadi isu hangat dikalangan para pendidik di luar maupun di dalam negeri.

Cuplikan sejarah pendidikan karakter di atas menunjukkan bahwa gagasan pendidikan karakter dalam masyarakat barat bertumpu pada etika yang terpisah dari agama, dan ditujukan untuk membentuk warga negara yang baik, yaitu yang memenuhi kriteria-kriteria etika yang sekular yang lepas dari standar akhlak agama. Singkatnya pendidikan karakter Barat adalah pendidikan untuk membentuk etika (ethos) warga negara untuk kemajuan bangsanya dan lepas dari nilai-nilai agama. Inilah yang secara jeli dilihat oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai agama dari kehidupan (deconsecration of values), satu aspek lain dari sekularisasi.

Bagaimana Islām memandang pendidikan karakter? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah “karakter” didefinisikan sebagai:[13]

tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak.

Dari definisi di atas nampak bahwa istilah “karakter” telah dimaknai dengan “akhlak” yang merupakan pinjaman dari salah satu istilah dalam agama Islām. Imām al-Ghazālī mendefinisikan akhlāq sebagai:“sifat yang tertanam dalam diri manusia yang nampak dari perbuatannya, yang tidak memerlukan pertimbangan lama untuk melakukannya, atau dengan kata lain spontan.”[14]

الخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة، عنها تصدر الأفعال بسهولة ويسر من غير حاجة إلى فكر وروية

(Suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran).

Dengan demikian hakikat akhlāq atau akhlak itu adalah:

  1. Sifat yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya, karenanya perbuatan yang telah menjadi akhlak seseorang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran karena telah melekat padanya.
  2. Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan kepuran-puraan, kepalsuan atau bersandiwara sesuai dengan sifat yang ada di dalam dirinya.

Karena itu dalam pandangan Islām pendidikan karakter adalah pendidikan akhlak dan etika serta moralitas yang tidak dapat dilepaskan dari standar nilai agama.[15] Istilah “akhlak” itu sendiri merupakan istilah yang masih netral tanpa kecenderungan baik atau buruk sebelum diberikan sifat. Ia bisa bersifat baik atau buruk tergantung sifat yang tertanam dalam diri sesorang, karenanya dikenal akhlāq karīmah (akhlak mulia), akhlāq maḥmūdah (akhlak terpuji) atau ḥusnuʾl-khulūq (akhlak yang baik), sebaliknya dikenal pula akhlāq madhmūmah atau akhlak yang tercela. Akhlak yang baik dan mulia didasarkan pada kriteria yang diberikan oleh nilai Islām yaitu akhlak yang didasari niat yang ikhlāṣ dan didasarkan pada ukuran-ukuran yang Allāh subḥānahū wa taʿālā berikan melalui contoh manusia yang paling berakhlak mulia Baginda RasūluʾLlāh ṣallaʾLlāhu ʿalayhi wasallam. Baginda nabi sendiri diutus untuk menaikkan derajat akhlak yang baik ke derajat paling luhur, sebagaimana disebutkan dalam sebuah ḥadīth:

إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق

” Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Aḥmad)

Dan pada ḥadīth lain disebutkan bahwa ukuran akhlak Baginda nabi adalah al-Qurʾān itu sendiri:

كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an” (HR. Muslim)

Di dalam al-Qur’ān, akhlak beliau disebut oleh Allāh subḥānahū wa taʿāla menjadi teladan dan berada pada tingkatan agung:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيم

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Jadi pendidikan karakter dalam pandangan Islām adalah pendidikan untuk membentuk manusia yang berakhlak sesuai tuntunan al-Qurʿān dan contoh yang diberikan nabi Muḥammad ṣallallāhu ʿalayhi wasallam. Dalam hal inilah Islām mengungguli Barat dalam wacana pendidikan karakter, bukan saja dalam hal konsep namun juga dalam masalah keteladanan yang ideal. Islām memiliki living role model, seorang teladan yang hidup di mana perilakunya dapat dijadikan contoh bagi setiap jender, posisi, umur, bangsa, status sosial, dan lain-lain. Pada titik inilah Barat tidak dapat menunjukkan dengan jelas siapakah manusia berkarakter ideal yang dapat dicontoh itu?

Bagaimana negara memandang pendidikan karakter? Apabila kita merujuk pada UU Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, maka definisi dari pendidikan adalah:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara

Berdasarkan definisi umum di atas maka salah satu tujuan dari pendidikan adalah membentuk akhlak mulia yang merupakan terjemah literal dari istilah al-akhlāq al-karīmah, maka salah satu aspek dari pendidikan adalah pendidikan akhlaq itu sendiri. Karena itu bagi seorang muslim, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari padangan-alam Islām, dalam bidang apa saja pendidikan tersebut dimaksud, termasuk Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni, Olahraga, Bahasa, dan sebagainya harus ditujukan salah satunya untuk membentuk akhlaq mulia. Dengan kerangka-kerja (framework) seperti ini, sains Islām dan islamisasi sains modern, bagi seorang muslim, memperoleh tempatnya dalam pendidikan di Indonesia.

Sains Islām dan islamisasi sains modern dalam kaitannya dengan pendidikan karakter sangat relevan dan penting, karena tujuan pendidikan karakter hanya akan tercapai jika semua bidang pendidikan berkelindan dan bersinergi, termasuk di dalamnya pendidikan sains dan sains itu sendiri. Ia harus menemukan perannya dalam membentuk karakter dan akhlaq, yang tidak mungkin tercapai tanpa didasarkan pada filosofi yang jelas dan memadai. Bagi seorang muslim, jelas bahwa sains dan pendidikan sains dalam kaitannya dengan pendidikan karakter harus dilandasi berdasarkan pandangan-alam Islām dan dalam kerangka-kerja Islām.

Sains menjadi tidak bermanfaat apabila ia diajarkan sekadar untuk membuat anak didik menjadi seorang saintis, padahal pada kenyataannya tidak semua siswa bercita-cita menjadi saintis dan akan menjadi saintis. Sains hanya betul-betul akan menjadi bermanfaat bagi para siswa jika ia diajarkan untuk membentuk akhlaq, karakter, kepribadian, dan cara berpikir. Bahkan pada dasarnya setiap mata pelajaran adalah demikian adanya. Untuk membentuk karakter melalui sains, siswa tidak boleh lagi hanya dijejali dengan fakta dan data saintifik atau disibukkan hanya dengan menghafal rumus-rumus matematis. Lalu, bagaimana pendidikan karakter melalui sains dapat dilakukan? Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membentuk cara pandang Islām meliputi pembenahan konsep ilmu dalam Islām, pandangan Islām terhadap alam semesta, konsep Tuhan dalam Islām, pandangan Islām terhadap hakikat manusia, konsep pendidikan Islām, sejarah peradaban Islām, selain mata kuliah-mata kuliah mendasar yang diperlukan dalam sains seperti kalkulus, fisika dasar, kimia dasar dan lain-lain. Langkah kedua, penanaman akhlak dan adab hanya efektif jika disertai perilaku dan contoh dari para pendidik, tidak hanya dalam kode etik dalam buku panduan. Rusaknya akhlak bukan ketiadaan panduan etika dalam buku, namun ketiadaan contoh tingkah laku. Setiap waktu dan kesempatan berinteraksi dengan peserta didik, tiada lain merupakan kesempatan untuk menanamkan pendidikan akhlak dan adab. Baik dalam lingkungan lembaga pendidikan maupun dalam lingkungan informal, seorang pendidik memahami benar kesempatan itu untuk menunjukkan bagaimana seharusnya berperilaku yang beradab, bercakap-cakap yang beradab, bertelefon yang beradab, menuliskan pesan singkat yang beradab, dan lain-lain. Hal ini bukan hal-hal yang remeh jika ia tahu bahwa pendidikan bukan saja masalah kognitif.

Pendidik bertanggung jawab mengajarkan untuk berbicara benar, berpikir benar, berlaku benar, berakhlak mulia dalam memperlakukan peserta didik dan sesama pendidiknya. Ia berkewajiban mengajak dan memberi contoh untuk bersegera dalam shalat, di samping kewajibannya mengajarkan sains di dalam kelas atau di laboratorium. Para ʿUlamā‘ telah banyak menyusun karya tentang adab-adab untuk para pendidik dan peserta didik.[16] Karya-karya tersebut dapat diadopsi dan disesuaikan dalam pendidikan sains. Imām al-Ghazāli raḥimahuʾLlāh misalnya dalam ‘iḥyā‘ ʿUlumiddīn menyebutkan adab pendidik atau pengajar diantaranya:

  1. Memiliki rasa kasih sayang dan memperlakukan mereka sebagaimana anak sendiri.
  2. Mengajar karena Allāh dan tidak menyakiti hati murid jika ia tidak bisa memenuhi keinginannya.
  3. Memberikan saran dan mengarahkan muridnya (tidak membiarkan muridnya).
  4. Mencegah murid berperangai jahat.
  5. Tidak melecehkan pelajaran lain dan sesama pengajar di depan murid-muridnya
  6. Meringkaskan pelajaran sesuai dengan kemampuan murid.
  7. Memberikan pelajaran sesuai dengan taraf berpikirnya.
  8. Mengamalkan ilmunya, sehingga apa yang dikatakannya sesuai dengan perbuatannya

Ketiga, untuk memenuhi konsep keadilan dan adab dalam ilmu, komposisi kurikulum harus diubah menyesuaikan konsep ilmufarḍ ʿayn dan farḍ kifāyah, sebagai cerminan dari konsep manusia itu sendiri. Syed Muhammad Naquib al-Attas telah memberikan gambaran ilustratif mengenai hal ini dalam bukunya Islām dan Sekularisme yang dapat kita lihat dalam ilustrasi berikut:[17]

 gambar

Ilustrasi yang dibuat oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menggambarkan konsep diri, konsep ilmu, dan konsep pendidikan yang menunjukkan kesatupaduan.
(Courtesy: PIMPIN BANDUNG)

Pada ilustrasi di atas terdapat keterkaitan antara konsep hakikat manusia, ilmu dan pendidikan. Kurikulum pendidikan harus mencerminkan komposisi dari farḍ ʿayn dan farḍ kifāyah. Menurut al-Attas, ilmu farḍ ʿayn dan farḍ kifāyah bukanlah konsep yang statis, namun menyesuaikan dengan potensi diri dengan keperluan ummat secara keseluruhan. Ilmu dan pendidikan merupakan sarana yang mengantarkan untuk memenuhi aspek jasmaniah dan ruhaniah, juga bagian-bagian manusia seperti ʿaql, rūḥ, nafs, dan qalb, sehingga dengannya akan terbentuk saintis yang beradab pada dirinya, manusia lain, alam semesta dan Tuhannya. Tanpa pemahaman terhadap konsep manusia, konsep sains, konsep keilmuan secara umum, dan konsep yang berkaitan dengan hal yang metafisik, maka pendidikan tidak mungkin membentuk saintis yang berkarakter, berakhlak, dan beradab. Tanpa pendidikan karakter tidak ada kemajuan yang akan dicapai, di mana kemajuan yang dimaksud dalam hal ini bukan terbatas pada model kemajuan Barat yang bersifat material, namun kemajuan dalam bentuk manusia yang baik, saintis yang baik serta keluhuran akhlaknya. Mohammad Natsir Allāhu yarham pernah menuliskan[18]:

Ialah bahwa kemunduran dan kemajuan itu tidak bergantung pada ketimuran dan kebaratan, tidak bergantung pada putih, kuning atau hitamnya warna kulit, tetapi bergantung pada ada atau tidaknya, sifat-sifat dan bibit-bibit kesanggupan dalam salah satu umat, yang menjadikan mereka layak atau tidaknya menduduki tempat yang mulia di atas dunia ini. Dan ada atau tidaknya sifat-sifat dan kesanggupan (kapasitas) ini bergantung pada didikan ruhani dan jasmani, yang mereka terima untuk mencapai yang demikian.

Apakah kiranya yang menjadi tujuan didikan dalam Islām itu? Yang dinamakan didikan ialah suatu pimpinan jasmani dan ruhani yang menuju pada kesempurnaan dan lengkapnya sifat-sifat kemanusiaan dengan arti yang sesungguhnya.

Dengan demikian perlu ada keadilan dan adab dalam kurikulum untuk membentuk manusia yang bertakwa. Manusia bertakwa adalah tujuan pendidikan yang diamanahkan UUD 1945 yang kemudian dioperasionalkan dalam Sistem Pendidikan Nasional, dan tujuan ini -yakni manusia bertakwa- tidak bisa diraih jika tidak ada keadilan dalam diri manusia, termasuk di dalam keadilan dalam masalah ilmu, sebagaimana disebutkan dalam al-Qurʾān:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allāh, Sesungguhnya Allāh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: 6:8)

Jadi adalah mustahil mencapai tujuan manusia bertakwa tanpa adanya keadilan dalam masalah ilmu.

Sains dapat menjadi media untuk pembentukan karakter sekurangnya dalam tiga dimensi: Pertama, dimensi filosofis; kedua, dimensi teknis; dan ketiga dimensi aksiologis. Dalam dimensi filosofis, sains digunakan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap keagungan Penciptaan alam semesta yang diharapkan akan menimbulkan pengaruh-pengaruh berikutnya. Pada dimensi kedua; aspek-aspek metode ilmiah digunakan sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai baik pada anak didik; Sedangkan dalam dimensi ketiga, penanaman pada level aksiologis, yaitu menanamkan kepada anak didik untuk menjadi manusia yang bermanfaat bukan saja bagi ummat Islām namun juga ummat manusia dan ciptaan Allāh yang lain melalui sains.

Dalam dimensi filosofis sains diajarkan untuk tujuan memberikan gambaran akan dahsyatnya ciptaan Allāh yang terbentang di alam semesta termasuk dalam diri manusia itu sendiri, meliputi yang dapat diindera maupun yang tidak. Sains juga digunakan untuk menunjukkan kerumitan sekaligus keteraturan di alam semesta yang menunjukkan wujūdnya Yang Maha Kuasa. Ciptaan Allāh tersebut tidak lain merupakan āyāt atas wujūdnya Allāh sebagaimana kitab suci pun merupakan āyāt Allāh. Kesadaran akan hal-hal ini diharapkan dapat menstimulasi kesadaran akan murāqabatullāh (perasaan diawasi oleh Allāh) dan muqārabatullāh (perasaan dekat dengan Allāh). Kedua sikap ini diharapkan akan menanamkan nilai-nilai seperti: sikap malu (kepada Allāh) dalam berbuat kejahatan, senantiasa bersikap ikhlaṣ, bertanggung jawab (displin), jujur, kemampuan mengendalikan diri, tidak berorientasi pada materi, dll. Dalam dimensi kedua berkaitan dengan sains sebagai perangkat untuk memahami fenomena alam fisik, ia dapat digunakan untuk menumbuhkan nilai: rasa ingin tahu yang tinggi (curiousity), gairah dalam mencari pengetahuan dan kebenaran, sikap tekun dan teliti, sikap taat pada prosedur (disiplin), sikap analitis, bekerjasama dan bersosialisasi, kemampuan menarik kesimpulan, dll. Melalui dimensi ketiga, sains dapat diajarkan dari segi kemanfaatannya bagi kehidupan ummat manusia, dan ketika ia diniatkan untuk menjadi manfaat bagi orang banyak maka kesadaran bahwa aktivitas sains adalah bagian dari ibadah diharapkan akan tumbuh, karenanya nilai yang diharapkan akan tumbuh adalah: kesadaran bahwa mempelajari sains adalah ibadah apabila diniatkan dan dilakukan dengan benar, penanaman etika dalam mengaplikasikan sains berdasarkan asas manfaat dan maṣlaḥat bagi ummat manusia, bertanggung jawab dengan merawat dan memelihara alam, sikap hemat, tidak tabdhīr (menggunakaan sumber dalam hal yang terlarang) dan isrāf (berlebihan), peduli pada masalah sosial kemasyarakatan, ingin senantiasa bermanfaat dengan berkarya, menghindarkan dari unsur penipuan (ghash), melalui keteladan para ilmuwan: niat yang benar, ketekunan, daya tahan, memberi manfaat. Demikian nilai dan sikap yang dapat timbul dari pembelajaran sains berbasis pada Islām. Tentu saja hasil ini akan optimal dengan berbagai faktor, utamanya faktor para pendidik yang berkualitas.

[1] Tulisan ini adalah cuplikan dari buku Menjadi Saintis Muslim.

[2] Pelajar CASIS-UTM dan peneliti PIMPIN Bandung

[3]Online Oxford Dictionaries, (http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/character)

[4] James Arthur, Education with Character The moral economy of schooling (London: RoutledgeFalmer, 2003), hlm. 10

[5]Ibid.

[6]Ibid. hlm. 11-12.

[7]Ibid., hlm. 17-18.

[8] Michael Watz, An Historical Analysis of Character Education (Journal of Inquiry & Action in Education, 4(2), 2011), hlm. 34

[9]Ibid., hlm. 36.

[10] Derek Heater, A History of Education for Citizenship (London: RoutledgeFalmer, 2004), hlm. 74

[11]Ibid., hlm. 35.

[12]Ibid., hlm. 45.

[13]Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008).

[14] Abū Ḥamīd al-Ghazālī, Iḥyāʾ ʿUlumiddīn (Mesir: Dāruʿl-Fikr, tanpa tahun). Juz 3 hlm. 52.

[15] Lihat misalnya karya Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islām: The Concept of Religion and The Foundation of Ethics and Morality dalam Prolegomena to The Metaphysics Of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), hlm. 41.

[16] Misalnya karya ʾadab al-ʿālim wa al-mutaʿālim atau al-Tibyān fī ʾadabi ḥamalāt al-Qurʾān karya Sharifuddīn al-Nawāwī Ash-Shafiʿī atau Imām an-Nawāwī

[17]Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islām dan Sekularisme (Bandung: PIMPIN, 2011), hlm. 196.

[18] Mohammad Natsir, Ideologi Pendidikan Islam dalam Capita Selecta 1 (Jakarta: Yayasan Bulan Bintang Abadi dan Media Dakwah, 2008), hlm. 80 dan 85.

Kebangkitan Ummat dan Masalah Pendidikan

Bismillahirrahmanirrahiim… Islam pernah berjaya menjadi peradaban besar. Andalusia misalnya, merupakan jembatan utama peradaban Islam dan pintu penting dalam transfer peradaban Islam ke Eropa. Hal ini mencakup berbagai bidang: ilmiah, pemikiran, sosial ekonomi dan sebagainya. Andalusia yang menjadi bagian dari Eropa telah menjadi mimbar pencerahan peradaban selama delapan abad (711-1492M) karena keberadaan kaum muslimin di sana[1]. Gustave Le Bon mengatakan: “Begitu orang-orang Arab berhasil Selengkapnya […]

Bismillahirrahmanirrahiim…

Islam pernah berjaya menjadi peradaban besar. Andalusia misalnya, merupakan jembatan utama peradaban Islam dan pintu penting dalam transfer peradaban Islam ke Eropa. Hal ini mencakup berbagai bidang: ilmiah, pemikiran, sosial ekonomi dan sebagainya. Andalusia yang menjadi bagian dari Eropa telah menjadi mimbar pencerahan peradaban selama delapan abad (711-1492M) karena keberadaan kaum muslimin di sana[1]. Gustave Le Bon mengatakan:

“Begitu orang-orang Arab berhasil menaklukan Spanyol, mereka mulai menegakkan risalah peradaban di sana. Maka dalam waktu kurang dari satu abad mereka mampu menghidupkan tanah yang mati, membangun kota-kota yang runtuh, mendirikan bangunan-bangunan yang megah dan menjalin hubungan perdagangan yang kuat dengan negara-negara lain. Kemudian mereka memberikan perhatian yang besar untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan sastra, menerjemahkan buku-buku Yunani dan Latin dan mendirikan universitas-universitas yang menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan peradaban di Eropa dalam waktu yang lama”[2].

Namun kejayaan peradaban Islam tersebut saat ini seperti sebuah mimpi di siang bolong, sekedar cerita sejarah belaka, ditengah kondisi ummat yang terpuruk di segala bidang. Di bidang politik, pertahanan dan keamanan, misalnya, Palestina yang merupakan negara dengan sebagian besar penduduk muslim masih tidak beranjak dari penjajahan Israel. Sektor budaya tak luput dari permasalahan, pornografi dan seks bebas, sampai penyalahgunaan obat-obat terlarang yang mencengkram ummat Islam diberbagai negara. Pun demikian dalam bidang ekonomi, kelangkaan bahan bakar, tingginya harga kebutuhan pokok dan lain sebagainya sebagai sebuah ironi di negeri-negeri kaya sumber daya alam, yang diakibatkan kungkungan sistem kapitalisme[3]. Semua persoalan itu pada akhirnya menimbulkan Tanya: “Apa sebetulnya yang salah?” Berbagai symptom (gejala) di atas pada gilirannya memaksa para cendekia untuk menganalisis serta menyimpulkan apa yang terjadi. Isma’il Raji al-Faruqi misalnya, mengidentifikasi bahwa berbagai masalah yang terjadi tidak terlepas dari masalah pokok, yaitu pendidikan. Pendidikanlah yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap situasi ini.[4] Prof. Syed Muhammad Naqib al-Attas melihat bahwa pemimpin saat ini hanya berkutat pada kulit luar dibanding mencari akar permasalahan mendasar yang sesungguhnya. Pemimpin yang telah terpengaruh oleh nilai-nilai Barat kemudian berusaha memperbaiki keadaan ummat dengan menerapkan cara-cara yang salah melalui sistem pendidikan yang terbaratkan[5].

Kenapa pendidikan menjadi sektor yang paling disalahkan? Menurut al-Attas, berbagai masalah yang timbul adalah akibat dari tidak dipakainya konsep ta’dib sebagai pendidikan dan proses pendidikan. Konsekuensi dari hal tersebut adalah hilangnya adab (loss of adab)[6]. Ini mengandung pengertian bahwa hilangnya adab disebabkan salahnya konsep pendidikan yang kita anut. Hal ini pada gilirannya akan berimplikasi pada kesalahan dan kebingungan dalam ilmu pengetahuan (error and confusion in knowledge) tentang Islam serta pandangan tentang ‘hakikat’ dan ‘kebenaran’ dalam Islam. Kondisi inilah yang pada akhirnya melahirkan pemimpin-pemimpin palsu di berbagai bidang.

Pendidikan Islam

Al-Attas mengatakan bahwa makna pendidikan dan segala yang terlibat di dalamnya merupakan hal yang sangat penting dalam perumusan sistem pendidikan dan implementasinya. Pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. Dalam jawaban ini terdapat beberapa konsep, yaitu : “suatu proses penanaman” mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai “pendidikan” secara bertahap. Konsep lainnya adalah “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan, dan konsep “diri manusia” mengacu pada penerima proses dan kandungan itu.[7]

Dalam Islam, pendidikan bertujuan menghasilkan individu yang baik dan beradab, bukan semata-mata warga negara yang baik. Adab adalah disiplin tubuh, jiwa dan ruh, disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelektual dan ruhaniah; pengakuan dan pengenalan akan kenyataan bahwa ilmu dan wujud ditata secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat (maratib) dan derajatnya (darajat)[8].

Dengan kata lain, adab berarti pengenalan dan pengakuan terhadap realitas bahwa ilmu dan segala sesuatu terdiri dari hirarki yang sesuai. Jika pengenalan adalah ilmu dan pengakuan adalah amal, maka pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal dan pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia kerana yang satu mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan kejahilan[9].

Manusia beradab adalah yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Allah, yang memahami dan menunaikan keadilan terhadap dirinya sendiri dan orang lain dalam masyarakatnya. Jika tujuan pendidikan adalah menghasilkan seorang manusia yang baik, maka pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk masyarakat yang baik. Kenapa demikian, karena masyarakat yang baik akan terbentuk setelah pribadi-pribadi manusia terbentuk dengan baik.[10]

Dalam karyanya yang lain, Prof al-Attas mengatakan bahwa pendidikan harus bertujuan pada pertumbuhan kepribadian manusia yang utuh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek dan rasio, perasaan dan indera-indera badan manusia. Latihan yang diberikan kepada seorang muslim yang harus menjadi keyakinan semacam itu disuntikkan ke seluruh kepribadiannya dan menciptakan dalam dirinya kecintaan emosional kepada Islam dan memungkinkannya mengikuti al-Qur’an dan Sunnah dan diatur oleh sistem nilai Islam secara ikhlas dan gembira sehingga ia dapat menjalankan kesadaran statusnya sebagai khalifah Tuhan, yang kepandanya Tuhan menjanjikan kekuasaan di alam semesta.[11]

Dari tujuan pendidikan secara umum tersebut dapat dirinci sasaran-saasaran pendidikan yang lebih khusus meliputi aspek spiritual (afektif), intelektual (kognitif) dan psikomotor. Aspek spiritual (afektif) meliputi : (1) suatu kesadaran akan keesaan dan kemahakuasaan Tuhan yang universal dalam semua pemikiran dan tindakan, (2) kesadaran terhadap sifat pandangan dunia Islam yang utuh, posisi masing-masing dan kaitan komponen-komponennya satu sama lain[12].

Sasaran aspek intelektual (kognitif) meliputi : (1) memiliki informasi dan memahami tentang semua unsur-unsur penting pandangan alam Islam, rukun iman, ritual-ritual dan petunjuk keagamaan dan riwayat hidup Nabi sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh, (2) memahami aspek-aspek syari’at Islam yang permanen dan relatif-historis, pemahaman dan implementasinya oleh Nabi, para sahabat dan ahli-ahli fiqh kemudian, (3) memperluas pengetahuan dan analisis terhadap aliran-aliran ritualistic fiqh, ekonomi, sosial politik dan militer, (4) menerapkan gagasan-gagasan dan idea-idea Islam ke dalam kondisi historis baik dalam bidang perorangan maupun kolektif.[13]

Sedangkan sasaran bidang psikomotor meliputi : (1) formulasi verbal dan tujuan  psikologis semua perbuatan yang difokuskan untuk dipersembahkan kepada Tuhan, (2) kemampuan membaca dan memahami bagian-bagian penting al-Qur’an yang diperlukan dalam menjalankan kewajiban ritual seperti shalat, (3) kemampuan fisik untuk melaksanakan semua tugas yang diwajibkan atas individu dan kolektif, dan (4) praktek idea-idea intelektual, sosial, ekonomi dan politik dengan simulasi, peran dan keterlibatan langsung.[14]

Kurikulum pendidikan

Dari sasaran pendidikan Islam tersebut dapat disusun kurikulum yang selaras. Kandungan kurikulum pendidikan Islam secara esensial tidaklah terbatas, ia dapat disusun bukan hanya untuk merespon perkembangan-perkembangan historis yang berbeda-beda, tetapi juga untuk menaunginya. Belajar bahasa Arab, bagi al-Qur’an dan Hadith adalah suatu keharusan karena Bahasa Arab dapat mengantarkan kepada keduanya, yang masing-masing merupakan ajaran Tuhan dan Nabi-Nya. Tetapi di sisi lain, ilmu-ilmu kedokteran, ekonomi, politik juga penting untuk dipelajari.[15] Bahkan Ibn Hazm pernah mengatakan bahwa, astrologipun yang tidak dikategorikan ke dalam ilmu, harus dipelajari agar kita mengetahui dimana letak kesalahannya.

Struktur kurikulum dalam pendidikan Islam dapat dibagi kedalam empat kategori berikut : pertama ilmu-ilmu fardhu ‘ayn yang termasuk dalam ilmu prasyarat, yang kedua ilmu-ilmu fardhu kifayah yang bertujuan memenuhi kepentingan umum sesuai perkembangan zaman dan lingkungan. Ketiga, ilmu-ilmu kemahiran (skill) dan kecakapan yang akan membantu si murid untuk memainkan peranannya di masyarakat, dan yang keempat adalah ilmu-ilmu spesialisasi (pengkhususan).[16]

Kategorisasi ke dalam fardhu ‘ayn dan fardhu kifayah masing-masng merupakan bagian wajib dan pilihan atau spesialisasi kurikulum dengan keseimbangan yang wajar antara intelektual, moral-spiritual, dan fisik. Gagasan kandungan fardu ‘ayn tidak harus dibatasi dengan ajaran-ajaran rukun iman dan Islam, tetapi harus sesuai dengan kemampuan kognitif seseorang, tanggung jawab sosial, posisi politik dan kapasitas ekonomi dengan baik. Dengan kata lain, ilmu fardhu ‘ayn yang diwajibkan atas tiap individu berbeda-beda kedalamannya sesuai kemampuan akliah, ruhaniah dan kedudukan sosial seseorang.[17]Apa yang diwajibkan kepada anak-anak, tentunya akan berbeda dengan apa yang diwajibkan terhadap orang dewasa. Pelajaran yang termasuk dalam kategori fardhu ‘ayn seperti bahasa Arab, al-Qur’an, hadith, khasanah ilmiah Islam dan lain-lain, yang kesemuanya itu merupakan prasyarat dalam pendidikan Islam.

Sedangkan, ilmu-ilmu fardhu kifayah terkait erat dengan kegunaanya untuk kepentingan masyarakat secara umum. Al-Attas mensyaratkan bahwa fardhu kifayah harus senantiasa merefleksikan tujuan akhir manusia untuk mencapai kesejahteraan yang hakiki, yaitu pembebasan dan penyucian dirinya dari belenggu kedzaliman, kebebasan dari belenggu nafsu hayawaniah.[18] Menurut al-Ghazali ada tiga prinsip yang merupakan panduan dalam mencari ilmu fardhu kifayah ini, meliputi (1) keutamaan mencari ilmu dititikberatkan kepada ilmu fardhu ‘ayn, (2) mencari ilmu fardhu kifayah harus dilakukan secara bertahap, dan (3) karena kewajiban fardhu kifayah akan gugur, bila sejumlah orang telah menanggung kewajiban tersebut, maka seorang muslim harus menghindari diri dari mempelajari ilmu fardhu kifayah yang telah dipelajari banyak orang.[19]

Saat ini misalnya, pada pendidikan tingkat menengah, hanya pelajaran-pelajaran ritual seperti shalat, zakat, haji dan beberapa dasar Islam yang diajarkan, itu pun tidak diintegrasikan dengan pengetahuan dasar Islam yang lebih luas dan universal. Bukannya tidak penting, tetapi tidak semua orang dapat melaksanakan kewajiban dimaksud, pada usia tersebut. Sebaiknya, mereka diajari falsafah yang ada dibalik kewajiban-kewajiban keagamaan dan kaitannya dengan pandangan dunia Islam yang lebih luas.[20]

Kajian perbandingan agama juga harus dimasukkan ke dalam pengajaran agama Islam ditingkat sekolah menengah. Hal ini dimaksudkan untuk mengungkapkan persamaan dan perbedaan Islam dengan agama-agama lain sehingga meningkatkan pemahaman dan kerjasama. Pembahasan perbandingan agama ini berimplikasi kepada perkembangan suatu masyarakat untuk menjadi lebih harmonis sebagaimana juga memelihara pemuda Muslim agar tidak mudah terpengaruh dan mudah diserang pengaruh-pengaruh agama lain.[21]

Khatimah

Masalah mendasar yang dihadapi ummat Islam saat ini adalah loss of adab. Hal ini terkait konsep pendidikan yang didalamnya memuat konsep ilmu yang tidak tepat. Kurikulum sebagai pengejawantahan dari konsep ilmu sudah seharusnya disusun secara benar. Akhirnya, kita berharap semoga dengan penerapan konsep pendidikan yang tepat, akan mengurai benang kusut permasalahan ummat. Semoga… (Eti Kusmiati/PIMPIN)

—Wallahu’alam—

[1] Raghib As-Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2012), hlm. 770.

[2] Ibid., hlm 770-771

[3] M. Umer Chapra, Islam and The Economic Challenge, The Islamic foundation and The International Institute of Islamic Thought, Leicester, 1992, p. 6.

[4]Isma’il Raji al-Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, (Bandung: Penerbit Pustaka, 2003), hlm. 11.

[5] Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, (Malaysia: ISTAC, 2001). Baca juga Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 2003), hlm, 113

[6]Al-Attas, Konsep pendidikan dalamm Islam, (Bandung: Penerbit Mizan, 1990), hlm, 75.

[7]Al-Attas, Konsep, hlm 35.

[8] Al-Attas, Konsep, hlm 53.

[9] Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, (Kuala Lumpur : ISTAC, 2001).

[10] Al-Attas, Konsep, hlm 59.

[11] Al-Attas, ed., Aims and Objectives of Islamic Education, hlm 158. Dalam Konsep Pengetahuan dalam Islam (Wan Mohd. Nor Wan Daud)

[12] Wan Mohd. Nor Wan Daud, Konsep Pengetahuan dalam Islam, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1997), hlm 103.

[13] Wan Daud, Konsep, hlm 104

[14] Ibid.

[15] Ibid., hlm 109

[16] Baca Adab peradaban dalam judul Perjalanan Mencari Ma’na dalam Pendidikan : Pengalaman Murid ISTAC 1994-1997, (Kuala Lumpur : MPH Group Printing, 2012), hlm 80. Baca juga Wan Mohd. Nor Wan Daud, Penjelasan Budaya Ilmu, (Kuala Lumpur : Dewan Pustaka dan Bahasa, 1991), hlm 38-39.

[17]Mohammad Hannan Hassan,  Adab peradaban dalam judul Perjalanan Mencari Ma’na dalam Pendidikan : Pengalaman Murid ISTAC 1994-1997, (Kuala Lumpur : MPH Group Printing, 2012), hlm 80.

[18] Al-Attas, Risalah untuk kaum muslimin, (Kuala Lumpur : ISTAC, 2001), hlm 19.

[19] Mohammad , Adab, hlm, 80.

[20] Wan Daud, Konsep, hlm 110.

[21] Wan Daud, Konsep, hlm 111.

Sumber Gambar :
http://pimpin.or.id/2015/03/09/penutupan-program-kuliyah-filsafat-prof-smn-al-attas-dan-pandangan-alam-islam-angkatan-ke-3-bertempat-di-sekolah-darul-adab-gegerkalong-bandung/

Kurikulum 2013 bagi MI, MTs, dan MA

Tahun ajaran 2014-2015, pendidikan madrasah yang berada di bawah Kementerian Agama akan mulai memberlakukan Kurikulum 2013. Program dan struktur kurikulum yang paling ditunggu-tunggu, yakni PAI yang terdiri dari Qur’an-Hadis, Aqidah-Akhlak, Fiqih, dan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) serta pelajaran Bahasa Arab kini sudah bisa diakses oleh lembaga-lembaga pendidikan yang memerlukannya. Khusus untuk tingkat Aliyah, ada kabar […]

(Visited 1.321 times, 1 visits today)

[unable to retrieve full-text content]

Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam, dasarnya adalah al-Quran dan al-Hadis. Dari kedua sumber tersebut, para intelektual muslim kemudian mengembangkannya dan mengklasifikannya ke dalam tiga bagian yaitu; (1) akidah untuk ajaran yang berkaitan dengan keimanan; (2) syariah untuk ajaran yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan hukum setiap perbuatan (amal nyata); dan (3) akhlak untuk […]

(Visited 44 times, 1 visits today)

Pendidikan Islam sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam, dasarnya adalah al-Quran dan al-Hadis. Dari kedua sumber tersebut, para intelektual muslim kemudian mengembangkannya dan mengklasifikannya ke dalam tiga bagian yaitu; (1) akidah untuk ajaran yang berkaitan dengan keimanan; (2) syariah untuk ajaran yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan hukum setiap perbuatan (amal nyata); dan (3) akhlak untuk ajaran yang berkaitan dengan etika.
Oleh karena pendidikan termasuk amal nyata, maka pendidikan tercakup dalam bidang syariah. Bila diklasifikasikan lebih lanjut, termasuk dalam sub bidang muamalah.
Dalam Alquran, banyak ayat yang berkenaan dengan pendidikan. Tim penyusun buku Ilmu Pendidikan Islam memberikan contoh dengan menggunakan kisah Lukman ketika mendidik anak-anaknya (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama, 1982/1983:20).
Hal tersebut menggariskan prinsip-prinsip dasar materi pendidikan Islam yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan.
Sebagai bantahan pendapat yang meragukan terhadap adanya aspek pendidikan dalam Alquran. Abdul Rahman Saleh Abdullah mengemukakan bahwa kata Tarbiyah yang berasal dari kata “Rabb”(mendidik dan memelihara) banyak terdapat dalam Alquran; demikian pula kata “Ilm” yang demikian banyak dalam Alquran menunjukkan bahwa dalam Alquran tidak mengabaikan konsep-konsep yang menunjukkan kepada pendidikan (Departemen P & K, 1990:291).
Hadis, juga banyak memberikan dasar-dasar bagi pendidikan Islam. Hadis sebagai pernyataan, pengalaman, takrir dan hal ihwal Nabi Muhammad saw., merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah Alquran.
Di samping Alquran dan hadis sebagai sumber atau dasar pendidikan Islam, tentu saja masih memberikan penafsiran dan penjabaran lebih lanjut terhadap Alquran dan hadis, berupa ijma’, qiyas, ijtihad, istihsan dan sebagainya yang sering pula dianggap sebagai dasar pendidikan Islam (Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama: 21). Akan tetapi, kita konsekuen bahwa dasar adalah tempat berpijak yang paling mendasar, maka dasar pendidikan Islam hanyalah Alquran dan hadis Nabi Muhammad saw.
B. Tujuan Pendidikan Islam
Pendidikan sebagai usaha normatif, maka tujuannya pun normatif (Abdurrahman Getteng, 1996:14). Oleh karena itu berbicara tentang tujuan pendidikan, baik pendidikan Islam maupun pendidikan lainnya, para ahli membagi dengan pembagian yang berbeda. Langevel misalnya, sebagaimana yang dikutip oleh Mappanganro, bahwa tujuan pendidikan diklasifikasikan kedalam enam bagian yaitu: 1) Tujuan umum 2) tujuan khusus 3) tujuan seketika 4) tujuan sementara 5) tujuan tidak lengkap, dan 6) tujuan perantara (Mappanganro, 1987 : 107).
Dilihat dari ilmu pendidikan teoretis, tujuan pendidikan ditempuh secara bertingkat, misalnya tujuan intermediair (sementara atau antara), yang dijadikan batas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu, untuk mencapai tujuan akhir.
Adapun tujuan akhir pendidikan Islam adalah pada hakikatnya merupakan realisasi dari cita-cita ajaran Islam itu sendiri, yang membawa misi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah Swt., lahir dan batin, dunia dan akhirat. Tujuan akhir pendidikan Islam telah disusun oleh para ulama dan ahli pendidikan Islam dari semua golongan dan mazhab dalam Islam.
Pendidikan Islam berlangsung seumur hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat mengalami naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam berlaku seumur hidup untuk menumbuhkan, memupuk dan mengembangkan, serta memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan Islam yang telah dicapai. Orang yang sudah takwa dalam bentuk Insan Kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaannya supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bahkan pendidikan dalam bentuk formal.
Sebagaimana Rumusan Hasil Keputusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7-11 Mei 1960 di Cipayung Bogor. Pada saat itu berkumpullah ulama ahli pendidikan Islam dari semua lapisan masyarakat Islam dan telah berhasil merumuskan tujuan pendidikan Islam yakni tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berkepribadian dan berbudi pekerti luhur menurut ajaran Islam. Tujuan tersebut ditetapkan berdasarkan atas pengertian bahwa “Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan ruhani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam (M. Arifin, 1994 : 41).
Rumusan lain tentang tujuan pendidikan Islam oleh Oemar al-Toumy al-Syaibany sebagai berikut: “Tujuan pendidikan Islam adalah perubahan yang diinginkan dan diusahakan dalam proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik tingkah laku individu dari kehidupan pribadinya atau kehidupan masyarakat serta pada alam sekitar di mana individu itu hidup atau pada proses pendidikan itu sendiri dan proses pengajaran sebagai suatu tindakan kegiatan asasi dan sebagai proporsi di antara profesi asasi dalam masyarakat” (Arifin : 42).
Tujuan-tujuan tersebut dapat paralel dan dapat pula pada urutan satu garis (linier) dalam hal ini, terdapat tujuan yang dekat, lebih jauh atau dalam istilah lain terdapat beberapa tujuan sementara atau tujuan akhir pendidikan Islam. Fungsi dari pendidikan Islam adalah memelihara arah usaha itu dan mengakhiri setelah tujuan itu tercapai. Fungsi tujuan sementara ialah membantu memelihara arah usaha dan menjadikan titik berpijak untuk mencapai tujuan-tujuan lebih lanjut dari tujuan akhir. Pendidikan Islam ialah usaha yang bertujuan banyak dalam urutan satu garis (linier), sebelum mencapai tujuan akhir, pendidikan Islam lebih dahulu mencapai beberapa tujuan sementara (Ahmad D. Marimba, 1981 : 46).
Tujuan pendidikan Islam identik dengan tujuan hidup seorang muslim. Bila pendidikan dipandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan pendidikan. Suatu tujuan yang hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang diinginkan. Nilai-nilai ideal itu mempengaruhi dan mewarnai pola kehidupan manusia, sehingga menggejala dalam perilaku lahiriahnya, dengan kata lain perilaku lahiriah adalah cermin yang memproyeksikan nilai-nilai ideal memacu di dalam jiwa manusia sebagai produk dari proses pendidikan.
Pendidikan Islam juga mempunyai tujuan yang sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang digariskan Alquran. Ibnu Khaldun mengatakan sebagaimana dikatakan oleh Ramayulis bahwa tujuan pendidikan Islam mempunyai dua tujuan. Pertama tujuan keagamaan, maksudnya beramal untuk akhirat, sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan ke atasnya. Kedua, tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup (Ramayulis, 1994:25-26). Demikian pula Abdullah Fayad menyatakan bahwa pendidikan Islam mengarah pada dua tujuan. Pertama, persiapan untuk hidup akhirat; kedua, membentuk perorangan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesan hidup di dunia (Ramayulis: 26-27). Semua rumusan tujuan yang dikemukakan di atas sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Tujuan pendidikan Islam adalah mengandung tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah: Tujuan merealisasikan idealitas Islami. Sedangkan idealitas Islami itu sendiri pada hakikatnya mengandung nilai perilaku manusia yang disadari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan yang ditaati (Arifin, 1994 : 119).
Selanjutnya al-Gazali berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling utama ialah beribadah dan taqarrub kepada Allah Swt., dari kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia dan akhirat (Ramayulis : 26). Selain dari pandangan yang dikemukakan oleh al-Gazali tentang tujuan pendidikan Islam. Al-Gazali merumuskan tujuan umum pendidikan Islam kedalam lima pokok: 1. Membentuk akhlak yang mulia (al-fadhilah); 2. Persiapan untuk dunia dan akhirat; 3. Persiapan untuk mencari rezki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatannya. Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan; 4. Menumbuhkan ruh ilmiah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu; 5. Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezki (Ramayulis).
Sebagaimana diketahui bahwa tujuan pendidikan adalah salah satu faktor determinan dalam pendidikan pada umumnya. Secara khusus dalam pendidikan Islam, yang menjadi tujuan utama adalah terbentuknya akhlak yang mulia (akhlak al-karimah).
Berbagai aspek yang harus dilihat dalam rangka penetapan dan pemantapan tujuan pendidikan tersebut termasuk pendidikan Islam. Aspek-aspek yang dimaksud adalah berkaitan dengan berbagai hal yang harus diperhatikan dalam hubungannya dengan subjek dan objek didik.
Sebagai titik akhir yang ingin dicapai adalah kesempurnaan jiwa manusia. Kesempurnaan jiwa diasumsikan sebagai suatu capaian yang harus diraih oleh segenap usaha manusia. Oleh karenanya perangkat pendidikan yang direkayasa senantiasa mencerminkan daya dukungnya terhadap tujuan itu.
Dengan kondisi ideal seperti itu menurut para ahli pendidikan Islam, manusia harus diarahkan ke arah pencapaian kualitas tertentu yang dapat digunakannya dalam kehidupan ini. Berbagai penelitian yang telah dikemukakan untuk mengkaji sekitar tujuan umum pendidikan Islam yang bersumber dari kenyataan-kenyataan serta pemikiran-pemikiran yang berkembang sekitar pendidikan Islam.
AR. Nahlawi, menyatakan bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah: 1) meningkatkan kemampuan akal dan menumbuhkan pikiran, 2) menumbuhkan potensi-potensi bakat yang dibawa sejak lahir, 3) mengembangkan potensi generasi muda, dan 4) menjaga keseimbangan potensi dan bakat manusia. Akal merupakan anugrah pemberian Tuhan yang dikhususkan kepada manusia sebagai jenis makhluk yang mengembang tugas berat dan mulia. Oleh karena pengembangan akal manusia harus menjadi prioritas dalam tujuan pendidikan (AR. Nahlawi, 1865 : 67).
Hal tersebut dapat dikomentari bahwa pakar tersebut menekankan lebih banyak kepada peranan akal dalam kehidupan manusia. Fungsi akal yang dimanifestasikan lewat kemampuan berpikir dapat menjadi sarana untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan. Demikian juga dapat mengembangkan potensi berupa bakat yang ada dalam diri setiap orang.
Lain halnya dengan al-Jamali mengemukakan bahwa tujuan-tujuan pendidikan Islam hendaknya diambil dari Alquran sebagaimana telah disebutkan beberapa tujuan dimaksud adalah: 1) Menyadarkan manusia tentang posisinya di antara makhluk yang lain, 2) Memperkenalkan tanggung jawab yang diemban oleh manusia dalam kehidupan diri dan sosialnya, 3) Mendalami hikmah penciptaan makhluk lain berupa alam dan segala isinya yang digunakan oleh dan untuk kepentingan manusia, 4) Memperkenalkan keagungan pencipta alam raya ini (Nahlawi : 62).
Dari gambaran tujuan yang dirumuskan oleh Nahlawi tersebut tampaknya dapat didekati dengan pemahaman yang berdimensi internal. Bahwa dalam diri manusia harus ditumbuhkan keadaan yang mendalam tentang berbagai hal, baik yang menyangkut eksistensinya maupun tanggung jawabnya secara hakiki. Bahkan sebagai makhluk Tuhan, manusia perlu memiliki suatu pandangan yang benar tentang akidah dan keyakinan kepada Allah Sang Maha Pencipta yang dapat didekati lewat atribut-atribut alamiah yang mudah dipahami.
Jika dipelajari karya-karya al-Gazali tentang pendidikan dan pengajaran, akan ditemukan dua tujuan pendidikan yang hendak dicapai, yakni; 1) Kesempurnaan manusia, yang puncaknya adalah kedekatan dengan Allah, dan 2) Kesempatan manusia yang puncaknya adalah kebahagiaan dunia dan akhirat (Fathiyah Hasan Sulaiman, 1964 : 12).
Berdasarkan tujuan tersebut tampaknya al-Gazali melakukan upaya dan menjabarkannya dalam berbagai bentuk pengajaran yang menurutnya dapat dan mampu mendekati puncak pencapaian tujuan-tujuan tersebut.
Dari pandangan di atas dapat dipahami sebagaisuatu kebulatan yang pada dasarnya tidak bertentangan satu sama lain. Mereka saling melengkapi guna mendapatkan rumusan tujuan ideal yang hendak dicapai oleh segenap usaha dan proses pendidikan Islam. Rumusan tersebut bila dicermati, berakar dari petunjuk-petunjuk Alquran serta berakar pada pengalaman historis dalam pelaksanaan pendidikan Islam hingga kini.
Dengan memperhatikan kerangka tujuan yang dikutip di atas, juga tergambar secara umum bahwa sistem pendidikan Islam memiliki ciri khas yakni dengan warna religius serta dilengkapi dengankerangka etis tanpa mengenyampingkan kepentingan-kepentingan duniawi. Apabila ditelusuri lebih jauh tentang kecenderungan al-Gazali dalam praktek dan proses pendidikan yang dilakukannya, tampak dengan jelas adanya aksentuasi ke arah bidang ruhani sebagai konsekuensi dari pandangan dalam bidang filsafat dan sufistik. Penjelasan Fathiyah Hasan tersebut menyimpulkan bahwa al-Gazali sebenarnya memiliki tujuan hakiki yakni mencapai kesempurnaan manusia dunia dan akhirat (Hasan Sulaiman : 20).
Dari berbagai macam tujuan pendidikan dikemukakan di atas kita dapat mengambil kesimpulan kepada dua macamkesimpulan yang prinsipil yaitu:
1. Tujuan Keagamaan
Yang dimaksud dengan tujuan keagamaan ini adalah bahwa setiap pribadi orang muslim beramal untuk akhirat atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan dikembangkan dari ajaran-ajaran Islam yang bersih dan suci. Tujuan keagamaan mempertemukan diri pribadi terhadap Tuhannya melalui kitab-kitab suci yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban, sunat dan yang fardhu bagi seorang mukallaf.
Tujuan ini menurut pandangan pendidikan Islam dan para pendidik muslim mengandung esensi yang sangat penting dalam kaitannya dengan pembinaan kepribadian individual ; diibaratkan sebagai anggota masyarakat yang harus hidup di dalamnya dengan banyak berbuat dan bekerja untuk membina sebuah gedung yang kokoh dan kuat. Di sini tampak jelas tentang pentingnya tujuan pendidikan ini, karena sebenarnya agama itu sendiri mempunyai hubungan yang erat dengan berbagai aspek pendidikan kejiwaan dan pendidikan kebudayaan secara ilmiyah dan falsafiyah. Maka dari itu agama mengarahkan tujuannya pada pencapaian makrifat tentang kebenaran yang haq, yaitu Allah Swt.
Di samping itu tujuan keagamaan juga mengandung makna yang lebih luas yakni suatu petunjuk jalan yang benar di mana setiap pribadi muslim mengikutinya dengan ikhlas sepanjang hayatnya, dan juga masyarakat manusia berjalan secara manusiawi (Ali al-Jumbulati, 2002 : 37).
Dengan demikian agama sebenarnya memberikan berbagai topik pembahasan, di antaranya yang paling essensial ialah pembahasan dari sudut falsafah, misalnya agama berusaha memberikan analisis yang benar terhadap permasalahan wujud alam semesta dan tujuannya, dan agama menetapkan garis dan menjelaskan kepada kita jalan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Tentang kehidupan di akhirat filsafat juga berusaha menganalisis problem-problemnya.
2. Tujuan Keduniaan
Tujuan ini seperti yang dinyatakan dalam tujuan pendidikan modern saat ini yang diarahklan kepada pekerjaan yang berguna (pragmatis) atau untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupan masa depan. Tujuan ini diperkuat oleh aliran paham pragmatisme yang dipelopori oleh ahli filsafat John Dewey dan William Kilpatrick. Para ahli filsafat pendidikan pragmatisme lebih mengarahkan pendidikan anak kepada gerakan amaliah (keterampilan) yang bermanfaat dalam pendidikan.
Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah kesempurnaan ruh (jiwa) manusia yang pada hakikatnya menjadi inti keberadaan manusia dalam perjuangan hidupnya mencari keridhaan Allah. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam pada dasarnya memperoleh tujuan ideal guna mengantarkan dan mengarahkan manusia dalam upaya memantapkan dan menjaga kesucian jiwanya. Dapat pula dikatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim seutuhnya adalah pribadi yang ideal menurut ajaran Islam yakni, meliputi aspek-aspek individual, sosial dan aspek intelektual. Semua aspek itu adalah sesuai dengan hakikatnya sebagai seorang muslim yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah Swt. sesuai tuntunan Alquran.

© Copyright 2014 kangyosep, All rights Reserved. Written For: kangyosep.com