Posdaya Senjata Utama Hadapi Perang Proksi

JAKARTA (TERBITTOP.COM)- Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang digagas Pembina Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dinilai sebagai senjata utama untuk menghadapi perang proksi atau proxy war, yang saat ini telah berlangsung dan sedang dihadapi bangsa ini. “Ini perang yang tidak tembak-tembakan, tapi perangnya dengan kekuatan yang lunak. Apalagi dengan kemajuan teknologi dan dunia maya. Yang […]

pak biakto buka ost angkt 109JAKARTA (TERBITTOP.COM)- Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang digagas Pembina Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dinilai sebagai senjata utama untuk menghadapi perang proksi atau proxy war, yang saat ini telah berlangsung dan sedang dihadapi bangsa ini.

“Ini perang yang tidak tembak-tembakan, tapi perangnya dengan kekuatan yang lunak. Apalagi dengan kemajuan teknologi dan dunia maya. Yang diserang adalah, bagaimana ideologi suatu negara bisa dihilangkan. Ideologi bangsa kita, kalau bisa diganti,” kata Dr (HC) Subiakto Tjakrawardaja,
Ketua yang baru dari Yayasan Damandiri saat membuka Observation Study Tour (OST) angkatan yang ke-109 di Haryono Suyono Center, Jakarta, belum lama ini.

OST diikuti peserta dari SKPD Kabupaten Tegal, Tim PKK Kabupaten Tegal, dan Dharma Wanita se-Kabupaten Tegal, Jawa Tengah yang dipimpin Ny Nurlela Enthus Susmono, istri Bupati Tegal.

Lainnya yang diserang dengan kekuatan lunak ini adalah mindset, mental, dan perilaku. Bangsa ini juga telah dirusak dengan peredaran narkoba, demikian pula dengan kampanye yang dilakukan kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Dari sisi pangan, bangsa Indonesia diserang begitu rupa sehingga mengalami ketergantungan pangan dari dunia luar. Pun begitu dengan energi. “Padahal, yang terpenting bagi suatu bangsa adalah ketersediaan pangan dan energinya,” kata Dr (HC) Subiakto.

jadi, hingga detik ini tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia bukan bertambah ringan tapi bertambah berat. Jadi lebih dari sekadar bagaimana mengatasi kemiskinan yang jumlahnya cukup besar, dan bukannya berkurang tapi malah bertambah. Apalagi, di tengah kondisi perekonomian yang
saat ini semakin melemah, dan kemungkinan di tahun 2016 akan bertambah lemah.

Penduduk yang tadinya sudah agak sejahtera, menjadi miskin karena harga kebutuhan bahan pokok sudah naik. Kondisi kemiskinan saat ini, lebih memberatkan karena tidak seperti dulu. Waktu itu tantangannya adalah bagaimana untuk bisa hidup sejahtera. Tapi sekarang, ada suatu
kondisi lingkungan, yang lebih berat dari itu. Karena, adanya perang proksi tersebut.

“Jelas, konsep Posdaya yang digagas Pak Haryono menghadapi tantangan yang cukup besar dan sebetulnya lingkungan kita saat ini tidak sejalan paralel dengan semangat Posdaya itu sendiri,” tambah Dr (HC) Subiakto.Posdaya yang digagas Prof Haryono sekitar enam tahun lalu itu, dalam rangka menghadapi tantangan-tantangan bangsa. Di samping, ada program yang dinamakan Millennium Development Goals (MDGs) yang merupakan kesepakatan negara-negara anggota PBB, diteruskan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang saat ini telah bergulir.

Gagasan yang visioner itu, ternyata sangat tepat untuk menghadapi Perang Proksi. “Posdaya inilah, kata kunci untuk menangkal proxy war itu. Posdaya itu adalah senjata utama untuk menghadapi proxy war. Karena, Posdaya yang digagas Pak Haryono ini adalah suatu organisasi yang bisa membangkitkan kembali partisipasi masyarakat yang dilandasi semangat gotongroyong,” tegas Dr (HC) Subiakto.Gotongroyong ini merupakan esensi dari Pancasila, dan menjadi kata kunci menghadapi tantangan bangsa termasuk di dalamnya adalah proxy war.

Jadi, kehadiran para peserta OST dari Kabupaten Tegal, untuk mendalami Posdaya merupakan langkah yang benar. “Hasil dari OST ini akan bermanfaat bagi pemberdayaan keluarga-keluarga miskin di Kabupaten Tegal. Namun juga dibutuhkan percepatan-percepatan dalam menghadapi tantangan
global, yang sesungguhnya kita belum siap menghadapinya,” pungkas Dr (HC) Subiakto.

Peningkatan Kualitas Posdaya. Sementara itu, Prof Haryono Suyono memuji kemajuan Posdaya yang ada di Kabupaten Tegal. “Karena, Tegal ini tidak saja membuat dan mengisi Posdaya biasa, tetapi Tegal ini telah kita tingkatkan menjadi salah satu dari 20 Posdaya rujukan nasional pada ulang tahun Yayasan Damandiri ke- 20. Untuk itu, Tegal siap-siap untuk menerima rombongan kader Posdaya dari daerah lain yang akan berlatih,” kata Prof Haryono.

Terkait dengan posisinya sekarang di Yayasan Damandiri, Prof Haryono menyatakan ia akan menjadi ‘pendito’ dalam arti memberikan perhatian
pada peningkatan kualitas Posdaya yang telah ada. “Urusan adminstrasi saya serahkan kepada Pak Subiakto yang beberapa tahun lebih muda dari saya,” kata Prof Haryono yang disambut aplaus peserta OST.Prof Haryono juga memperkenalkan beberapa pengurus Yayasan Damandiri kepada para peserta OST.

Yang hadir antara lain Direktur Pelaksana Harian Yayasan Damandiri Dr Moch Soedarmadi, kemudian Direktur yang mengurusi usaha-usaha yakni Dr Sutarto Alimoeso MA, juga Penanggung jawab Pelatihan Yayasan Damandiri Dr Fauzan Al Fikri SH MKM, dan Deputi Direktur Umum Dr Mulyono Dani Prawiro.

“Posdaya di Tegal ini, harus menampung kelompok dari berbagai bangsa, dari Prancis dan beberapa negara lain. Permintaan sudah mulai mengalir dan oleh karena itu saya sekarang berkonsentrasi untuk mulai menampung permintaan yang meluas,” kata Prof Haryono, yang kemudian memberikan pembekalan materi tentang Posdaya kepada seluruh peserta OST angkatan kee-109 itu. (*)