Posdaya Saatnya ‘Go International’

YOGYAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Kiprah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di tataran nasional telah diakui dan mendapat apresiasi banyak kalangan, tak terkecuali dari Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) Yogyakarta Dr Alimatus Sahrah Msi, MM. Bahkan, rektor yang akrab disapa Ibu Alin ini mendorong agar Posdaya’go international’. “Saya berharap Yayasan Damandiri menjadi lebih besar lagi, dan saya sangat berharap Posdaya ‘go […]

rektor UMB dan wartawanYOGYAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Kiprah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di tataran nasional telah diakui dan mendapat apresiasi banyak kalangan, tak terkecuali dari Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) Yogyakarta Dr Alimatus Sahrah Msi, MM. Bahkan, rektor yang akrab disapa Ibu Alin ini mendorong agar Posdaya’go international’.

“Saya berharap Yayasan Damandiri menjadi lebih besar lagi, dan saya sangat berharap Posdaya ‘go international’,” kata Rektor UMB Yogyakarta kepada TERBITTOP, di Yogyakarta,Kamis (26/11).

Dorongan tersebut bukan tanpa alasan, mengingat sebentar lagi diberlakukan perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Jadi, kenapa tidak Posdaya kita ‘geret’ sampai keluar. Saya kira Prof Haryono (Ketua Yayasan Damandiri Prof Haryono Suyono-Red) lebih bisa,” tambahnya.

Untuk mendorong ‘go international’ pemberdayaan masyarakat desa melalui program Posdaya, UMB Yogyakarta menyelenggarakan seminar internasional tentang pembedayaan tersebut, yang melibatkan tidak saja pembicara daridalam negeri, di antaranya Prof Haryono dan Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X, juga dari para pembicara asing. Antara lain, pada hari pertama penyelenggaraan seminar tampil sebagai pembicara asing adalah Dr Judit Hidasi dan Dr Eva Sandor-Kriszt dari Budapest Business School, Hungaria, Dr Siegfred L Manaois dari Lyceum of Philippines University, dan Peter Craven dari Australia Indonesia Business Council.

Rektor UMB Yogyakarta ini sangat yakin, Posdaya bisa ‘go international’, karena di negara lain pun kemungkinan ada persoalan yang sama. Upaya pemberdayaan lebih insten dilaksanakan melalui Posdaya, karena sudah memasuki Sustainable Development Goals (SDGs), untuk itu perlu juga menggali informasi dari pihak lain di luar negeri, terutama universitas-universitas asing yang juga melaksanakan kegiatan semacam KKN.

“Makanya kita ingin berkolaborasi dengan beberapa universitas luar negeri, antara lain dari Hungaria, Filipina, dan Australia. Untuk mengetahui apakah mereka juga memiliki permasalahan yang sama. Mereka juga ada yang seperti KKN, yang mereka ingin melihat culture (budaya) dan termasuk yang di Indonesia, kita berkolaborasi untuk itu,” jelasnya.

Seminar Internasional

Menjawab pertanyaan Terbittop dan Majalah Gemari, Ibu Alin juga mengungkap latar belakang universitas pimpinannya menggelar seminar internasional pemberdayaan dengan tema International Seminar: Society Empowerment Through Multidimensional Approach. “Gagasan ini muncul ketika kami bergabung dengan Posdaya. Kami juga melihat adanya kucuran dana desa dari pemerintah sebesar Rp1 miliar. Itu menjadi pemikiran kami, bagaimana agar masyarakat desa bisa berdaya,” jelasnya.

Saat ini, diakuinya bahwa UMB Yogyakarta telah memiliki banyak desa binaan di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, antara lain Bantul dan Kulonprogo. Desa-desa ini, yang jumlahnya 20 desa, membutuhkan upaya-upaya pemberdayaan.

“Pemberdayaan yang kita kemas dalam society empowerment (pemberdayaan masyarakat). Kemudian ada satu istilah lagi yakni multidimensional approach (pendekatan multidimensi), kita pendekatannya dari beberapa bidang misalnya dari sisi psikologi, ekonomi, dan IT. Semuanya itu untuk memberdayakan masyarakat,” jelasnya. Untuk itu, pihaknya mengundang Prof Haryono sebagai keynote speaker.

“Karena kami tahu, Prof Haryono lebih ahli mengenai masalah ini,” kata Rektor UMB yang masih terlihat gesit.

Untuk program KKN Tematik Posdaya, diakui Ibu Alin, UMB Yogyakarta memperoleh dana hibah dari berbagai pihak. “Dana-dana ini akan kita gulirkan bagi pemberdayaan masyarakat di desa. Sejauh dari desa binaan kami, yang telah berhasil ada sepuluh desa. Rata-rata bergerak di bidang pangan lokal, seperti pengolahan ketela dan gula aren,” pungkasnya.*