Keutamaan Ilmu bagi Manusia

  Oleh:  Shohib Khoiri, Lc. Peneliti PIMPIN   Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda:   فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب, و إنّ العلماء ورثة الأنبياء   “Keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah ibarat keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Tirmidzi)   Hadits ini menegaskan akan Selengkapnya […]

Oleh:  Shohib Khoiri, Lc.

Peneliti PIMPIN

Dalam salah satu haditsnya Rasulullah bersabda:

فضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب, و إنّ العلماء ورثة الأنبياء

Keutamaan seorang ‘alim atas ahli ibadah ibarat keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan akan besarnya nilai ilmu. Rasulullah menegaskan bahwa seorang yang berilmu lebih baik dari seorang ahli ibadah. Hal ini diibaratkan dengan keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Ketika bintang-bintang kecil hanya mampu menerangi dirinya sendiri, maka bulan purnama tidak hanya menerangi dirinya sendiri, tapi mampu juga menerangi dzat-dzat sekitarnya. Begitu juga dengan ahli ibadah, ketika mereka hanya mampu menerangi dirinya sendiri dengan ibadahnya, maka orang-orang berilmu  tidak hanya menerangi dirinya, tapi juga menerangi orang-orang disekitarnya dengan ilmunya. Sehingga tidak heran jika pahala menuntut ilmu lebih besar dari ibadah-badah sunnah. Pada suatu hari Rasulullah pernah bersabda kepada Abu Dzar : “Wahai Abu Dzar, Sungguh jika engkau berangkat diwaktu pagi, lalu belajar satu bab dari ilmu,  maka itu lebih baik bagimu dari shalat seribu rakaat. (HR. Ibnu Majah)

Dalam suatu riwayat, Abu Hurairah pernah berjalan ke suatu pasar. Sesampainya dipasar beliau melihat orang-orang begitu santai dengan kehidupan mereka. Melihat keadaan demikian beliau berkata: “Siapa diantara kalian yang ingin mendapatkan warisan yang telah Rasulullah tinggalkan?, sesungguhnya warisan Rasulullah saat ini sedang dibagikan di mesjid”. Mendengar ucapan beliau, mereka akhirnya berlarian berangkat ke mesjid untuk mendapatkan warisan. Sesampainya di masjid, mereka ternyata tidak menemukan apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah, mereka hanya menemukan orang-orang sedang shalat, mengaji dan mencari ilmu, lalu mereka berkata: “Mana warisan Rasulullah yang engkau katakan?”. Mendengar ucapan mereka, beliau menjawab: “Sesungguhnya inilah harta Rasulullah yang beliau tinggalkan”. Begitulah besarnya perhatian Seorang Abu Hurairah terhadap ilmu. Beliau sadar bahwa tidak ada warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah yang lebih berharga melebihi ilmu. Disaat orang-orang disibukan oleh perniagaan, maka beliau justru disibukan oleh ilmu yang Rasulullah tinggalkan. Hingga sejarah pun mencatat beliau sebagai  salah satu sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits meskipun masa interaksi beliau dengan Rasulullah relative sebentar.

Ilmu dan Ulama

Ilmu dan ulama, dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Ilmu adalah warisah Rasulullah terbesar sedangkan ulama adala orang-orang yang Rasulullah janjikan sebagai pemegang warisan tersebut. Disamping amanah besar yang Rasulullah sandarkan kepada para ulama untuk menjaga ilmu, Rasulullah pun memperingati akan adanya ulama suu’. Hancurnya umat ini adalah karena kerusakan yang terjadi pada para ulama. Mereka tidak mengajak kepada kebaikan, tapi justru malah menyuruh kekeburukan. Hingga jika ulama ini rusak maka umat pun menjadi  rusak lalu tercabutlah ilmu. Rasulullah pernah bersabda:

إن الله لا ينتزع العلم انتزاعا من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا

Tidaklah Allah mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia. Akan tetapi mencabutnya dengan cara mencabut para ulama. Hingga jika tidak tersisa orang yang alim, orang-orang menjadikan  orang-orang bodoh sebagai tempat bertanya. Mereka ditanya tentang agama, maka mereka pun menjawabnya maka merekapun sesat dan menyesatkan”.

Setelah Rasulullah memperingati akan hadirnya para ulama suu’ yang akan membawa ilmu yang rusak, maka ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tetang hakikat ilmu dan ulama.  Yang perlu dicatat bahwa tidak semua orang yang dianggap ‘alim (berilmu/cendekiawan) mereka berhak disebut sebagai orang yang ‘alim menurut syariat. Karena ada orang yang disebut sebagai ‘alim padahal dialah yang pertama kali digiring ke neraka.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلّم أنه قال : إنّ أوّل الناس يقضى يوم القيامة رجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كذبت ولكنك تعلمت ليقال: عالم! وقرأت القرآن ليقال: قارئ! فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار.. (رواه مسلم)

“Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata: sesungguhnya yang pertama kali digiring ke neraka pada hari akhir nanti adalah seseorang yang memperlajari ilmu dan mengajarinya serta mereka yang membaca al-Quran.  Allah pun memberi tahu kepadanya nikmat hingga mereka tahu. Allah berkata kepada mereka: apa yang kalian kerjakan dengannya?. Dia berkata: aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Quran karena Engkau. Allah berkata: Sungguh kamu telah berdusta !!, padahal kamu mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai seorang ‘alim, kamu membaca al-Quran agar disebut sebagai qari’, dan kalian pun telah mendapatkannya. Hingga diperintahkan kepada mereka agar wajah mereka dibenamkan dan dilemparkan ke neraka (Bukhari).

Kemudian ingat juga bahwa diantara sekian banyak ilmu, ada ilmu yang mana Rasulullah berlindung darinya, sebagaimana doa beliau:

اللهمّ أنّي أعوذ بك من علم لا ينفع

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.

Lalu apakah itu ilmu  dan siapakah orang yang ‘alim itu?

Allah berfirman:

أنما يخشي الله من عباده العلماء

“Sesungguhnya yang paling takut terhadap Allah dari hamba-Nya adalah ulama”

Allah berfirman:

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran 18)

Ibnu Mas’ud pernah berkata:

كفى بخشية الله علما و كفى بالاغترار بالله جهلا

“Cukupkah rasa takut seseorang kepada Allah menjadi bukti bahwa dia berilmu, dan cukupkah kelalaian terhadap Allah menjadi bukti seseorang jahil”

‘Imran bin Qasir berkata:

سألت الحسن عن شيء, فقلت: إنّ الفقاهاء يقولون كذا و كذا. قال: إنّما الفقيه الزاهد في الدنيا البصير بدينه المداوم على عبادة ربّه.

Aku bertanya pada Hasan al-Bashri tentang sesuatu, aku pun berkata: Sesungguhnya para fuqaha adalah yang berkata demikian dan demikian. Beliau berkata: Sesungguhnya seorang faqih adalah dia yang zuhud di dunia, mempunyai bashirah terhadap agamanya dan istiqamah dalam beribadah”

Muhammad bin Jabr berkata:

الفقيه من خاف الله عزّ و جلّ

“Seorang faqih adalah dia yang takut terhadap Allah ‘Azza wa Jalla”.

Jadi apakah ilmu yang dengannya seseorang disebut alim?. Ia adalah ilmu yang menambah rasa takut kepada Allah, zuhud di dunia dan rasa cinta akan kehidupan akhirat. Lalu siapakah seorang alim itu?. Adalah dia yang takut kepada Allah, zuhud di dunia dan cinta akan kehidupan akhirat.

Kemudian, setelah mengetahui hakikat ilmu dan ‘alim yang  sebenarnya. Kita pun harus mengetahui ilmu yang dengannya membuat kita cinta akan akhirat. Tidaklah ilmu tersebut melainkan ilmu yang langsung diturunkan langsung dari Allah, yaitu al-Quran dan Sunnah.

Rasulullah bersabda:

لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا و لبكيتم كثيرا

“Jika sekiranya kalian mengatahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan akan banyak menangis”

Hadits ini menunjukan bahwa ilmu yang diberikan kepada Rasulullah adalah sebab yang yang menjadikan beliau sebagai orang yang paling bertakwa  diantara manusia-manusia lainnya. Tidaklah ilmu yang nabi dapatkan kecuali ilmu yang menjadi amanah bagi beliau untuk disampaikan kepada umatnya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Jika sekiranya ilmu hakiki adalah ilmu yang membuat kita takut kepada Allah, dan ilmu tersebut adalah al-Quran dan Sunnah, maka seorang ‘alim hakiki adalah, mereka yang ‘alim tentang al-Quran dan Sunnah.

Ibnu Wazir as-Shan’any berkata:

لأنّ من ليس بعالم بالكتاب و السنّة لايستحقّ أن يسمّى بالشرع عالما وإن عرف جميع العلوم ما عدا الكتاب و السنّة. .

“Karena seseorang yang tidak mengetahui tetang kitab dan sunnah tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang ‘alim menurut syariat, meskipun dia mengatahui semua ilmu selain kitab dan sunnah”.

Nasihat Ulama dalam langkah-langkah mencari ilmu

Pertama: Ingatlah selalu keutamaan ilmu dan ahlinya

Tidak ada yang diharapkan dari seorang yang berakal kecuali mendapatkan kemuliaan dalam hidupnya. Dan tidak ada kemuliaan abadi melainkan kemuliaan yang dibangun oleh ilmu, yaitu kemuliaan yang tidak diukur oleh harta dan kedudukan.

Seorang ulama mengatakan:

إن كنت -أيها الأخ- ترغب في سمو القدر، ونباهة الذكر، وارتفاع المنزلة بين الخلق، وتلتمس عزاً لا تَثْلِمه الليالي والأيام، ولا تَتحيَّفُه الدهور والأعوام، وهيبةً بغير سلطان، وغنىً بلا مال، ومنفعةً بغير سلاح، وعلاءاً من غيرِ عشيرة، وأعواناً من غير أجرٍ، وجنداً بلا ديوان وفرض فعليك بالعلم؛ فاطلبه في مظانه تأتِك المنافع عفواً، وتلق ما تعتمد منها صفواً.

“Saudaraku, jika sekiranya engkau mengharapkan derajat yang tinggi, kewibawaan saat namamu disebut, kedudukan terhormat diatara manusia, kemuliaan yang tidak pudar oleh malam dan siang, dan tidak luput oleh pergantian zaman dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, manfaat tanpa senjata, tinggi derajat tanpa bantuan saudara, pertolongan tanpa balasan, anak buah tanpa perkantoran, maka hendaklah engkau dapati itu semua dengan ilmu. Carilah selalu ia dalam hidupmu niscaya engkau akan mendapatkannya sebagai sandaran hidupmu”.

Dan yang lebih besar dari itu semua adalah balasan kemuliaan di akhirta yang dikhususkan bagi mereka yang berilmu, sebagaimana firman Allah:

Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4

“niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu atas orang yang beriman tapi tidak berilmu.

Sedangkan hadits nabi yang menerangkan tentang kemuliaan ilmu diantaranya:

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سلك الله  به طريقا إلى الجنة وإن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يصنع, وإن العالم ليستغفرله من في السماوات والأرض حتى الحيتان في الماء وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب و إن العلماء ورثة الأنبياء, و إنّ الأنبياء  لم يرثوا دينارا ولا درهما وإنما ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر

Barang siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, niscaya Allah akan permudah baginya menuju syurga. Sesungguhnya para malaikan membentangkan sayapnya bagi thaibul ilmi sebagai tanda ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang alim, beristighfar baginya semua yang dilangit dan di bumi hingga ikan paus di laut. Dan keutamaan seorang alim atas seorang abid ibarat kemuliaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham akan tetapi mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil warisan tersebut dengan jumlah yang banyak”.

Ini adalah hadits yang agung yang menerangkan kemuliaan ilmu. Ada beberapa poin yang bisa diambil dari hadits tersebut:

a)      Kemuliaan berihlah mencari ilmu.

b)      Anjuran untuk mencari ilmu dengan serius, yaitu dengan mengharidi majelis ilmu, membaca, mengulang-ulang hafalan serta mentafakuri apa yang sudah kita dapatkan dari ilmu.

c)      Hak-hak yang akan diperoleh bagi penuntut ilmu, diantaranya adalah kemudahan untuk mendapatkannya, dimana ilmu adalah jalan yang memudahkan kita menuju syurga. Sebagaimana firman Allah.

Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah akan memudahkan bagi hamba-hambanya yang serius mencari ilmu untuk mendapatkannya. Disamping itu Allah pun akan memberikan kemudahan kepada para penuntut ilmu untuk beramal dengan apa yang telah dia dapati dari ilmu jika maksud dari mencari ilmu adalah mendapatkan ridha Allah, yang dengan ilmu tersebut dia mendapatkan hidayah-Nya. Allah juga akan memberikan kepada ahli ilmu yang beramal dengan ilmunya ilmu-ilmu lainnya yang bermanfaat baginya. Sebagaimana sabda Rasulullah:

من عمل بما علم أورثه الله علما ما لم يعلم

“Barang siapa beramal dengan ilmunya maka Allah akan memberikan ilmu yang belum ia ketahui”

d)     Ilmu adalah jalan utama yang memudahkan kita untuk mendapatkan syurga. Maka barang siapa yang berjalan mencari ilmu, kemudian dia tidak berpaling dari jalan tersebut, maka ia akan sampai hingga ke syurga. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (al-Maidah 15-16).

e)      Bahwa para malaikat akan membentangkan sayapnya bagi para pencari ilmu

f)       Maghfirah Allah lebih dekat kepada para pencari ilmu, hal ini karena semua makhluk baik di langit atau dibumi, bahkan hingga ikan paus di laut pun beristighfar untuknya juga semut-semut yang berada di sarangnya.

g)      Sebagaimana bintang-bintang cahayanya hanya untuk diri sendiri, begitu juga dengan seorang ahli ibadah yang manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri. Berbeda halnya dengan bulan purnama yang dapat meneragi sekitarnya, maka begitu juga dengan seorang ‘alim yang dapat menerangi orang-orang disekitarnya.

h)      Sebagaimana Rasulullah yang memancarkan cahaya ilmu dan hidayah, maka beliau ibarat matahari. Begitu pula para ulama yang mewarisi ilmu beliau, maka mereka ibarat bulan purnama yang memantulkan cahaya bagi umat ini.

i)        Hadits diatas menjelaskan keutamaan ilmu atas ibadah. Bagaimana tidak padahal seorang salafus sholeh berkata:

تعلموا العلم, فإنّ تعلّمه حسنة و طلبه عبادة و مذاكرته نسبيح و البحث عنه جهاد و تعليمه لمن لا يعلمه صدقة و بذله لأهله قربة.

“Pelajarilah ilmu, karena sesungguhnya mempelajarinya adalah perbuatan ihsan, mencarinya adalah ibadah, menghafalnya adalah tashbih, mencarinya adalah jihad, mengajarkannya bagi yang belum mengetahui adalah shadaqah serta mengupayakannya bagi ahli ilmu adalah qurbah”

Ini menunjukan bahwa ilmu mencakup segala ibadah. Kemudian dilanjutkan dengan perkataannya:

لأنّ العلم سبيل منازل الجنّة و هو الأنيس في الوحدة و الصاحب في الغربة و المحدّث في الخلوة و الدليل على السرّاء و المعين على الضرّاء و الزين عند الأخلاّء و السلاح على الأعداء

“Karena ilmu adalah jalan menuju syurga, teman ketika sendirian, kawan dalam pengasingan, teman berbicara dalam kesendirian, petunjuk dalam kebahagiaan, penolong dalam kesulitan, penghias bagi keluarga dan senjata bagi musuh”

j)    Ulama adalah pewaris para nabi, yang mana mereka adalah utusannya para rasul.   Kedudukannya sama dengan para nabi dalam menyampaikan syariat Allah, maka dari itu Allah menyebut dalam kitab-Nya kata ulama dimana para nabi termasuk didalamnya. Sebagaimana firman Allah:

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran 18)

Pada Ayat ini Allah tidak menyebut nabi, akan tetapi Allah menjadikan para nabi dalam kata ‘Ulama. Maka cukuplah ini sebagai bukti akan mulianya para ulama, yang termasuk didalamnya para nabi.

h)      Ilmu adalah harta yang besar dan mulia yang membuat mulia ahlinya. Maka dari itu Imam Bukhari mengeluarkan hadits dalam Shahihnya:

لا حسد إلا في اثنتين : رجل أتاه الله الحكمة فهو يقضى بها و يعلمها

“Tidak diperbolehkan hasad kecuali dalam dua perkara: Pemuda yang diberi ilmu oleh Allah kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya”.

Kedua: Bacalah sejarah ulama terdahulu, karena hal itu mendorong untuk meningkatkan semangat.

Seorang ulama berkata:

لا تقرن نفسك و لا تزنها بأحد من العصريّين و لو كان عالم العصر بلا منازع, و لكن زنها و زن جدّك في الطلب و مقدار ما حصّلته من العلم بجدّ المتقدّمين و عظيم ما حصلوه من العلوم

“Janganlah engkau temani dirimu dan janganlah hiasi dia dengan sejarah ulama-ulama kini meskipun dia termasuk seorang yang alim yang tidak ada tandingannya. Akan tetapi hiasilah dirimu dan semangatmu dalam mencari ilmu dan kadar  ilmu yang telah engkau dapati dengan semangat para ulama terdahulu dan kebesaran ilmu yang telah mereka dapatkan”.

Hal ini seperti yang dikatakan oleh imam Daruqutny:

من أحبّ أن ينظر و يعرف قصور علمه عن علم السلف فليظر في حديث الزهري لمحمّد بن يحيى الزهري

“Siapa yang ingin melihat dan mengetahui akan lemahnya ilmu dibandingkan ilmu salafus sholeh, maka lihatlah sejarah  Zuhry dalam kita Muhammad bin Yahya az-Zuhry”

Inilah perkataan imam Daruqutny dimana Imam adz-Dzahaby meminum air Zamzam agar bisa menjadi seperti beliau. Dan Imam Adz-Dzahabi dimana Imam Ibnu Hajar minum air Zamzam agar dapat seperti beliau, begitu juga Imam Ibnu Hajar dimana Imam Suyuti meminum air Zamzam agar dapat seperti beliau, dimana masing-masing dari mereka menjadi Imam pada zamannya masing-masing.

Ada banyak faidah yang dapat diambil dalam mempelajari sejarah para ulama salaf. Diriwayatkan bahwa  Imam Abu Hanifah berkata:

الحكايات عن العلماء ومحاسنهم أحبّ إليّ من الفقه, لأنّها أداب القوم و أخلاقهم, أولئك الذين هداهم الله فبهداهم اقتده لقد كان في قصصهم عبرة

“Cerita tentang ulama dan kebaikannya lebih aku sukai dari fiqih, karena didalamnya terkandung adab suatu kaum dan akhlaknya. Kepada mereka Allah memberikan hidayah, maka ikutilah langkah mereka, sesungguhnya dalam cerita mereka terdapat pelajaran berharga”.

Dari beberapa faidah tersebut adalah, menyalakan api semangat dan menghilangkan kemalasan, karena sudah menjadi fitrah bahwa rasa malas pasti akan menyerang kita dalam proses mencari ilmu. Diatara faedahnya juga yaitu menancapkan dan menguatkan diri dari sifat lalai yang menyebabkan kebodohan, menghaluskan hati dan menambah rasa tawadhu, mengajarkan kesabaran dalam menghadapi segala masalah. Karena merekalah utusan para Rasul yang membawa amanah ilmu. Maka tidaklah berlebihan jika ada yang mengatakan:

الحكايات جند من جنود الله يتقوّى بها إيمان المؤمنين

“Sejarah adalah tentara dari tentara-tentara Allah, dengannya keimanan orang-orang beriman menjadi kuat

Ketiga: Berilah kesempatan pada diri untuk menikmati ilmu, karena itulah sebaik-baik kenikmatan.

Ibnu al-Jauzi berkata:

اللذات كلّها حاصلة بين حسيّ و عقليّ, فنهاية اللذّات الحسّيّة و أعلاها النكاح, و غاية اللذّات العقلّة العلم, فمن حصلت له الغايتان في الدنيا فقد نال النهاية, و من عرف لذّة العلم قدّمها على كلّ لذائذ الحسّيّة أعلاها و أدناها, ألا ترى العلماء أعرضوا عن كلّ شيئ من أمور الدنيا استغناء بلذّة العلم, و ذالك أنّ لذّة الحسيّة كالنكاح لذّة غريزيّة جسديّة, و أمّا لذّة العلم فلذّة روحانيّة علويّة. فمن قدّم اللذّة الحسّيّة فهو يمتّع الجسد الفاني فلذّته على قدر محله في الضعف و الفناء, و من قدّم اللذّة العقليّة فهو يمتّع الروح الباقي فلذّته على درجة سموّه من القوّة و البقاء. ومن قدّم اللذّة الحسيّة أصبح باقي الحيوانات, و من قدّم اللذّة العقليّة ارتقى إلى أفضل سمات و صفات البشريّة.

“Semua kenikmatan bersumber dari perasaan dan akal. Puncak kenikmatan rasa adalah nikah, sedangkan puncak kenikmatan akal adalah ilmu. Siapa yang dapat mencapai keduanya, dia telah mendapatkan puncak kenikmatan tersebut. Barang siapa mengetahui nikmatnya ilmu, maka ia akan mengedepankannya dari semua kenikmatan rasa, dari yang kecil hingga yang besar. Tidakkah engkau lihat bagaimana para ulama menolak semua kenikmatan dunia karena mereka merasa cukup dengan nikmatnya ilmu?. Hal tersebut karena kenikmatan rasa, seperti nikah, adalah kenikmatan yang bersifat insting dan “sajady”, sedangkan kenikmatan ilmu adalah kenikmatan ruhany yang tinggi. Barang siapa yang mendahulukan kenikmatan rasa, maka dia memberi kenikmatan kepada jasad yang fana, yaitu kenikmatan yang tidak kekal. Dan siapa yang mendahulukan kenikmatan akal maka dia  memberikan kenikmatan kepada ruh yang kekal, sehingga kenikmatan tersebut akan kekal.  Barang siapa mendahulukan kenikmatan rasa maka dia tidak ada bedanya dengan hewan. Dan barang siapa mendahulukan kenikmatan akal, dia akan naik ke puncak kemuliaan sebagai manusia.

Pada awalnya memang terasa berat untuk bercengkrama dengan ilmu. Rasa malas, suntuk dan sebagainya sering kali menjadi ganjalan bagi para mencari ilmu, akan tetapi inilah jalan yang dilalui oleh para ulama terdahulu, bahkan tidur mereka pun seringkali berbantalkan kitab-kitab, seperti yang terjadi pada Imam Nawawi Rahimahullah.

Keempat: Biasakanlah diri untuk terus mencari ilmu

Rasulullah pernah berkata:

أحبّ الأعمال إلى الله تعالى ما دام و إن قلّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan meskipun sedikit”.

Jika hadits diatas menggambarkan bahwa amalan sunnah yang dilakukan berkesinambungan adalah amalan yang paling dicintai oleh Allah, seperti shaum dan sunnah rawatib. Maka bagaimana jika sekiranya amalan yang dilakukan berkesinambungan tersebut adalah sebaik-baik amalan setelah amalan wajib?.

Kelima: Sesekali naikkan tingkatan mencari ilmu pada tingkatan ijtihad.

Hal ini untuk menghidari budaya taqlid, karena hakikat dari taqlid adalah ketidak pahaman akan sumber ilmu. Jika kita sudah terbiasa mencari ilmu, maka dengan sendirinya kita memasuki area ittba’ , yaitu mengikuti sesuatu dengan memahami sembernya. Marhalah inilah awal dari fase mencari ilmu sebenarnya. Sedangkan marhalah taqlid adalah fase “pemanasan” dari sebuah pencarian. Jika sudah terbiasa dalam marhalah ittiba’ maka dengan sendirinya ia akan masuk pada marhalah ijtihad.  Hal ini tentunya diukur sesuai dengan kemampuannya, karena memaksan diri untuk memahami sesuatu yang belum waktunya hanya akan melahirkan dua kemungkinan, baik itu menjadikan diri masuk dalam kubangan “pemuja akal” atau menjadikan diri tidak tertarik dengan ilmu tersebut. Disamping itu melepaskan diri dari usaha untuk memahami ilmu atau hanya berlandaskan hafalan hanya akan menjadikan diri fanatik. Inti dari semua ini adalah, ketika kita melatih diri untuk menaikan tingkatan kita dalam mencari ilmu, mulai dari  taqlid, ittiba kemudian ijtihad, maka hal itu akan menimbulkan rasa nikmat dalam mencari ilmu, dan manisnya rasa paham, yang dengannya pula semangat untuk terus menammbah ilmu selalu meningkat.

Keenam: Janganlah mencukupkan diri dengan membaca tanpa belajar pada seorang guru begitu pun sebaliknya.

Seorang ulama berkata:

كان العلم في صدور الرجال فصار في الكتب و مفاتيحه بأيدي الرجال

“Ilmu berada di dada seseorang, kemudian berpindah kedalam kitab sedangkan kuncinya berada ditangan mereka”.

Mencukupkan diri hanya dengan membaca tanpa bertanya pada seorang guru bisa mendatangkan kesalahan yang besar, kerena sangat dimungkinkan apa yang kita pahami dari bacaan kita berbeda dengan mereka yang sudah mengetahui lebih dahulu. Dan  lebih berbahaya lagi jika kita mengajarkan kepada orang lain apa-apa yang kita pahami secara salah tersebut.

Pada sisi lain ada juga yang mencukupkan diri hanya dengan menghadiri majelis ilmu tanpa melihat pada buku-buku. Jika majelis tersebut tidak ada, maka ia pun akan berhenti dari proses belajar. Hakikat guru hanyalah sarana untuk membuka pintu ilmu, sedangkan untuk mendalaminya lebuh jauh lagi didapati dari membaca buku, karena tidak ada seorang guru yang mampu mengajari ilmu kepada muridnya secara keseluruhan dari awal hingga akhir, hal ini dikarenakan luasnya ilmu yang jauh melebihi waktu luang dan usia seorang guru. Allah A’lam