Ekspor Kerajinan Bali Meningkat

Bali meraup devisa sebesar US$ 5,66 juta dari hasil pengapalan patung dan aneka jenis kerajinan cendera mata berbahan baku kayu ke pasaran luar negeri selama Maret 2015 atau meningkat 32,96 persen dari bulan sebelumnya yang hanya US$ 4,29 juta.

Sedangkan Yunani menyerap 4,57 persen, Singapura 13,55 persen, Jepang 2,76 persen, Singapura 0,70 persen, Australia 4,40 persen, Hong Kong 0,55 persen, Prancis 4,77 persen, Spanyol 7,79 persen, Inggris 6,95 persen, dan Belanda 2,20 persen

Pada saat penduduk diBali masih hidup mengembara, mereka membuat peralatan dan perlengkapan hidup berupa produk kerjinan dengan menggunakan bahan baku yang ada di sekitar mereka, seperti batu, kayu, bambu, tulang atau kulit binatang, dan sebagainya serta dikerjakan dengan teknik yang masih sangat sederhana.

Dalam perkembangan selanjutnya, sebelum mendapat pengaruh modernisasi, masyarakat di Bali telah mampu menciptakan berbagai peralatan berupa produk kerjinan tradisional yang digunakan untuk menunjang aktivitas hidupnya sehari-hari, seperti: peralatan pertahian, perabotan dapur, pertukangan dan sebagainya.

Produk kerajinan tersebut diwujudkan secara permanen atau temporer berupa “alat” upacara, simbol-simbol atau nyasa dan sebagai elemen estetis dengan menggunakan berbagai bahan, seperti: emas, perak, perunggu, kuningan, besi, batu, bambu, tanah liat, kayu, kulit hewan, dan sebagainya.

Dalam penggunaan produk kerajinan terkait dengan agama Hindu di Bali, maka dikenal tiga jenis produk kerajinan, yakni: produk kerajinan sebagai sarana upacara dewa yadnya disebut produk kerajinan wali (spritual), produk kerajinan sebagai sarana upacara dewa yadnya dan juga sekaligus untuk memenuhi kebutuhan cita rasa manusiawi yang disebut kriya bebali(spritualsekuler).

Produk kerajinan yang dimanfaatkan untuk perlengkapan dalam kegiatan kesenian, seperti: dalam seni tari, seni sastra, seni suara (kekawin atau kekidung), seni karawitan, pedalangan, bangunan tradisional dan sebagainya.

Dalam pagelarannya melibatkan berbagai produk kerajinan, seperti: topeng, pakaian penari (gelungan, bapang, ampok-ampok, gelang kana, keris, tombak, dan sebagainya), termasuk produk kerajinan sebagai elemen estetis yang digunakan untuk menghias panggung pertunjukan.

tapel2kamasan_painting_01Sebagai perlengkapan dalam seni pedalangan, seperti: berbagai bentuk dan karakter wayang yang diukir atau disungging pada kulit binatang yang telah disamak, gambelan, “lampu wayang”, keropak atau peti untuk menyimpan wayang dan sebagainya.

Produk kerajinan banyak diterapkan berupa simbol-simbol atau elemen estetis, baik berupa relief atau patung, seperti berupa kekarangan (karang gajah, boma, goak atau paksi, tapel, sesimbaran, dan batu), pepatran (patra sari, patra punggel, masmasan, kakul-kakulan, tali ilut, sesimbaran, pipid, welanda, mesir, cina dan sebagainya).

Sebagai sarana seni sastra tradisional, seperti dalam penulisan berbagai aksara atau pembuatan ceritera bergambar atau prasi (bahasa Bali), dibuat di atas permukaan\daun lontar, tembaga, emas, perak, batu, dan sebagainya dengan jalan ditoreh Pengembangan sektor pariwisata di Bali dalam konteks perekonomian masyarakat, pengembangan tersebut dinilai positif dan dianggap sebagai sektor yang sangat strategis, karena mampu membangkitkan semangat rakyat dari kelesuan ekonomi yang diakibatkan terjadinya inflasi dan resesi yang melanda dunia.

Leave a Reply