Mahasiswa Unsoed Diajak Berantas Narkoba

PURWOKERTO-(TERBITTOP.COM)- Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memiliki perhatian besar pada bahaya peredaran narkoba, yang saat ini sudah menjangkau ke wilayah pedesaan. Karenanya, pada pelepasan 2.542 mahasiswa Unsoed yang akan melakukan KKN Tematik Posdaya, Rektor Unsoed Dr Ir H Achmad Iqbal MSi menggandeng Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Purbalingga AKBP Edy Santosa Msi, yang mengajak para […]

Ceramah BNN di UnseodPURWOKERTO-(TERBITTOP.COM)- Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memiliki perhatian besar pada bahaya peredaran narkoba, yang saat ini sudah menjangkau ke wilayah pedesaan. Karenanya, pada pelepasan 2.542 mahasiswa Unsoed yang akan melakukan KKN Tematik Posdaya, Rektor Unsoed Dr Ir H Achmad Iqbal MSi menggandeng Kepala Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Purbalingga AKBP Edy Santosa Msi, yang mengajak para mahasiswa di sela-sela KKN-nya ikut menebar informasi kepada masyarakat desa tentang program pemerintah yang saat ini tengah digalakkan melalui BNN dan BNNK, yakni rehabilitasi 200 ribu penyalahguna narkoba untuk tahun 2015.

“Kami mengharapkan, nanti adik-adik mahasiswa sekalian bisa memberikan informasi kepada masyarakat, kalau dia sebagai penyalahguna, bisa dilaporkan ke BNN atau Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Tidak akan dipidana, malah direhabilitasi,” kata Edy Santosa di hadapan para mahasiswa yang memadati Auditorium Unsoed, Purwokerto, belum lama ini.Berdasarkan Inpres No 12 Tahun 2011, tanggungjawab penanganan, pemberantasan penyalahguna narkotika di Indonesia tak hanya ada di tangan BNN atau Kepolisian saja. Tapi, perlu dilakukan oleh seluruh komponen bangsa, termasuk para mahasiswa.

Untuk program rehabilitasi terhadap para penyalahguna ini, papar Edy Santosa, tak ada biaya sama sekali yang dibebankan, alias gratis. Yang membiayai nanti adalah negara.

Kepala BNNK Purbalingga ini memberikan penjelasan secara rinci, bahwa untuk rawat jalan seorang penyalahguna narkoba dibiayai Rp1,2 juta per bulan sampai sembuh. Kemudian untuk rawat inap, yakni dikenakan kepada mereka yang diduga atau waktu diamankan oleh BNN atau kepolisian ditemukan barang bukti lebih dari surat edaran Mahkamah Agung yakni di atas 1,1 gram namun dari hasil assesment ternyata mereka adalah penyalahguna, dibiayai negara dengan anggaran Rp4,3 juta
per bulan selama tiga bulan.

“Jadi, bagi adik-adik sekalian nanti tolong diinformasikan kepada masyarakat, di lingkungan tempat KKN adik-adik, bahwa jika ada penyalahguna narkoba bisa segera melaporkan diri atau mungkin dibimbing oleh adik-adik sekalian, untuk melakukan atau melaporkan diri,” tambahnya. Karena, sebagaimana diatur undang-undang, barang siapa yang mengetahui ada penyalahguna narkoba tapi tidak melaporkan akan dikenakan pidana kurungan selama enam bulan.

Saat ini tempat-tempat melaporkan penyalahguna narkoba atau IPWL sudah ada di mana-mana. BNNK Purbalingga telah bekerja sama dengan rumah sakit Ajibarang untuk wilayah Banyumas, rumah sakit di Purbalingga, Banjarnegara, Bumiayu, dan rumah sakit Brebes.

BNNK Purbalingga menargetkan rehabilitasi 545 orang untuk tahun ini, dan baru mencapai 250 orang yang direhabilitasi per Juli 2015. Dari jumlah itu, 200 di antraranya adalah hasil razia di tempat-tempat hiburan, tempat umum, hotel, kafe, dan lokasi lainnya di Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Brebes. Artinya hanya sebagian kecil saja yang melapor diri. Jadi pelibatan mahasiswa Unsoed untuk menebar informasi adanya rehabilitasi tanpa biaya dan tak akan dipidana, diharapkan menambah jumlah yang direhabilitasi atas kemauan sendiri secara signifikan.

Peredaran narkoba di Indonesia, menurut Edy Santosa, sudah sangat mengerikan. Uang yang bergulir untuk membeli narkoba itu mencapai Rp72 triliun per bulan, atau kalau setahun sekitar Rp865 triliun. “Jadi Indonesia ini telah menjadi swalayannya narkoba dunia,” kata Edy Santosa. sambil menyebutkan bahwa rehabilitasi menjadi program pilihan pemerintah saat ini untuk mencegah peredaran narkoba.

“Jadi mari kita bersama-sama, kita menyelamatkan generasi kita, dalam rangka menyongsong Indonesia tahun 2045 adalah Indonesia Emas. Karenanya, Presiden Indonesia Jokowi menyatakan kita harus merehab,” jelasnya. Dasar hukum merehabilitasi penyalahguna narkoba itu sudah jelas, yakni UU No 35 tahun 2009, bahwa para penyalahguna wajib melaporkan atau mereka yang melaporkan tidak
dikenai tindak pidana.

Disebutkan, pada tahun 2014 program rehabilasi itu menargetkan 100.000 ribu penyalahguna narkoba. Kemudian target 2015 naik lagi, menjadi 200.000 yang direhab, kemudian tahun 2017 rehab ditargetkan 300.000, lalu 2018 bertahap menjadi sekitar 400.000.

Sebagai informasi, Kepala BNNK Purbalingga ini menyebutkan saat ini satu kilogram sabu-sabu di Indonesia ini harganya sekitar Rp2 miliar sampai Rp2,6 miliar. Satu kilogram sabu-sabu ini bisa merenggut 4.000 nyawa manusia penggunanya.

“Coba kita hitung, kalau satu kilogram dikalikan 800 kilogram yang kemarin berhasil disita oleh BNN, berapa juta nyawa yang terselamatkan, yang penyelundupannya digagalkan BBN. Karernanya, kami mengajak adik-adik mahasiswa untuk ambil bagian, sembari menjalankan tugas KKN-nya,” kata Edy Santosa.
Penggagalan penyelundupan yang diungkap oleh BNN maupun Polri ini hanya sebagian kecil saja. Yang lolos dan beredar di Indonesia, hampir 70 persen. Jadi yang digagalkan penyelundupannya hanya sekian persen saja.

“Kita bisa membayangkan berapa anak generasi bangsa generasi kita, kita tidak usah bicara jauh, kita bicara di Purwokerto saja. Dalam periode bulan Januari sampai bulan Juli, kami mengetahui melalui IT kami, perlu kami sampaikan sebagai informasi, ada operator sabu-sabu yang mengedarkan 20.000 SMS perjalanan sabu-sabu. Ini sudah kita print menjadi 200 halaman. Dari pembicaraan lewat IT yang kami punyai itu, peredaran narkoba sudah sangat luar biasa,” jelasnya. (end)