Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya

Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya[1] Oleh: Usep Mohamad Ishaq (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, PIMPIN)   Pendahuluan Telah banyak para ‘ulama, pemikir, ilmuwan, dan tokoh kontemporer yang mencoba mengatasi kemunduran ummat Islam yang terjadi saat ini. Kiprah mereka untuk melakukan gerakan perbaikan (ishah) sudah dilancarkan di seluruh dunia Islam berpuluh-puluh tahun lamanya dengan berbagai metoda dan sarana. Meskipun terdapat perbedaan Selengkapnya […]

Konsep Ilmu Dalam Islam, Kekeliruannya dan Dampaknya[1]

Oleh: Usep Mohamad Ishaq (Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, PIMPIN)

Pendahuluan

Telah banyak para ‘ulama, pemikir, ilmuwan, dan tokoh kontemporer yang mencoba mengatasi kemunduran ummat Islam yang terjadi saat ini. Kiprah mereka untuk melakukan gerakan perbaikan (ishah) sudah dilancarkan di seluruh dunia Islam berpuluh-puluh tahun lamanya dengan berbagai metoda dan sarana. Meskipun terdapat perbedaan dalam metoda dan sarana, akan tetapi terdapat benang merah dari pandangan mereka tentang penyebab utama kemerosotan ummat Islam dewasa ini. Sekadar untuk menyebutkan contoh, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan:

Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. (lihat: Nizham al-Islam). Tokoh lain Syaikh Hassan al-Banna dalam  Bayna al-ams wa al-yawm misalnya mengatakan bahwa diantara faktor kemenangan Islam adalah kita mengajak dengan fikrah Islam, suatu fikrah yang paling kuat. Serangan pemikiran barat melalui pendidikan adalah salah satu pintu masuk kehancuran umat Islam. Sayyid Quthb di sisi lain mengatakan bahwa masalah utama yang dihadapi ummat Islam adalah cengkraman pemikiran Barat (lihat: Khashais at-Tashawwur Islamiy wa Muqawwamatuh).

Tokoh pergerakan lain, misalnya Abu’l A’la Mawdudi mengatakan bahwa Penyebab utama keruntuhan ummat Islam adalah serbuan pemikiran dan budaya barat, baik melalui pintu penjajahan fisik maupun non fisik. (Sebagai solusi) diperlukan sejumlah sarjana , intelektual, pemikir dan pembaharu yang berakhlaq terpuji dan semangat tinggi yang mampu menempati berbagai posisi dan jabatan. Mereka bertugas untuk menolak pemikiran Barat yang merusak dan mengambil yang bermanfaat. (lihat: Waqi’ul Muslimin Sabil an-Nuhudh bihim).

Pakar pendidikan Islam Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas secara jeli melihat lebih mendasar, yakni bahwa permasalahannya tidak hanya keterbelakangan dalam pendidikan dan serbuan pemikiran Barat, namun lebih dalam dari itu, serbuan itu telah mengakibatkan kebingunan dan kekeliruan dalam hal ilmu (confusion and error of knowledge).  Menurut al-Attas, akibat dari kebingunan dan kekacauan terhadap ilmu akan menghasilkan kerusakan dan hilangnya terhadap adab (loss of adab). Hilangnya adab dari masyarakat ini memunculkan para pemimpin yang rusak dan palsu dan menghasilkan kebijakan-kebijakan keliru di segala bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Inilah yang disebut oleh al-Attas sebagai vicious circle.

Ringkasan Konsep Ilmu Dalam Islam

Tidak ada agama, ideologi, kebudayaan dan peradaban lain selain Islam yang menempatkan ilmu dalam tempat yang begitu penting. Sebagai gambaran, Rosenthal menuliskan bahwa sekurangnya terdapat 750 kali kemunculan istilah yang berkaitan dengan kata ‘-l-m, jika kita hitung secara kasar bahwa dalam al-Qur’an terdapat 78.000 kata, maka kata yang berkaitan dengan ‘-l-m mengambil satu persennya. Jumlah ini belum termasuk istilah lain yang berkaitan seperti f-q-h, d-b-r, f-h-m, dan ‘-q-l, sebuah frekuensi kemunculan yang tidak biasa di dalam al-Qur’an.[2] Frekuensi kemunculan yang tinggi dan dengan didukung berbagai bukti lain menunjukkan tingginya posisi ilmu di dalam IslÉm, bahkan Allah subhanahhu wa Ta‘ala sendiri mensifati diri-Nya dengan al-‘alim. Terdapat banyak penjelasan tentang hakikat ilmu di dalam IslÉm melebihi apa yang ada dalam agama, kebudayaan dan peradaban lainnya, tidak diragukan lagi hal ini disebabkan oleh kedudukan yang sangat tinggi dan peranannya yang besar.

Barat mempersempit makna ilmu  menjadi sains modern (modern science), yaitu ilmu yang tunduk pada suatu metoda ilmiah (scientific methods: logico-hypothetico-verificatif) dan hanya berhubungan dengan fenomena (sesuatu yang empiris),  dan beranggapan bahwa sains modern adalah satu-satunya ilmu yang otentik.[3] Dengan demikian ilmu-ilmu yang bersumber kepada Wahyu dan berhubungan dengan hal yang gaib menjadi terkeluarkan dari sains dan tidak digolongkan pada ilmu atau tidak ilmiah. Demikian juga ilmu-ilmu yang bersumber dari Kitab Suci al-Qur’an; Hukum yang diwahyukan (shari‘ah); Sunnah; Islam; Keimanan (iman); Ilmu Spiritual  (al-‘ilm al-ladunniyy), Kebijaksanaan (hikmah) dan ma‘rifah, dan lain-lain.

Menurut IslÉm, Ilmu datang dari Allah Tuhan Semesta Alam, dan diperoleh melalui sejumlah saluran yaitu[4]:

  • Berita yang benar dan bersumber dari otoritas (al-khabar ash-shadiq), di dalamnya adalah al-Qur’an dan sunnah.
  • Panca Indera (al-hiss al-mushtarak) yang sehat
  • Akal yang sehat
  • Intuisi

Dengan demikian saluran ilmu (epistemologi) Islam lebih luas cakupannya dari epistemologi Barat. Islam mengakui ilmu yang datang melalui panca indera seperti metoda eksperimental, juga yang datang melalui akal rasional, namun Islam juga menempatkan ilmu yang bersumber pada kitab suci, sunnah pada tempat yang tertinggi. Penempatan sumber-sumber ilmu inilah yang juga disebut adab terhadap ilmu, yaitu mengakui adanya hirarki dalam ilmu dan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang semestinya. Karenannya cakupan ilmu dalam konsep Islam meliputi baik yang bersumber dari al-Qur’an, sunnah dan ilmu-ilmu shar‘ah (yang dikenal masyarakat awam sebagai “ilmu agama”) juga ilmu-ilmu yang mempelajari alam semesta (yang dikenal masyarakat awam sebagai “ilmu dunia”). Dalam konsep Islam tidak ada pemisahan antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”, yang ada adalah adanya pembedaan yang bersifat maratib (derajat) dan prioritas. Karenanya dikenal pembagian ilmu menjadi ilmu fardh ‘ayn dan ilmu fardh kifayah. Atau pembedaan dari segi cara memperolahnya, seperti ilmu mu‘ammalah dan ilmu mukashafah.

Tujuan utama dari pencarian ilmu, juga termasuk ilmu alam (sains), adalah mengenal Allah. Untuk memahami hal ini, kita perlu melihatnya dari aspek bahasa. Terdapat hubungan yang erat antara ilmu (‘ilm),  alam (‘alam), dan al-Khaliq. Untuk menggambarkan secara singkat hal ini, marilah kita lihat kata ‘ilm, sebuah istilah yang digunakan dalam bahasa Arab untuk menunjukkan ilmu. Kata ‘ilm yang berasal dari akar kata yang terdiri dari 3 huruf, ‘-l-m, atau ‘alam. Arti dasar yang terkandung dalam akar kata ini adalah ‘alamah, yang berarti “petunjuk arah”. Al-Raghib al-Isfahani (1997, s.v. “‘a-l-m”) menjelaskan bahwa al-‘alam adalah “jejak (atau tanda) yang membuat sesuatu menjadi diketahui’ (”al-atsar alladzi yu‘lam bihi syai’”). Franz Rosenthal memberikan pandangannya yang menarik, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particulary close and takes on especial significace in the Arabian environment.[5]Jadi kita melihat ada keterkaitan yang erat antara way sign (petunjuk arah) dengan knowledge (ilmu atau pengetahuan). Kemudian‘a-l-m juga ternyata akar kata bagi istilah yang sudah menjadi bahasa Indonesia, yaitu alam atau dalam bahasa arab ‘aalam yang secara umum berarti jagat raya-alam semesta yang mencakup apa yang ada di luar kita afaq atau makrokosmos (al-‘alam al-kabir)  dan juga termasuk apa-apa yang ada di dalam diri kita atau anfus atau mikrokosmos (al-‘aalam al-shaagir), yang dapat dipelajari dan diketahui. Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur’Én dan al-Hadits, bahwa semua benda dan kejadian di alam raya (universe) merupakan ayat Tuhan (tunggal, ayah), yaitu petunjuk-petunjuk dan simbol-simbol Tuhan.[6]

Kini menjadi jelas bahwa tujuan utama dari mencari ilmu adalah mengenal Allah (ma‘rifatuLlah), dan dengan mengenalnya timbul rasa takut dan tunduk kepada-Nya: “sesungguhnya yang takut kepada AllÉh diantara hamba-hamba-Nya adalah para ‘ulama’ (QS. 35:28).  Banyak para ‘ulama’, misalnya Imam al-Ghazali yang memperingatkan agar berhati-hati dalam niat mencari ilmu, dan tidak dibenarkan mencari ilmu untuk tujuan duniawi seperti harta dan kedudukan.[7] Ibn Hazm bahkan mengecam mereka yang mencari ilmu untuk tujuan duniawi, dan mengatakan bahwa dunia bisa dicapai dengan cara yang lebih mudah. Para ilmuwan muslim pada umumnya tidak pernah menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan untuk pencarian ilmu. Sebaliknya, harta dan jabatan adalah sarana untuk pencarian ilmu. Ibnu Rusyd, Ibn Hazm, dan Ibn Khaldun adalah ilmuwan yang berasal dari keluarga kaya. Kekayaannya tidak menghentikan mereka dalam pencarian ilmu. Sebaliknya, al-Jahidz, Ibn Siddah, Ibn Baqi, all-Bajji, adalah beberapa contoh ilmuwan yang miskin, namun kemiskinan tidak menghalangi kegairahan mereka terhadap ilmu. Jadi jelas bahwa harta dan kekayaan bukan tujuan mereka, ada dan tidak adanya harta tidak mengurangi gairah mereka terhadap ilmu. Ada suatu motif yang lebih luhur dalam pencarian mereka terhadap ilmu. Sikap dan pandangan para ilmuwan Islam ini tentu lahir dari sebuah konsep tentang ilmu, lebih luas lagi dari sebuah pandangan hidup, yakni worldview Islam tentang ilmu.

Ilmu erat kaitannya juga dengan pendidikan, namun pendidikan dalam IslÉm bukan terbatas pada transfer ilmu dari guru kepada murid (instruction), pendidikan adalah sebuah proses untuk membentuk manusia yang tidak hanya berilmu namun juga beradab. Karena itulah istilah yang lebih tepat untuk pendidikan adalah ta’dib yang meliputi ta‘lÊm dan juga tarbiyah.[8] Dalam kamus bahasa Indonesia sendiri makna “didik” meliputi “pemeliharaan” dan “pengajaran” sekaligus serta “cara” (berlaku). Sehingga “pendidikan” lebih dekat kepada konsep “ta’dib”. Makna dari “adab” adalah kemampuan seseorang menempatkan sesuatu pada tempat yang benar, atau “cara berbuat yang benar”, “benar” di sini tentu menurut timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena itu tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah ditekankan utamanya membentuk individu yang beradab atau individu yang baik. Seorang individu yang beradab akan mengetahui tempat yang tepat untuk dirinya di dalam masyarakat dan mampu menempatkan orang dengan tepat pula, dari sinilah proses islah itu dijalankan dalam sebuah masyarakat.[9]

Dampak Sekularisasi Terhadap Ilmu dan Dampaknya pada Loss of Adab

Permasalahannya adalah saat ini, istilah-istilah ilmu, pengetahuan, sains (science), informasi, desas-desus, pendapat atau opini, spekulasi dan lain-lain bercampur baur dan disebut ilmu (al-‘ilmu) dan dipercaya sebagai kebenaran. Kekacauan terhadap pemahaman ilmu inilah yang menyebabkan kekacauan dalam tubuh ummat IslÉm, yang memberi dampak pada kekacauan adab, melahirkan pemimpin yang palsu dan kekacauan secara keseluruhan. Prof. Syed MuÍammad Naquib al-Attas menyebutkan:

“Telah banyak tantangan yang muncul di tengah-tengah kekeliruan manusia sepanjang sejarah, tetapi barangkali tidak ada yang lebih serius dan lebih merusak terhadap manusia daripada tantangan yang dibawa oleh peradaban Barat hari ini. Saya berani mengatakan bahwa tantangan terbesar yang muncul secara diam-diam di zaman kita adalah tantangan ilmu, sesungguhnya bukan sebagai lawan kejahilan, tetapi ilmu yang difahami dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat; hakikat ilmu telah menjadi bermasalah karena ia telah kehilangan tujuan hakikinya akibat dari pemahaman yang tidak adil.”[10]

Bagian-bagian utama dari dimensi sekularisasi adalah: ‘penghilangan pesona dari alam tabii’ (disenchantment of nature), peniadaan kesucian dan kewibawaan agama dari politik (desacralization of politics) dan penghapusan kesucian dan kemutlakan nilai-nilai agama dari kehidupan (deconsecration of values)[11]. Hal ini membawa dampak hilangnya wahyu sebagai sumber ilmu dan akal dan pancaindera digunakan alat pencarian kebenaran satu-satunya. Karena “keraguan” (doubt) dipakai sebagai metoda berfikir. Hilangnya wahyu ini membawa dampak pada relatifnya nilai-nilai moral dan kebenaran. Ilmu (sains modern) dilepaskan dari kerangka metafisikanya atau kerangka agama. Sains dipakai semata-mata untuk tujuan duniawi tanpa ada kaitan dengan nilai-nilai moral ilahiah. Di wilayah politik, lahirnya demokrasi sebagai ideologi adalah keinginan manusia untuk lepad dari otoritas Tuhan dan nilai-nilai yang membelenggunya. Akhirnya keberhasilan sekularisasi politik  berimplikasi pada terkikisnya tatanan akhlaq, etika dan moral politik kontemporer yang merupakan esensi dari ajaran agama (Islam) itu sendiri. Dengan demikian jadilah para politisi terjun bebas ke jurang nalar machiavelis ”al-ghayah tubarriru al-wasilah” (tujuan dicapai dengan cara menghalalkan segala macam cara).[12]

Prof. Al-Attas mengidentifikasi bahwa kebingungan dalam ilmu dan pandangan alam (worldview) IslÉm menghasilkan pemimpin-pemimpin palsu muncul dan berkembang serta menimbulkan keadaan ketidakadilan dalam berbagai bidang. Ketidakadilan ini tetap berlangsung dalam tubuh ummat meskipun para pemimpin itu  berganti. Al-Attas mengurutkan kerusakan dalam ummat sebagai berikut:

  1. Kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu yang menyebabkan keadaan:
  2. Kehilangan adab di kalangan Umat. Keadaan yang timbul dari (1) dan (2) adalah:
  3. Kemunculan pemimpin-pemimpin yang tidak layak untuk kepemimpinan yang sah bagi umat IslÉm, yang tidak memiliki taraf moral, intelektual dan spriritual yang tinggi yang disyaratkan untuk kepemimpinan IslÉm, yang melestarikan keadaan pada (1) di atas dan menjamin penguasaan urusan Umat yang berkelanjutan oleh pemimpin-pemimpin seperti mereka yang menguasai semua bidang.

Semua akar dilema umum kita di atas adalah saling bergantung dan merupakan suatu lingkaran setan (vicious circle). Tetapi sebab utama adalah kekeliruan dan kesalahan dalam ilmu, dan guna mematahkan lingkaran setan tersebut dan menyelesaikan masalah ini, pertama-tama kita harus menangani masalah hilangnya adab, karena tidak ada ilmu yang benar dapat dikuasai tanpa pra-syarat adab pada penuntutnya dan kepada siapa ilmu itu diberikan. Secara ilustratif lingkaran setan tersebut digambarkan di bawah.

Proses ishlah (perbaikan) terhadap ummat harus diselesaikan melalui pendidikan (ta’dib), terutama sekali pada tinggkat pendidikan dewasa (tinggi).

Wallahu a’lam bishawab


[1] Kursus Penyelenggaraan Proyek Islamisasi ilmu Pengetahuan Kontemporer di Universitas-Universitas Sekuler di Indonesia (IUS Indonesia) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, UPI Bandung Mei 2011.

[2] Rosenthal, Franz. Knowledge Triumphant The Concept of Knowledge in Medieval Islam. Brill. pp. 19.

[3] Disebut sains Barat modern karena dalam pandangan Barat pun pada awalnya sains (scientia) tidak dibatasi pada cakupan sains modern seperti saat ini, science juga mencakup divine science. Secara bahasa, awalnya scientia, logos, knowledge adalah sama yakni pengetahuan.

[4] Lebih lanjut tentang sumber ilmu menurut Islam, lihat karya Prof. Al-Attas Islam and The Philosophy of Science dalam Prolegomena to The Metaphysics of Islam pp. 111-142.

[5] Rosenthal, Franz, “Triumphant of Knowledge”, hlm. 10.

[6] Contoh dari ayat-ayat Tuhan itu adalah ali-Imran 190; Yunus 5-6; al-Hijr 16, 19-23, 85; an-Nahl 3, 5-8, 10-18, 48, 65-69, 72-74, 78-81; al-Anbiya 16; al-Naml 59-64; Ghafir, al-Mu’min 61; al-Mulk 2-5, 15, dan Fushilat 53.

[7] Al-GhazÉlÊ, BidÉyat Al-HidÉyah, DÉrul Kutub Al-IslÉmiyah. Hlm. 8.

[8] Daud, Wan Mohd Nor Wan. The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib Al-Attas.  ISTAC 1998, pp. 134.

[9] Contoh yang baik bagaimana proses iÎlah yang dimulai dari pendidikan adalah kasus direbutnya Palestina oleh ØalahuddÊn al-Ayyubi dalam buku “Haakadza dhahara jÊlu ØalahiddÊn” yang akan dibedah nanti.

[10] al-Attas, Syed MuÍammad Naquib, Islam dan Sekularisme, Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan, hlm.  169.

[11] Al-Attas, S.M.N. Islam and Secularism. ISTAC. pp. 18

[12]Disampaikan dalam kuliah umum yang diselenggarakan di Auditorium Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada hari Sabtu 13 Desember 2008, dengan tema ”Dewesternisasi, Dekolonisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan